Katak Dalam Tempurung Menggugat

1985, Dunia Fantasi (Dufan) Ancol baru saja dibuka. Seluruh anak-anak Nusantara saat itu ingin mengunjunginya. Bagi yang cuma pernah mendengar Disneyland yang di Amerika, maka ini kesempatan untuk mencicipi Disneyland versi Indonesia. Bagi yang belum punya referensi apa pun, maka Dufan bagaikan dunia baru yang belum pernah dikunjungi sebelumnya. Bagi yang sudah pernah ke Disneyland yang asli, maka Dufan adalah KW.

Menjelang Natal, seperti sudah tradisi banyak umat Nasrani yang ingin berbuat baik lebih banyak. Salah satunya menyenangkan anak-anak panti asuhan. Yang terkenal pada saat itu Pondok Si Boncel yang dikelola ordo Vincentius. Maka berembuklah orang tua dan remaja Gereja memikirkan apa yang akan dilakukan agar anak-anak panti asuhan berbahagia. Salah satunya adalah, mengajak mereka ke Dunia Fantasi.

Terbayang jelas sudah kebahagiaan wajah anak-anak yatim piatu yang seumur hidupnya belum pernah ke Dufan. Dan sajian apa yang akan dihidangkan untuk melengkapi satu hari yang penuh kemeriahan itu. Transportasi yang aman dan memadai. Sampai satu anak satu penjaga dewasa pun sudah dipikirkan agar semua anak aman. Maklum saat itu belum ada handphone. Anak hilang di keramaian, berabe urusannya.

Setelah mendengar segala usulan yang disampaikan, Pastur Ketua Panti Asuhan menolak dengan halus. Sambil mengangguk seolah memahami maksud baik itu.

“Anak-anak ini belum pernah ke Dufan, itu benar. Anak-anak akan sangat berbahagia di Dufan nanti, itu pasti. Tapi itu hanya sehari. Bagaimana dengan hari-hari berikutnya saat mereka kembali ke Panti? Mereka tidak seperti anak-anak lain yang bisa minta ke orang tuanya untuk ke Dufan di akhir pekan. Kalau sesudahnya mereka terbayang-bayang keseruan Dufan, namun faktanya mereka harus terkurung di Panti ini, maka Panti ini akan menjadi seperti Penjara yang membelenggu. Bukan lagi taman bermain dan belajar yang selama ini kita usaha untuk ciptakan.”

Adiksi. Keinginan terus menerus. Kenikmatan yang terus didambakan. Tidak akan ada kalau tidak dimulai. Makanya jangan memancing untuk memulai. Kerena semua adiksi pasti akan menjadi beban bagi kehidupan. Dan bukan tidak mungkin membuat kita membenci kehidupan saat ini.

Kebiasaan merayakan ulang tahun, misalnya. Karena sejak kecil sudah dirayakan, saat tidak ada perayaan karena satu dan lain hal, bisa menjadi duka yang mendalam. Kebiasaan membeli baju Lebaran yang suatu saat terhenti, akan menyisakan rasa kehilangan. Kebiasaan makan dessert setelah makan utama, akan memberikan rasa “ada yang kurang” saat tiada. Dan kebiasaan-kebiasaan lain yang kalau dipikir-pikir sebenarnya hanyalah buatan kita semata.

Travelling, berjalan-jalan mengitari Bumi, semakin banyak yang melakukannya. Melihat negara-negara lain yang selama ini cuma bisa dilihat di buku atau film. Mencicipi beberapa hari kota di negara maju yang rapih, tertib dan bersih. Menikmati keindahan pantai terkenal di dunia yang terawat. Menonton pertunjukkan dengan sound system kelas dunia. Mencicipi kopi terbaik di dunia. Bertemu bintang kelas dunia. Menjadi warga dunia.

Sekembalinya ke Tanah Air, ada dua kemungkinan besar. Biasa-biasa saja kerena menilai perjalanan yang baru didapatkan memang hanya sementara. Atau menjadi membenci kota tempat tinggalnya.

“Jakarta macet dan jorok banget, gak kayak di DreamCity yang bersiiiiih banget, bahkan toilet umumnya aja bersih loh!”

“Aduh kalah lah pantai di Bali mah…. Mungkin secara bentukan pantai Bali menang, tapi di WishBeach ini tuh bersih banget. Dan gak ada tuh beach boys kampungan yang ganggu kita pas jemuran pake bikini.”

“Yaelah… baru bisa nonton di GKJ aja mah gak usah bangga deh… Gak usah ngomongin sound system, bangkunya aja bikin pantat sakit! Bedanya kayak langit dan bumi lah sama HopeTheatre yang semuanya tuh sempurna banget! Kita ngantri aja gak berasa saking kerennya.”

Perlahan namun pasti, yang ada di sekitar kita menjadi kurang sesuai standar karena sudah ada referensi yang lebih baik. Kita jadi menginginkan lebih dari apa yang sudah ada. Untuk kemudian menjadi kurang berbahagia karena sudah memiliki keinginan lebih.

katak

Tidak pernah melihat dunia luar pun, bisa menjadikan kita seperti Katak dalam Tempurung. Tidak punya referensi. Tidak punya keinginan untuk lebih baik. Tidak punya tuntutan dan ambisi. Tidak punya harapan. Nrimo. Walau kalau Katak bisa berbicara mungkin dia akan berkata “biar kata dalam tempurung, gue bahagia aja tuh jek. lagian hari gini kan ada internet. ke mana aja Ente?”

Iklan

2 thoughts on “Katak Dalam Tempurung Menggugat

  1. Selalu optimis dengan menambah wawasan akan kenyataan perbedaan akan membawa perubahan dan kreativitas kearah yang lebih baik dengan pemahaman yang baik.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s