Job Desc: Menawar Kehendak Tuhan

Lima hari menjelang acara. Hujan volume sedang mengguyur Jakarta. Sore. Waktu banyak orang pulang kerja. Macet di mana-mana. Genangan air dan sumbatan kendaraan melumpuhkan sebagian besar jalanan. Aku sudah duduk di rumah waktu email dari Project Director masuk. Surat penawaran harga dari pawang hujan. Besarnya Rp. 56 juta!

Hampir tiap acara kami menyewa pawang hujan. Karena seringnya hujan dianggap gangguan ketimbang berkah untuk acara-acara luar ruangan. Sewa pawang biasanya terselip dalam anggaran komite. Besarnya ndak terlalu signifikan. Antara Rp. 1 juta sampai Rp. 4 juta, tergantung lokasi dan luasnya. Maka, ia selalu ada. Entah pekerjaannya sukses atau ndak. Entah dibutuhkan atau ndak. Jadi semacamn pelengkap yang aneh rasanya kalau sekonyong-konyong dihapus. Sampai sore itu.

Aku balas email dengan satu pertanyaan sederhana: KOK MAHAL BANGET?!!! Dengan harga setinggi itu harus ada standar pekerjaan yang jelas. Lengkap dengan cara kerja, target dan laporan berkala.

image
Mendung. Sumber: Google

Sehari kemudian, Project Director menyampaikan balasan dari sang Pawang. Pada dasarnya pekerjaan ini belum punya dasar ilmiah yang cukup. Belum, karena bisa saja suatu hari nanti, seperti akupuntur dan poligami, praktik ini bersertifikat ilmiah.

Pawang hujan bukan menolak hujan, tapi memindahkan awan hujan ke tempat lain. Biasanya gunung, laut, perbukitan atau sungai. Karena acara kami berlangsung di pesisir pantai, maka bebannya lebih berat sekian kali lipat. Apalagi, kami minta sejak empat hari sebelum acara berlangsung. Serupa dengan rekayasa cuaca versi badan Meteorologi yang menaburkan kapur untuk menolaknya. Pawang Hujan juga memancarkan energi panas di kawasan yang diinginkan untuk mengusir awan jenuh. Caranya?

Metode 1: Pawang menyaratkan beberapa kaleng bir atau kopi untuk minum makhluk halus pengusir hujan. Andaikan memang semudah ini, aku juga akan sajikan, bahkan, Jack Daniels untuk makhluk halus yang bisa mengusir lemak!

Metode 2: Pawang merapal mantra dan meminta panitia ikut serta mengucapkan mantra tersebut. Sama dengan berdoa. Bedanya, kita ndak tahu doa ini ditujukan pada siapa.

Metode 3: Pawang minta disediakan beberapa rantang nasi dan sebuah payung hitam. Apa yang harus aku tulis dalam tata cara bekerja? Piknik?

Metode 4: Pawang membalikkan sapu lidi bekas dengan menancapkan bawang merah dan cabai merah. Ditambah daging kambing, kecap dan merica; mungkin lebih meriah.

Metode 5: Pawang melarang panitia untuk mandi sepanjang hari. Bukankah ini termasuk pelanggaran hak asasi manusia?

Metode 6: Pawang minta disediakan berpuluh-puluh batang rokok dari lintingan daun nipah. Entah cara ini betul-betul efektif atau ndak, tapi terdengar seperti disponsori Gudang Garam.

Metode 7: Pawang tidak diperkenankan menyentuh air dan harus puasa ngebleng. Tidak makan dan minum selama satu hari satu malam. Sejauh ini bukan ditujukan untuk panitia, aku bisa terima.

Metode 8: Pawang dan panitia berziarah ke makam leluhur. Lalu meminta mereka untuk menghalau hujan. Permasalahan dengan metode ini: leluhur kami yang berada dalam makan, rata-rata, sudah ndak bernyawa!

Metode 9: Pawang meminta panitia melempar celana dalam bekas ke atas genting. Aku ndak.mau komentar soal ini…

Tidak. Pawang Hujan yang akan kami sewa berlatarkan syariah. Ia kemudian mengutip satu Haditz:

اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا، وَلاَ عَلَيْنَا، اللَّهُمَّ عَلَى الآكَامِ وَالجِبَالِ وَالآجَامِ وَالظِّرَابِ وَالأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan atas kami! Ya Allah, turunkanlah hujan pada dataran tinggi, pegunungan, perbukitan, lembah-lembah dan tempat-tempat tumbuhnya tanaman.”~HR. Bukhari no. 1013, 1014 dan Muslim no. 897

Dalil diatas, dipercaya dapat menolak hujan tanpa bikin tuhan marah. Sayangnya, ia tidak bisa diucapkan orang sembarangan. Hanya Storm (X-Men) dan Pawang Hujan kami yang punya kedudukan lebih dari siapapun, karena tuhan akan mendengar dan mengabulkannya. Ia bahkan memberi garansi kalau akhirnya tuhan berubah pikiran dan menurunkan hujan, Ia akan mengembalikan seluruh dana yang telah kami berikan. Dengan Job Desc: menawar kehendak tuhan lengkap dengan tujuan kerja dan jaminannya, kami sepakat di angka Rp. 19 juta.

Akhirnya, hari H tiba. Acara kami aman sejahtera tanpa gangguan hujan selama dua hari penuh. Pawang Hujan berhasil melobi tuhan untuk memindahkan awan ke tempat lain. Pawang Hujan dapat uang.

Bayangkan, berapa banyak yang bisa diselamatkan di musim banjir nanti…

Iklan

12 thoughts on “Job Desc: Menawar Kehendak Tuhan

  1. Untuk harga semahal itu,
    panitia sebagai user masih harus ikut bagian dalam proses
    kok jadi berasa makin ketipu ga sih?

    ahhh, yang penting acaranya sukses

    Suka

  2. Ibu saya pernah menerapkan metode no.4 (tanpa daging kambing, kecap dan merica tentunya 😛 ) . Waktu itu ada hajatan dirumah dan mendung sdh menggantung di langit. Beneran loh ga jadi hujan dan acaranya lancar jaya….. Padahal ibu bukan dukun atau pawang hujan …. 🙂

    Suka

  3. Hahaha kalau di Philippines mereka pake dukun (albularyo) dengan bacaan dari Alkitab… ditulis di badan pake spidol hitam, pakai air garam, dan doa-doa berbahasa latin…

    Suka

        1. Kemarin sih komposisi harga dihitung berdasarkan: tingkat kesulitan (acara di gunung dan laut beda ternyata), jumlah hari, dan jaminan uang kembali. Bayangin…

          Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s