Lumpuh

Apa yang salah dengan menjadi konsumtif? Kita perlu atau merasa perlu sesuatu, ada yang jual, kita ada uangnya, bisa beli, habis perkara. Apa kita tidak perlu menghiraukan cibiran orang-orang yang bilang kita konsumtif? Bisa jadi mereka resek aja, atau sirsak tanda tak mango (sirik tanda tak mampu).

Benar bahwa hampir semua kebutuhan bisa dibeli. Berupa barang, teman sampai kepuasan birahi semua bisa dibeli. Yang bilang kebahagiaan tidak bisa dibeli, bisa jadi tidak mengerti kenikmatan berbelanja pakaian dan sepatu terkini. Sensasi ketika pertama kali membuka boks dan kemudian kepuasan batin saat mengenakannya. Bahwa kemudian hanya sesaat, siapa peduli? Nanti bisa beli lagi. Dan itu semua sah saja kan. Toh tidak ada yang abadi di dunia ini.

Ingin jalan-jalan? Tak perlu repot mengatur atau memutuskan mau ke mana. Lupakan keribetan membuka peta. Kini ada yang menjual jasa untuk mengantar dan membawa ke mana pun kita ingin berjalan-jalan. Ingin mengatur keuangan? Tak perlu lah membaca berita terkini. Ada layanan jasa finansial yang bisa memberikan saran dan laporan mengenai keuangan Anda. Ingin menata rumah? Tenang… tak perlu lagi menjelajah ke Ciputat untuk mencari funitur sendiri. Ada layanan disain interior yang bisa dengan cepat memberikan hunian persis seperti yang Anda impikan.

Syaratnya ya cuma satu; Uang. Selama ada uang, semua bisa didapatkan. Semakin banyak uangnya semakin mudah mendapatkannya dan semakin persis impian. Setelah bekerja keras mencari uang, wajar dong kalau kita ingin menikmatinya secara maksimal. Tidak ada uang? Tidak masalah. Sekarang ada layanan pinjaman tanpa agunan. Kalau pun kepepet ada kartu kredit yang bisa membelikan dahulu kebutuhan dan keinginan kita.

Dengan semua kemudahan dan fasilitas yang tersedia, semua tinggal beli, mengapa belakangan kita lebih sering mendengar kata “bosan” terlontar di sekitar kita? Bosan dengan pekerjaan. Bosan dengan kehidupan. Bosan dengan pacar. Bosan dengan dandanan. Bosan dengan kebosanan. Dan perlahan pagi tak lagi disambut dengan harapan. Walau sudah bangun di kamar tidur dengan dekorasi sesuai impian. Dari bosan kemudian merambah jadi malas. Dari malas kemudian menjadi putus asa.

Tersedianya semua hal di sekitar kita, sehingga kita jadi tinggal beli, tanpa kita sadari telah melumpuhkan diri kita. Kita tidak lagi sadar bahwa banyak dari yang kita bisa beli, sebenarnya bisa kita bikin sendiri. Kita perlahan mulai meragukan kemampuan kita untuk memproduksi. Perasaan tidak berbakat dan tidak mampu berbuat, perlahan menjadi kenyataan.

Belakangan kita sering mendengar cerita nyata, orang yang membuang pakaian yang baru dipakai sekali karena kancingnya copot dan tak bisa mengganti kancing sendiri. Teman kelaparan di kos karena saat sedang sakit sementara menyalakan kompor pun tak bisa. Kelimpungan tengah malam karena pipa bocor. Menginap di hotel karena rumah sedang mati listrik. Beragam kemampuan dasar “survival” yang perlahan lenyap karena terbiasa “tinggal beli”.

Apa yang kemudian terjadi pada masyarakat yang merasa tidak mampu berbuat? Kehilangan percaya diri. Saking tersedianya segala jenis makanan dijajakan di sekitar kita, kita tidak lagi merasa butuh untuk memasak. Beragam jenis pakaian yang ditawarkan, membuat kita merasa tak lagi perlu belajar menjahit. Silakan kalau mau tidak percaya, tapi banyak diantara kita yang tak tahu bagaimana memasak nasi, walau menggunakan rice cooker sekali pun. Ketakutan menyalakan kompor karena mengeluarkan api. Alergi melihat jarum jahit.

Di belahan dunia yang peradabannya lebih maju, telah menyadari ancaman kelumpuhan ini. Anak-anak kembali diajarkan untuk menciptakan sendiri kebutuhan hidupnya. Ya tentu tidak membangun rumah dan membuat sepatu sendiri. Tapi kebutuhan sehari-hari yang mampu disediakan sendiri. Dengan kata lain, kemampuan untuk menolong diri sendiri.

Menolong diri sendiri untuk tetap makan sehat, walau uang sedang menipis. Menolong diri sendiri untuk tetap berolah raga walau tanpa fasilitas gym. Menolong diri sendiri untuk tetap bisa menciptakan kreasi baju sehingga tampak baru. Semangat DIY, Do It Yourself.

Semakin banyak kita bergerak untuk menolong diri sendiri, mau tidak mau kita akan semakin banyak berinteraksi dengan orang-orang baru. Membawa kita ke tempat-tempat yang belum pernah kita kunjungi sebelumnya. Melakukan hal-hal baru yang mungkin kita rasa tidak mampu melakukan sebelumnya. Menciptakan dunia baru di hadapan kita. Sehingga perlahan rasa bosan, jenuh dan malas berguguran satu per satu.

Otak, raga dan rasa kita dipaksa untuk terus bekerja secara maksimal. Bukan hanya untuk mencari duit sehingga bisa mendapatkan segalanya. Terlebih untuk memompa darah mengalir ke pembuluh darah yang selama ini berhenti bekerja. Membangkitkan syaraf-syaraf yang selama ini berhenti bekerja karena dilumpuhkan sendiri oleh pemilik tubuhnya.

Tentu tidak semua hal dapat kita bikin sendiri. Kesadaran bahwa banyak hal yang tersedia sebenarnya mengambil keuntungan dari kemalasan kita. Karena malas untuk mencari tahu tempat berlibur. Malas dan tak peduli dengan berita politik dan ekonomi. Malas berinteraksi dengan orang-orang sekitar yang dirasa tidak ada kepentingan dengan kehidupan kita. Malas untuk mengetahui sejarah. Dan yang terpenting, malas untuk hidup.

IMG-20150702-WA000105

Posted in: @linimasa

8 thoughts on “Lumpuh Leave a comment

  1. Tamparan buat byk org, khususnya saya.
    Terima kasih atas tulisan ini. Saya akan belajar lbh baik dlm pelajaran survival… Agar tdk jd lumpuh kelak.
    Sekali lg terima kasih…

Leave a Reply