Pargiyani

Pargi panggilannya. Sejak mens pertama kali, Pargi bertekad untuk menjaga keperawanannya sampai dia menemukan pria yang dinilai pantas menjadi suaminya. Menjadi Imam bagi rumah tangganya. Sholat lima waktu tak pernah dilewatkan. Bulan puasa selalu dijalani dengan hati riang. Baginya, bekerja adalah ibadah. Pekerjaannya sebagai baby sitter sampai pembantu rumah tangga dijalani dengan ketekunan yang di atas rata-rata. Membuatnya menjadi rebutan majikan.

Memasuki usia 30-an, Pargi mulai gelisah. Jodoh seolah semakin jauh dari harapan. Belum ada satu pun pria yang mencintainya. Kalau pun ada yang PDKT, ujung-ujungnya hanya mau duitnya. Maklum, karena masih single, Pargi terbilang lumayan tajir. Handphone terbaru bisa dimilikinya, mengirim uang ke Mbah di kampung tak pernah alpa, pulang kampung setiap Lebaran sudah menjadi tradisi.

Tradisi yang makin tahun makin bikin risih. Permintaan Mbah dan pertanyaan para tetangga tentang status lajangnya, dianggap mulai mengganggu. Setiap kembali ke Jakarta, mencari duit menjadi tujuan sekunder mengalahkan tujuan primer: CARI SUAMI. Tawaran majikannya untuk mengambil kursus bahasa Inggris atau menjahit atau memasak, ditampiknya mentah-mentah. Mencari jodoh lebih baik daripada mencari ilmu. Membina rumah tangga lebih mulia daripada membina masa depan.

Jatuh bangun asmara dilaluinya. Sampai di suatu siang, Pargi bertemu dengan seorang bapak teman lamanya. Bapak itu memiliki seorang anak pria yang masih lajang. Dengan niat untuk memperkenalkan, siapa tau jodoh, Pargi menyambut dengan penuh semangat. Bisa diduga, tak berapa lama setelah perjumpaan dengan anak pria itu, Pargi menikah.

Berjuta harapan dan impian pun mengisi setiap sudut ruangan Ijab Kabul. “Nanti setelah menikah, aku kan akan punya anak, dan bisa menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Biar suamiku yang bekerja. Aku di rumah mengurus anak, dan ibu mertuaku yang sudah mulai menua. Dia mulai sakit-sakitan” kata Pargi menjelaskan rencananya. “Saya ingin segera punya anak, karena kan saya sudah gak muda lagi. Suami saya lulusan Pesantren. Insya Allah bisa memberikan contoh yang baik bagi anak-anaknya…” tutup Pargi sebelum pamit pada majikannya untuk cuti menikah.

Anak pertama pun lahir. Dalam situasi yang kurang kondusif. Realita lebih sering menampar impian. Sejak tinggal bersama mertuanya, banyak hal baru yang ditemui Pargi. Ternyata suaminya karyawan kontrakan yang sebelum menikah habis masa kontraknya. Ternyata pria yang diharapkan menjadi Imam keluarga adalah anak manja yang tidak bisa berinisiatif, apalagi bekerja. Ternyata ibu mertuanya mata duitan, yang selalu memihak anak dan suaminya. Ternyata Pargi menjadi tulang punggung keluarga barunya itu. Ternyata suami lulusan Pesantren tak menjamin akal sehat untuk mencari penghasilan demi anak yang di kandungan istri. Ternyata rumah barunya tak sebersih kamar kos-kosan yang selama ini Pargi tempati. Ternyata tikus dari got belakang rumah sering masuk dan mencuri makanan. Ternyata tabungan Pargi perlahan lenyap oleh suami dan ibu mertuanya. Dan ratusan kenyataan lagi yang perlahan membuat Pargi sering sakit. Hati maupun fisik.

maid-story-4

Beragam cara Pargi lakukan agar suaminya bisa mulai bekerja. Mulai dari jualan Wingko Babat buatan sendiri, jualan kue jajanan, menjadi montir, jual barang online sampai yang terkini menjadi supir GoJek. Tak satu pun nyantol di suaminya. “Maksud saya, mbok ya suami saya tuh mikir… saya kerja keras banting tulang buat anak dan keluarga dia, sementara dia enak-enakan di rumah mainan henpon. Puter otak kek? Cari jalan kek?” Pargi mulai komplen pernikahannya yang baru masuk tahun kedua.

Bulan puasa sudah tiba. Menuju Lebaran. Pargi berpuasa sambil mengurus anaknya yang sudah mulai comel. “Ibu…” menjadi kata pertama yang bisa diucapkannya. Menangis setiap pagi melihat Pargi pergi bekerja. Gembira berloncatan kecil saat Pargi pulang ke rumah. Anaknya menjadi fokus hidupnya kini. Sambil sesekali terlintas keinginan untuk bercerai. Mengakhiri mimpi buruk ini dan memulai hidup baru di kampungnya bersama Mbah dan anaknya. Keinginan yang salah satunya terhadang pada kekhawatiran apa kata Mbah dan orang-orang di Kampungnya. “Kok sendirian? Mana ayahnya? Kasian kamu jadi janda… Salah pilih laki-laki sih…” terus berputar di kepala Pargi setiap hasrat bercerai menghampiri.

Bulan puasa sudah tiba. Menuju Lebaran. Pargi berpuasa sambil mengurus anaknya yang sudah mulai comel. Kalau tahun ini tak pulang kampung juga, genaplah dua Lebaran, dia tak berjumpa dengan Mbah dan orang-orang Kampungnya.

Iklan

9 thoughts on “Pargiyani

  1. Ping-balik: Pargiyani – gitu.in
  2. saya pernah dinasehati seorang teman, jalani pernikahan untuk dirimu sendiri, jadikan dirimu sebagai alasan, bukan anak atau omongan orang

    segampang itu?

    kalo ya, seperti mengantongi ijasah tanpa harus sekolah

    Disukai oleh 2 orang

      1. hehe, mungkin analogi sy yg tidak tepat. sederhananya, susah nasehat itu untuk dijalankan
        ada beribu alasan seseorang berdiri di samping seseorang dalam lembaga yang dinamakan perkawinan
        contoh, seorang ibu, lebih memilih bertahan demi mengedepankan psikis anak2nya, walau bukan jaminan ketika berpisah tidak lebih sehat

        Suka

        1. Jadi…
          Harus berpikir seribu kali, sebelum memutuskan menikah.

          Lalu…
          Harus berpikir seribu kali, sebelum memutuskan siap memiliki anak.

          Serta…
          Harus berpikir seribu kali, sebelum memutuskan berani berjalan sendiri.

          🙂

          Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s