MATA, TELINGA, & MULUT

KONON katanya, di zaman yang makin edan ini, semua orang membutuhkan sesi curhat demi menjaga kewarasan. Saat semua keluh kesah, gundah gulana, dan unek-unek tentang apa saja bisa dikeluarkan. Memberi efek kelegaan, syukur-syukur bisa menghasilkan solusi atau ide pewarna jalannya kehidupan. Bermanfaat atau tidak, masih tanda tanya sih.

Kurang lebih seperti mabuk alkohol, setelah sebuah pesta atau habis clubbing. Lega rasanya kalau sudah dimuntahkan. Meskipun tak peduli “jackpot” di mana, atau wujudnya seperti apa, namun tetap diupayakan agar tersembunyi dari orang lain. Begitu juga curhat, hanya bisa terjadi apabila ada orang yang bisa/mau/mampu di-curhatin. Di sisi lain, tidak sedikit juga yang men-curhat-kan kegelisahannya pada benda (boneka, pusara, bahkan pantulan diri sendiri di cermin), atau malah berbuah karya (gubahan lagu, video pendek, puisi, esai, tulisan di blog, buku, lukisan, dan sebagainya).

Selain itu, yang disampaikan pun umumnya bersifat rahasia. Bisa berupa hal yang bersifat positif dan membuat hati berbunga-bunga–seperti cinta kepada rekan sekantor yang belum disampaikan lantaran malu atau takut, bisa pula yang bersifat negatif berupa aib, atau kekesalan maupun kekecewaan. Gara-gara rahasia, makanya cuma bisa disimpan dan dipendam dalam hati dan pikiran selama ini. Wong namanya aja sudah menCURahkan isi HATi, bukan pengetahuan umum. Bila Kamu adalah seorang petualang asmara misalnya, bukan merupakan curhat kalau Kamu menceritakan soal banyaknya orang yang pernah dipacari, dan semacamnya.

Nah, terkait curhatcurhatan ini, tantangannya justru bukan terletak pada si empunya drama, apalagi mengenai kisah itu sendiri. Melainkan pada siapa lawan bicaranya (yang kebanyakan sih diminta untuk mendengarkan dengan baik saja). Tentang seberapa sanggup dia menjadi juru dengar yang tepat.

Yang punya drama, gemas dan geregetan untuk bercerita penuh emosi dan berapi-api. Sementara yang punya telinga, bisa juga ikut-ikutan gemas dan geregetan untuk mengutarakannya kembali.

With great power, comes great responsibility. Itu petuah buat Spider-Man. Tapi khusus untuk orang-orang yang suka di-curhatin, kekuatan yang besar (untuk menjadi tempat mencurahkan isi hati), memang dibarengi tanggung jawab yang besar (untuk membuat yang rahasia tetap jadi sebuah rahasia), dengan bonus beban moral.

Ya, kurang lebih sama seperti ketika berada di dalam bilik elevator yang sedang penuh, namun mendadak muncul dorongan sangat kuat untuk kentut. Itu beban banget. Kendor sedikit, siap-siap aja bakal keceplosan. Mending, kalau yang dengar cuek dan kurang pedulian, lain cerita bila ternyata mereka juga pasang kuping rapat-rapat demi kenikmatan mengetahui dan menertawai riuh rendah kehidupan orang lain. Sampai akhirnya bisa menciptakan perpecahan dalam kelompok, saat seseorang merasa ditusuk dari belakang oleh yang dahulu dianggap sebagai BFF. Entah sengaja atau tidak.

Dengan begini, barangkali ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Seakan jadi terms and conditions mutlak sebelum ditandatangani, sebelum Kamu memutuskan ber-curhat. Soalnya, penyesalan itu tidak akan pernah muncul sebagai mukadimah, tetapi epilog sebuah kisah.

Bagi pen-curhat

  • You’re Not Alone

Ya! Kamu tidak sendirian di dunia ini. Ada yang terlibat dalam drama hidup Kamu. Ada pula yang Kamu percayai untuk menjadi teman curhat. Di samping itu, masih banyak orang-orang lain yang bisa saja juga mendengar dan mengetahui drama dalam kehidupan Kamu dari mana saja. You will always be surprised. Kalau begini, kemampuan utama yang Kamu butuhkan bukan lagi sikap tenang agar sukses menutupi sesuatu, namun keberanian dan ketenangan menghadapi apa saja. Baik lanjutan drama itu sendiri (management of conflict), maupun reaksi orang lain yang mengetahui drama itu.

  • “Jangan Kaget, Itu Konsekuensi”

Sesuatu akan tetap menjadi rahasia, apabila dirahasiakan, bukan diceritakan kepada siapa pun. Beda halnya kalau ternyata diketahui dari pihak seberang. Menjadi dampak yang mustahil dihindari.

Apabila memutuskan untuk ber-curhat, selalu siapkan ruang dalam hati dan otak Kamu untuk mengantisipasi apa pun. Kamu pasti bakal mempergunakannya.

