Selamat Hari Raya!

NDAK terasa, Linimasa sudah melewati hampir satu siklus hari raya di Indonesia dalam setahun. Setidaknya dengan perayaan hari besar utama enam agama yang diakui di negara ini. Mulai Natal, Tahun Baru Imlek, Nyepi, Paskah, Vesak, dan sebentar lagi Idulfitri, yang sejak beberapa tahun terakhir selalu diwarnai pembahasan soal arti kata “fitri” di media sosial. Begitu seterusnya, dan seterusnya.

Dalam waktu hampir satu siklus itu pula, terasa makin banyak yang tanpa sadar bersikap seolah menegasikan kata “raya” dari “hari raya”. Ritual menjadi sekadar seremonial. Gaya lebih penting ketimbang makna. Hari besar keagamaan dititikberatkan sebagai angka merah di lembaran kalender, alias hari libur tahunan. Dan sejauh ini cuma Lebaran doang yang tanggal merahnya dua kali berturut-turut, belum ditambah cuti bersama.

Selebihnya, hari raya keagamaan menjadi momen yang harus ditandai dengan jamuan tiada henti dan saling melakukan kunjungan (walaupun sebenarnya setiap hari juga ketemu). Lalu ujung-ujungnya tidak jauh berbeda seperti anak-anak yang ikut dalam kemeriahaan hari raya, tanpa sepenuhnya mengerti apa yang sedang dirayakan dan mengapa harus dimeriahkan.

Ada yang memilih memanfaatkan hari libur tersebut untuk berpelesir sekeluarga. Ndak salah kok. Ada juga yang memberdayakannya untuk pulang ke kampung halaman dan bertemu orang tua maupun sanak keluarga. Tentu diharuskan, karena bisa membahagiakan. Akan tetapi tak sedikit pula yang merasa harus menyelenggarakan open house nan gegap gempita biar tidak digunjingkan tetangga. Lengkap dengan dua ekor kambing guling lapis madu. Plus, eksterior dan interior kediaman pun harus dipercantik sedemikian rupa. Alasannya sederhana: biar menjaga muka di depan tetangga, supaya ndak malumaluin. Ya urusan dan hak masing-masing.

Bila masih mengambil contoh Lebaran, di sisi lain tidak sedikit yang setelah Salat Id dan sungkeman dengan keluarga inti, makan secukupnya, lalu melipir ke luar atau malah istirahat di kamar sendiri dengan alasan capek. Kian males gara-gara bakal mendapatkan pertanyaan andalan: “kapan kawin?” Jadi, nuansa silaturahmi dan perayaan atas momen keagamaan, kalah dengan “nikmatnya” ngepoin atau mencibir kehidupan orang lain. Kalau sudah begini, rasanya wajar apabila makin lama makin banyak yang kehilangan antusiasme berhari raya. Lantaran keadaan hidup masa kini terlalu cadas untuk dilawankan dengan kegembiraan hari raya.

Bagi anak muda yang sekarang  berkuliah atau kerja di luar kota maupun beda pulau, ada saja yang hanya fokus pada mudik di momen hari raya. Padahal kalau bisa sih enggak mau balik, atau merasa enggak perlu balik. Pertama, lantaran yakin sang orang tua bakal baik-baik saja dan bisa mengunjungi instead of dikunjungi. Kedua, ya males. Jadi, kalaupun mudik ke kampung halaman, demi menghindari serapahan: “durhaka!” Bukan pengin berhari raya.

Jangan keburu gusar. Keadaan seperti ini ndak cuma terjadi saat Lebaran aja. Nyaris semua kok, pada beragam umat beragama, yang muda-muda khususnya. Meskipun tidak menutup kemungkinan, ada yang tetap mencerapi hari raya sebagai momen spiritual. Ketika seseorang yang beragama kembali mendapatkan penguatan keimanannya.

Okedeh, coba kita kembali berpikir seperti anak kecil, dan bertanya “apa yang dirayakan saat hari raya?”

  • Idulfitri
    Merayakan tuntasnya puasa Ramadan–menang “berperang” dengan hawa nafsu. Rangkaian ibadah selama sebulan penuh. Khusus di negara Melayu, dibarengi dengan tradisi bermaafan yang (semestinya) tulus ikhlas. Lengkap dengan makan-makan dan ngider.
  • Natal
    Memperingati kelahiran Yesus Kristus menurut kepercayaan umum Kristiani (Konsili Nicea II). Merayakan datangnya Sang Juru Selamat.
  • Tahun Baru Imlek
    Peringatan pergantian tahun dalam penanggalan Imlek. Dirayakan sebagai momen kumpul keluarga, dan bersembahyang kepada leluhur. Dijadikan salah satu hari raya utama umat Khonghucu. Lebih identik dengan membagi hongbao.
  • Nyepi
    Menyambut pergantian tahun dalam penanggalan Çaka, dilalui dengan melakukan Catur Brata Penyepian untuk refleksi dan menyucikan diri. Perayaan berupa jamuan makan dan saling mengunjungi dilakukan setelahnya. Mengikuti kebiasaan orang Indonesia pada umumnya. Tidak dikenal dalam tradisi Hindu India.
  • Paskah
    Memperingati kebangkitan kembali Yesus Kristus dari kubur batu. Diawali dengan rangkaian Rabu Abu, puasa khusus, Kamis Putih, Jumat Agung, hingga Minggu Paskah. Peringatan yang biasanya tanpa jamuan makan dan saling anjangsana.
  • Vesak
    Memperingati kelahiran calon Buddha, pencapaian kebuddhaan, dan wafatnya Sang Buddha. Jelas tanpa makan-makan, karena memang bukan perayaan. Namun berbeda dengan umat Buddha non-Tionghoa di Indonesia, yang merasa Vesak adalah riyaya-nya, dianggap bagian dari identitas sosial. Jatuh pada hari dengan perhitungan tersendiri di Indonesia, berbeda dengan perayaan di negara-negara lain.

Dari enam contoh hari yang dibuat raya tersebut (selain berbagai hari raya keagamaan lainnya), sudah jelas mana yang merupakan peringatan dan perayaan. Sehingga akan jauh lebih patut, apabila dilalui dengan sebagaimana mestinya, serta menghindari hal-hal yang tidak perlu. Kendatipun pada akhirnya, tetap terserah Anda ingin menyikapi seperti apa.

Terlepas dari semua di atas, selamat berhari raya.

Selamat berlibur. 🙂

[]

Posted in: @linimasa

2 thoughts on “Selamat Hari Raya! Leave a comment

Leave a Reply