Sungkan: Sungguh Mengharapkan

SUNGKAN. Sesuatu yang entah lebih tepat diposisikan di mana. Sebagai bagian dari khazanah budaya Nusantara yang adiluhung, pembawaan individual yang terbentuk lantaran banyak faktor, atau ternyata merupakan sikap cenderung negatif yang penuh pretensi dan selama ini terpelihara atas nama adat. Sehingga pantas diberangus dan dihilangkan.

Negatif di sini dalam artian, kesungkanan hanyalah bentuk santun dari sikap munafik (mau tapi bilang tidak mau, perlu tapi bilang tidak perlu, suka tapi bilang tidak suka, dan seterusnya) apa pun alasannya. Malu-malu kucing garong, menolak ketika ditawari, tapi kemudian malah bawa sangu saat pulang. Kepura-puraan yang seolah diperkenankan dalam lingkaran masyarakat bangsa ini. Pelicin menuju tindakan oportunis seoportunis mungkin. Minim manfaat selain upaya pencitraan diri. Ya 11-12 dengan tindakan berbasa-basi, yang dimunculkan sebagai bentuk kesopanan non/verbal ala Indonesia, walaupun aslinya retoris dan tidak informatif. Minimal, tidak berdosa bila dilewatkan dan tak ditanggapi.

Di samping itu, kesungkanan juga kerap bertele-tele, menyusahkan diri sendiri maupun orang lain, dan sejatinya menghambat atau memperlambat apa pun yang sedang berlangsung. Membuang-buang waktu serta tenaga. Misalnya, ketika seseorang menawarkan sesuatu kepada orang lain, dan ditolak dulu sampai tiga kali, baru akhirnya diterima juga. Bahkan dalam banyak kasus, sampai-sampai si penawar terkesan memaksa atau nyaris memohon, insisting. Proses “tawar menawar” pun umumnya cukup menyita waktu.

Contoh lainnya, ketika diundang ke pestanya gebetan. Di sana sungkan makan banyak, takut dianggap rakus, padahal belum tentu ada yang peduli, dan ketimbang kateringnya mubazir. Setelah bubar, langsung melipir ke Kang Nasi Goreng Kambing, balas dendam. Seakan sengaja menyiksa diri sendiri.

Oya, juga contoh yang satu ini, benar-benar bikin merugi. Biasanya terjadi dalam ruang kelas atau perkuliahan. Saat kurang paham penjelasan dari guru atau pemateri, dan kemudian diberi kesempatan bertanya, eh malah diam. Sungkan bertanya cuma gara-gara tidak mau dianggap bego. Belum tentu yang lain diam karena paham, bisa jadi gegara gengsi yang sama, atau malah sama sekali ndak ngerti, total blank. Akhirnya, semua tidak paham. Sesi pelajaran berujung sia-sia.

Namun tidak adil rasanya, kalau semua orang yang sungkanan langsung dicap kurang baik tanpa memastikan motivasi dan alasan yang melatarbelakangi sikap tersebut. Tidak bisa asal vonis begitu saja sih, seyogianya dimengerti dahulu meskipun ndak perlu pakai dalil-dalil teori Sosiologi maupun Antropologi Budaya.

Sampai ada quotes-nya.

“Kalau sungkan-sungkan, nanti kamu enggak kebagian.”

“Supaya bisa survive di sini, buang jauh-jauh itu sungkan.”

Bila kita sejenak bermain-main dengan makna denotatif dan konotatif dalam kaidah bahasa Indonesia, barangkali perbedaan itu yang sedang berlangsung atas sikap sungkan. Pasalnya, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki tiga definisi:

  1. Malas mengerjakan sesuatu, enggan;
  2. Merasa tidak enak hati;
  3. Menaruh hormat, segan.

Definisi nomor 1, jelas bernada sumbang. Sungkan karena malas, berarti memang niatnya ndak mau. Jadi, bila pada akhirnya dilakukan atau diterima juga, berarti tidak sepenuhnya rela. Tidak sincere. Berbeda dengan definisi nomor 2, apalagi nomor 3.

Kalau tidak enak, ya kasih kucing. Namun kalau rasa hati yang tidak enak, berarti urusannya sudah personal. Sungkan karena tidak enak hati, berarti ada yang kurang sreg dan tak bisa dipaksakan. Sementara kalau sungkan karena hormat, sudah jelas berarti ada kualitas-kualitas tertentu yang dirasa tak/belum terjangkau oleh kita. Sehingga sikap sungkan sudah sepatutnya dilakukan. Kurang lebih begitu.

Herannya, kenapa dari tiga definisi di atas tidak ada satu pun yang menyenggol soal rasa takut (malu dan sebagainya)? Cuma para penyusun isi kamus saja yang paham alasannya kali.

Terlepas dari beragam argumentasi tadi, bisa jadi pemaknaan asli dari sikap sungkan bisa tercapai apabila kedua belah pihak saling menyadari dan tahu diri. Si pemberi benar-benar ikhlas menawarkan, bukan sekadar tata krama yang tanpa antisipasi, sedangkan si penerima paham soal batas kewajaran. Sehingga bukan menjadi ajang adu gengsi, momen mencari muka, atau sebagainya. Soalnya, kasihan orang-orang yang memang terlahir dengan tabiat mudah sungkan, bakal dikira sungkan bohongan. Kena imbasnya.

Lalu, mengapa saya tiba-tiba membicarakan hal ini? Entahlah. Mungkin saya salah, tapi sebagai seseorang yang merasa “anak daerah”, saya sering dikritik tiap kali bersikap sungkan. Utamanya kala berada di antara teman-teman dengan pikiran yang lebih terbuka dan sifat ceplas-ceplos, terlebih para warga ibu kota, atau yang belum akrab benar. Padahal saya sungkannya sungguhan, benar-benar karena takut bersikap konyol. Takut ngisin-ngisini. Perkaranya, old habits die hard. Sudah jadi perilaku, tertanam di bawah sadar (sok tahunya sih). Kecuali kalau sudah akrab banget, atau terbiasa serampangan dengan yang bersangkutan. Pasti dijamin ndak bakal sungkan. Bukan malu-malu, melainkan malu-maluin. Dijamin. Hahaha

[]

Iklan

4 thoughts on “Sungkan: Sungguh Mengharapkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s