Tentang Rasa Sang Nona Dari Jogja

Saya rasa, semenjak Reza Artamevia, Indonesia sekarang ini belum memiliki penyanyi wanita yang berkualitas baik dari segi suara, penampilan ataupun bakat. Mungkin ada tapi terlewat, tapi yang jelas saya tidak menemukannya di Krisdayanti, Rossa ataupun Raisa. Entah karena saya kurang gaul ato gimana–sampai suatu ketika saya secara tidak sengaja menemukan penyanyi bernama Leilani Hermiasih di internet. Frau adalah nama panggungnya. Baru dua album dia rilis dan bisa diunduh gratis di sini.

frau1

Pertama kali mendengar langsung suka karena musiknya berbeda. Penampilannya pun berbeda. Sederhana. Segar. Walau banyak sebagian orang yang membandingkan dirinya dengan Regina Spektor. Atau ada sedikit Fiona Apple mungkin. Musiknya kebanyakan hanya berisi suaranya yang diiringi oleh piano yang bernama Oskar. Lirik lagunya campur. Ada yang Bahasa Indonesia dan juga Inggris. Kemampuan bermain pianonya juga di atas rata-rata. Seperti BB King yang dengan Lucille-nya. Oh, banyak sekali ya orang yang menamai benda kesayangan yang dinamai layaknya binatang piaraan atau kekasih. Saya namai henpon saya Frans, kadang Herlambang.

Tapi sayangnya saya agak kesulitan untuk mendapatkan kesempatan melihatnya penampilannya secara langsung. Karena dari kabar burung yang saya dengar, Frau agak jarang tampil di atas panggung. Beliau hanya melihat musik sebagai hobi, dan lebih mengutamakan untuk menyelesaikan sekolahnya dulu yang konon sekarang sudah mau menyaingi seri henpon Galaxy Samsung.

Sampai akhirnya hari Jum’at kemarin saya berkesempatan untuk melihatnya secara langsung di IFI Bandung. Teman saya yang sudah di lokasi menyebutkan bahwa gak boleh moto pas lagi dia konser nanti. Lalu saya bilang oke. Itu keren. Saya sudah dalam taraf terganggu oleh orang-orang yang banyak memoto atau bahkan merekam pertunjukan secara berlebihan.

20150523141235

Semua penonton duduk di kursi yang sudah disediakan. Menikmati pertunjukan dengan khidmat. Itu yang mereka mau. Dan itu juga mungkin yang sebagian penonton inginkan. Pertunjukan yang lebih intim. Semi resital. Terkadang ada asap menyembur dari belakang panggung. Tidak jarang saya mencium bau-bauan lavender, melati, ataupun stroberi, ataupun rempah-rempahan ketika pertunjukan berlangsung. Saya lihat sekeliling tidak ada yang lagi nge-vaping. Oh. Ternyata ini memang Frau dan manajemennya yang sengaja buat ulah.

Selama lebih dari satu jam pertunjukan berlangsung. Dan di sela sesi pertama berakhir ada kertas yang dibagikan ke penonton. Mengenai kesan dari konser yang dinamai Tentang Rasa ini. Selain itu mereka juga membagikan minuman ringan dari botol yang mereka kemas sendiri. Isinya macam-macam. Ada teh, susu, kopi, sirup rasa jeruk. Non alkohol yang jelas. Padahal saya mengharapkan ada yang isinya bir. Tapi tidak ada. Ya sudahlah. Saya kan hidup di kota syariah. Yang jelas mereka ingin para penonton merasakan pengalaman yang berbeda ketika menikmati musik sambil menyecap bau-bauan dihembuskan ke seluruh ruangan. Atau sambil minum yang disediakan oleh sang penyanyi. Sensasi baru.

Karena menikmati musik itu tidak harus berdiri paling depan. Tidak harus ajrut-ajrutan. Tidak harus teriak-teriak. Tidak harus berkeringat. Tidak harus foto-foto. Tidak harus selfie/wefie lalu di-unggah saat itu juga ke media sosial kesayangan. Tidak harus begitu.

(nb: Oya, Leila, tolong nanti kalo cover lagu Radiohead jangan Fake Plastic Tree, High & Dry, atau Creep. Masih banyak koq yang oke buat diaransemen ulang. OK Computer ke atas deh. Morning Bell misalnya.)

Posted in: @linimasa

8 thoughts on “Tentang Rasa Sang Nona Dari Jogja Leave a comment

  1. Aku sempat kebagian liputan Frau di An Intimacy, Februari kemarin. Nggak ada panggung, Dia langsung menghadap penonton yang duduk lesehan. Jarak dari Mbak Leiliyani ke penonton nggak lebih dari lima meter.

    Saya nggak bohong deh. Dia itu auranya luar biasa. Dia perform kayak cerita. Saya terbius sampai lupa kamera saya belum di on. Saya nggak kebagian liputan. Dimarahin pemred. Maaf curhat.

    Tapi nggak nyesel. Saya nontonnya nggak keganggu. Hehehe.

Leave a Reply