Pepatah Petitih

Melihat ada beberapa teman saya yang memiliki kebiasaan memasang kutipan yang kurang lebih relevan ketika mereka memasang foto di media sosial, membuat saya tersenyum. Sebagai pemimpin redaksi sebuah majalah yang menulis catatan setiap edisi per bulan, tidak jarang saya merasa kering ide, dan di awal tahun 2015 saya memutuskan untuk membuka catatan editor dengan kutipan yang relevan dengan tema edisi bulan tersebut. Dari pengalaman saya, membuka dengan kutipan yang saya anggap menyenangkan akan memberikan inspirasi untuk menulis lebih terarah. Dan ternyata tidak salah.

Secara verbal, saya cukup sering secara otomatis mengutip dialog dari film, atau kata-kata dari buku yang telah saya baca. Tetapi untuk tulisan, terkadang sulit mencocokkan konteks dari film dan buku dengan kepala orang yang membaca. Juga, karena komunikasinya bukan verbal, sulit untuk dijelaskan secara panjang lebar. Karena itu saya lebih sering mencari kutipan secara acak yang, jika dibaca, sudah mengandung konteks dan bisa berdiri sendiri. Di sini saya ingin membagi beberapa kutipan favorit saya dan kenapa menurut saya kutipan-kutipan ini membuat mata saya yang kesekian terbuka rasanya.

Oscar Wilde
Oscar Wilde

“It is what you read when you don’t have to, that determines what you will be when you can’t help it”
– Oscar Wilde

Sebagai murid atau mantan murid sekolah, kita pasti harus membaca banyak sekali buku. Tetapi dari begitu banyak yang harus dibaca, berapa persen yang membuat impresi di kepala kita? Berani bertaruh tidak terlalu banyak. Berbeda dengan buku-buku yang kita baca demi kesenangan semata. Saya tidak hanya berbicara soal buku fiksi ya. Percaya atau tidak, banyak orang yang membaca buku-buku tata bahasa di waktu luangnya (kira-kira siapa ya), dan salah satu hobinya adalah membaca buku soal nutrisi dan kesehatan (tebak!). Tetapi jika kita sedang membutuhkan ide, praktis maupun tidak, atau sedang terjepit dan harus mencari jalan keluar dari tantangan yang kita hadapi, tidak jarang, apa yang telah kita baca untuk kesenangan itu yang malah muncul dan menyelamatkan kita. Apakah tantangan yang kita hadapi itu soal inovasi di pekerjaan maupun agar kelihatan pintar di depan seorang pria atau wanita yang kita taksir, saya rasa itu tidak terlalu penting.

“Look where you are going”
– kurang paham siapa yang pertama kali mengucapkan.

Sepertinya terlalu sederhana untuk disebut kutipan, dan mungkin dalam hati Anda akan mengucapkan, “Semua juga tau keleus.” Tapi sayangnya tidak cukup orang tahu ini. Jika kita dalam kendali suatu pergerakan, yang seharusnya terjadi adalah, mata dan arah pergerakan jadi satu. Kalau tidak demikian apa yang terjadi? Bayangkan saja kalau pengendara mobil yang berjalan ke depan, tetapi matanya ke kiri atau ke kanan. Meleng. Pengendara sepeda motor yang akan berbelok kiri tetapi matanya lurus ke depan. Meleng. Pejalan kaki yang akan menyeberang jalan tetapi matanya menatap ponsel di tangannya. Mati. Hal ini juga berlaku tidak hanya dalam pergerakan yang sifatnya fisik. Dengan melihat ke arah ke mana kita pergi dalam hidup, kita akan paham apa yang akan kita hadapi, sehingga bisa mengantisipasinya. Dengan selalu melihat ke arah kita mau pergi, kita akan lekas sadar kalau ternyata kita melenceng dari jalur. Kita juga jadi sadar konsekuensi dari setiap langkah yang kita ambil, jika mata kita melihat ke mana kita pergi. Bukan dengan melihat ke kanan dan ke kiri, apakah itu mencari pintu keluar darurat, atau sibuk membandingkan jalur kita dengan jalur orang lain.

he's the opa I never had *sigh*
he’s the opa I never had *sigh*

“If you wish to make apple pie from scratch, you must first create the universe.”
– Carl Sagan

Mungkin saya hanya ingin memasukkan kutipan dari salah satu manusia paling favorit di seluruh dunia ini. Entah yang ini atau “we are made of star stuff”, tidak jarang membuat saya brebes smili setiap kali mengingatnya. Cukup sering mengutip yang pertama, tetapi dengan kesalahan seperti apple pie tertukar dengan macaroni and cheese atau universe jadi world (tergantung seberapa laparnya saya), tetapi tidak ada batas dari pemikiran yang diakibatkan dari kata-kata Opa Sagan ini. Tidak akan ada apel tanpa pohon apel. Tidak akan ada pohon apel tanpa ada tanah. Tidak akan ada tanah yang bisa ditumbuhi tanpa mineral. Tidak ada mineral tanpa ada… (bantu saya, teman). Dan seterusnya. Membuat kesombongan manusia tidak ada artinya. Sesungguhnya kita ini kecil, lebih kecil dari remah rempeyek, lebih kecil dari serpihan debu di jagad raya ini. Sama sekali tidak signifikan.

Demikian pandangan optimis dan sedikit naif saya mengenai kutipan, apakah teman-teman sendiri ada kutipan favorit yang ingin dibagikan ke saya?

Iklan

11 thoughts on “Pepatah Petitih

  1. yang langsung terlintas di benak saat ditanya tentang kutipan yang ingin dibagikan ada dua:

    “The act of creation is first an act of destruction.” – Picasso

    “I want to do to you what spring does to the cherry trees.” – Neruda

    Suka

  2. “La tristesse durera toujours,”
    which means, “the sadness will last forever.” This quote is the famous last words by Vincent Van Gogh right before he died. I read this when I was in junior high, and it really sticks to this day. Whether the things that is not mandatory is really attached to us, or I am just a sad bastard, guess I’ll never know. Hha.

    Suka

  3. maafkan kak, belum beres nulis komen udah kekirim duluan (komen di wordpress ga bisa diedit atau dihapus nih). “for you, a thousand times over” dari khaled hosseini sama “it is only with the heart that one can see clearly, what is essential is invisible to the eye.”

    Disukai oleh 2 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s