  • Pilih-pilih Enggak Pakai Karung

Kita takkan pernah tahu makna dan kekuatan sebuah kepercayaan, sebelum diterpa masalah atau patah. Sebelum tertimpa apa pun, kita boleh saja yakin bahwa hubungan dan kedekatan yang terjalin selama ini memang pantas dipercaya. Akan tetapi peluangnya tetap masih 50:50. Hari ini teman baik, besok atau lusa sudah jadi musuh perang dingin. Who knows?

Dapat dijadikan salah satu solusi jitu, carilah teman curhat yang gampang lupa. Sehingga dia tidak ikut terbebani dengan drama dan masalah Kamu, dan peluangnya untuk menyebarkan informasi itu pun terbatas. Kecuali kalau mendadak teringat, dan pas dengan keadaan psikisnya. Teorinya kan, tidak ada satu pun informasi yang tidak tersimpan dalam memori. Hanya saja munculnya dan kemudahan akses arsip ingatan yang berbeda-beda.

Sebagian orang yang merasa harus ber-curhat banyak yang memilih melampiaskan ganjalan hatinya kepada kenalan, kawan, teman, sahabat, atau pacar. Itu kepada orang-orang di luar lingkaran keluarga. Ada pula yang merasa nyaman curhat dengan orang tua, saudara, dan famili. Dalam lingkup yang lebih intim, tidak salah jika curhat kepada pasangan resmi; suami/istri. Namun, bukan sebuah hal aneh apabila ada yang lebih lega ber-curhat dengan orang asing, sebab kesannya seperti bicara dengan orang yang enggak bakal punya bab tersendiri dalam hidup kita. Diceritakan untuk dilupakan begitu saja. Ada orang asing yang mendengarkan secara profesional, seperti psikolog, barista, bartender, ada juga yang benar-benar asing.

  • Teman Curhat ≠ Tong Sampah

Susah sih ini, karena diperlukan kedewasaan dan kebijaksanaan bersikap dalam segala hal. Akan tetapi kalau sudah hanyut dalam emosi dan pengin curhat, semuanya keluar seperti banjir. Salah-salah, partner curhat Anda ikutan eneg. Tidak ada salahnya sesekali mencoba menakar diri, “jika aku yang jadi dia” berbekal preferensi kita bergaul dengannya selama ini. Sadar-sadar diri aja.

Selain itu, Kamu juga pasti bisa merasaan, apakah ber-curhat dengan seseorang bisa memberikan kesan nyaman atau malah canggung dan sungkan? Kalau ternyata muncul efek kedua, berarti yang bersangkutan juga memberi feedback yang kurang cocok dengan situasi batin kita yang kalut.

Bagi pendengar curhat

Mohon perhatian. Di-curhatin sama artinya dengan mendapat kepercayaan, kehormatan, bahkan privilege dari seseorang.

Sudah sepantasnya, kepercayaan, kehormatan, dan privilege itu dijaga baik-baik. Kecuali kalau Kamu memang enggak beres, menganggap drama orang lain adalah sumber hiburan dan selebaran gosip untuk disebar demi mendapat popularitas (sebagai tukang gosip tentunya), dan supaya diterima bergabung di kelompok-kelompok sosial lain, lantaran memang Kamu enggak punya kelebihan lain yang bisa membuat orang lain kagum dan menerimamu dengan senang hati. Padahal aslinya ya yang diperlukan dari kamu cuma cerita soal kehidupan orang lain saja. Toh, Kamu sendiri juga punya aib, yang entah bagaimana caranya, pasti bisa diketahui dan diketawai orang lain juga.

Enggak bisa menahan diri? Susah memang, tapi bukan hal yang mustahil.

Biarlah penilaian baik atau buruk tetap menjadi urusan si pemilik cerita. Terserah mau seburuk apa pun itu, yang penting mata boleh melihat, telinga boleh mendengar, tapi jangan sampai mulut ikut berbicara.

[]

P.S.: Untuk Kamu yang pernah dan masih mau ber-curhat dengan saya, terima kasih.
Terima kasih untuk kepercayaannya.
Terima kasih karena sudah berbagi pengalaman hidup.
Semoga membantu.
Semoga berbahagia. 🙂

Iklan

4 thoughts on “MATA, TELINGA, & MULUT

  1. Aduh. [Bukan pamer] sering banget dicurhatin dalam kondisi yang tidak ngenakin. Lagi pusing. Lagi stress. Lagi tidur. Lagi banyak utang. Dsb.

    Sedihnya I am a yes women. Nggak bisa nggain. Pada akhirnya saya makin stress.

    Suka

  2. Paling ga suka curhat kecuali sm benda mati..
    Tapi paling sering dicurhatin..

    Curhat paling afdol ya sama Sang Pemberi Hati dan segala isi Hati..

    Suka

  3. Dulu sering banget dicurhatin – tapi kemudian yang curhat (aku perhatiin) cari aku karena feel good effectnya itu, karena ceritanya (dulu) anaknya ((mengayomi)), lalu jadi keterusan manja. Akhirnya tobat, kalau udah merasa curhatannya aku nggak mau & ngga bisa dengar, aku stop. Dingin? Iya, emang. But I have my own things to deal with.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s