Kita Sampai Di Sini

Yang namanya putus cinta, nggak pernah ada yang nggak bikin sakit hati.

Meskipun kita bisa atau paling nggak pernah ngomong “kami putus baik-baik”, pada awalnya tidak ada yang baik-baik. Pasti pernah sedih. Pasti pernah menangis. Pasti pernah merasa sendiri.

Meskipun Adele atau Sam Smith bisa jadi kaya raya dan meraih banyak Grammy Awards atas lagu-lagu yang dibuat karena patah hati, ada proses panjang yang dijalani. Sebelum lagu-lagu mereka bahkan selesai ditulis, baik Adele atau Sam Smith juga pernah guling-gulingan gak jelas di kasur sendirian di akhir pekan dengan mata sembab.
Sama dengan yang dilakukan milyaran orang lain di belahan dunia mana pun, baik itu mbak Ngatinem di desa Watugong, ato nona Marimar di Caracas.
Yang satu mungkin diputusin pacarnya sebelum bulan puasa. Jadinya lebih milih nyuci piring di dapur pas Lebaran, biar gak ditanyain “pacarnya mana? Kapan kawin?” sama keluarga besar waktu selesai sungkeman.
Yang satu lagi mungkin putus beberapa hari sebelum Natal. Jadinya lebih milih nyuci piring di dapur pas keluarga besar berkunjung di hari Natal, biar gak ditanyain “pacarnya mana? Kapan kawin?”

Nggak ada bedanya, kok.

Yang membedakan cuma satu: bagaimana kita keluar dari kesedihan.
Everybody likes a heartbreaking love story, but everybody loves survival stories the most.

Sudah cukup lama saya tidak melihat film ini, An Unmarried Woman. Filmnya bercerita tentang Erica (Jill Clayburgh) yang tiba-tiba diceraikan suaminya yang ingin menikah lagi dengan perempuan yang lebih muda. Hidup Erica mendadak jadi limbung. Kenyamanan yang didapat dari bertahun-tahun hidup dalam pernikahan, hilang begitu saja. Dia sedih. Namun tidak lama, dia tiba-tiba menjadi liar, karena mendapat kebebasan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
Dalam masa penyesuaian menjadi perempuan lajang kembali, dia bertemu dengan seniman asal Inggris bernama Saul (Alan Bates). Hidup Erica mendadak jadi berwarna. Namun dalam usia yang sudah tidak muda lagi, Erica bertanya-tanya lagi tentang keputusannya menjalin hubungan asmara dengan Saul.
Dan akhirnya, di bagian akhir film yang cukup memorable, Erica membawa lukisan yang cukup besar sendirian, menyusuri jalanan di kota New York, dan melihat refleksi dirinya di sebuah kaca yang besar. Ada semangat baru dalam diri Erica di sana. Semangat yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.

An Unmarried Woman (Film Comment)
An Unmarried Woman (Film Comment)

Lalu saat film ini berhenti dan menampilkan end credits, kita tahu bahwa film ini memberikan a hopeful ending. Bukan sebuah akhir yang jelas. Bukan sebuah akhir yang menutup kesempatan kita menginterpretasikan secara bebas. Bukan juga a happy ending.

After all, being hopeful makes us carrying on living.
Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi setelah kita mengambil keputusan terhadap suatu pilhan. Kita cuma bisa berharap.

Dan harapan itulah yang menguatkan.

Saya tidak kenal dengan semua tokoh yang tertulis di atas, tapi saya kenal dengan Mr. X, teman saya selama hampir dua dekade.
Persahabatan kami cukup dekat, sampai saya tahu semua mantan pacar dia selama ini. Kata “tahu” di sini berarti paham akan semua drama terhadap masing-masing mantan pacarnya.
Kadang-kadang saya mixed up nama pacarnya dan tahun pacaran, lalu dia membenarkan dan menambahkan detil baru yang tak pernah saya dengar sebelumnya.
Intinya, Mr. X dan “singlehood” adalah dua hal yang tidak pernah bisa bersatu.

Kalau dirangkum percakapan kami selama beberapa tahun, kurang lebih seperti ini:

Saya: “Kamu ndak pernah capek tho, pacaran, putus, trus langsung pacaran lagi?”

Mr. X: “Yo wis ben. (Ya udah sih. Dia orang Jawa. Cukup tinggi. Mapan. Lho kok promosi?) Mumpung masih ada yang mau. Hehehe.”

“Abis putus, gak mau menyendiri dulu, gitu? Kan ya itu tadi, capek. Apalagi habis putus. Pasti bawaannya marah mlulu.”

Sorry, but … I cannot afford to be alone. That’s the truth. (Kadang-kadang orangnya suka ngomong bahasa Inggris. Pake aksen British pula. Lho kok masih promosi?) Aku nggak biasa ngapa-ngapain sendiri. Males. Lebih baik ada yang bisa diajak sharing. Makan bareng, nonton bareng, pergi liburan bareng. Lagi pula, it’s just nice having someone to look forward to every day, every time.

“Dan kamu gak pernah capek buat cari yang baru?”

“Gini. Gak ada orang yang mau putus. Semua orang pengen punya one big shot at relationship, and then, boom! It works! For the rest of our lives!
Tapi berapa banyak yang bisa seperti itu? Dan kalau tiap abis putus, kita menyerah, sampai menyatakan bahwa “that’s it! It’s over! I’m done with guys, girls, men, women, or anything!”, lalu hal itu kejadian beneran, apa gak nyesel nantinya? Katanya ucapan adalah doa. Berarti kalo kejadian, kita akan menghabiskan sisa hidup ini sendirian, gitu? Ditambah lagi, kenangannya jelek pula. Gak ada yang mau kenangan atau memory of relationship terakhirnya adalah relationship yang gagal. Gak ada yang mau kayak gitu. For sure, I don’t want that. But if it happens, time to make a new one. The hope is always there.

“Hmmm. Kok ndak masuk akal ya?”

“Yang namanya cinta, ya gitu itu. Love, hope. Do they ever make sense?

Iklan

11 thoughts on “Kita Sampai Di Sini

  1. sebagai #JombloRamadhan yang terakhir kali putus saat liburan, membaca tulisanmu ini sungguhlah menggugah.

    menggugah untuk kembali berharap ada yang mencintai ku sebesar aku mencintainya.

    *pas iPod muter Gravity nya Sara Bareilles

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s