Bicara Anak: Imbalan Setelah Kewajiban?

Bagi sebagian besar orang tua, ada satu musim yang menambah sedikit kerepotan: musim ujian anak. Di musim itu para orang tua mencoba sebanyak mungkin bersama anak untuk mendampingi saat mereka belajar. Ada yang membantu dengan mengawasi, ikut mengerjakan, memberikan soal bayangan, dan tentunya membantu dengan doa. Intinya, semua orang tua menginginkan anaknya lulus ujian dengan nilai semaksimal mungkin.

Setelah musim ujian usai, pasukan orang tua semacam terbelah dua. Sebagian ada yang merasa perlu dan baik untuk memberikan imbalan (reward) untuk anaknya. Sebagian lagi merasa tidak perlu. Bagi yang memberi imbalan, biasanya karena anak dianggap telah menyelesaikan tugasnya dengan baik. Apalagi biasanya ujian disambung dengan musim liburan. Bukan imbalan karena sudah selesai ujian, tapi liburan karena sekolah memang sedang libur.

Sedangkan pasukan orang tua yang tidak memberikan imbalan, mereka beranggapan bahwa bersekolah adalah kewajiban. Sudah disekolahkan, maka anak pun wajib untuk ujian. Bukan sesuatu yang harus dirayakan. Pun berprestasi di sekolah, merupakan kewajiban. Perayaan terbesar adalah kepuasan hati anak saat dia berprestasi, tak harus disertai dengan penghargaan materi atau liburan. Cukup dengan ucapan selamat dan pengakuan dari orang tua, guru dan teman-temannya merupakan penghargaan terbesar dan terbaik untuk sepanjang hidupnya.

Tidak ada yang benar apalagi salah. Semua orang tua berhak menentukan mana yang terbaik bagi anaknya. Karenanya, telah dilakukan sedikit survey terhadap beberapa teman mengenai topik ini. Komentar datang dari ibu, ibu tunggal, ayah, ayah tunggal dan bahkan yang belum memiliki anak.

Denny, ayah 3 anak.

Intinya sih mesti kontekstual.

Seorang anak memang harus melakukan kewajibannya, tapi mesti dilihat seberapa dia mampu melakukannya. Kewajiban cuma salah satu hal yang masuk dalam matrikulasi isu, kemampuan juga harus ada di sana.

For instance, Harry (daughter) doesn’t really need a reward for achievements in art, but she might need one for achievements in science.

Clarissa (daughter), on the other hand, needs to be rewarded for persistence in everything. The kid is multi talented, but needs to learn to persevere.

Henry (son), must be rewarded for smallest achievements that would be considered trivial for the rest of us. The kid’s autistic.

All three of them, are properly rewarded when they do things beyond their responsibilities or capabilities. We pay them money when they recycle some of the waste, like newspaper, etc.

Applied properly, reward is still a most ethical behavior modification tool, and a powerful one at that.

Lisa, baru menikah belum punya anak.

Gue bertekad kelak pas punya anak, gue mau kasih reward hanya untuk effort yg luar biasa, bukan result. Misalnya, kalo main LEGO, bisa bikin pesawat sesuai manual, dapet cium. Tapi kalo bisa bikin pesawat (yg bagi mata gue keliatan kaya bekicot) dengan caranya sendiri, gue pajang di ruang tamu, gue banggakan ke kakek nenek tantenya dll., dan tentu saja gue beliin LEGO baru.

Sukses itu gampang. Banget. Lah wong tinggal nyontek manual.

Berani gagal gegara nyoba approach baru, itu luar biasa.

Reward gak cuma berbentuk fisik. Aku pernah nonton di TedX, ada yang berargumen bahwa reward fisik (duit, mainan, esgrim, dll.) bagus untuk aktivitas mekanis. Sementara reward non-fisik (pujian, pengakuan) bagus untuk aktivitas kreatif/problem solving. Sementara aku memanfaatkan reward fisik untuk menghemat willpower saat berusaha mencapai sesuatu yg berat.

Contohnya, sekarang aku berusaha brenti merokok. Udah 3 minggu, beratnya craving amit-amit deh, tapi yang bikin aku sanggup bertahan adalah Razer Kraken Pro, yg bakal kubeli sebagai hadiah kalo aku bisa bertahan 2 bulan lagi.

Donny, ayah satu anak.

Nyokap gue gak ngasih apa-apa biar gue juara kelas atau apa gitu di sekolah. Kata dia, “lah, itu kan kewajiban elo. Ngapain gue kasih kado.” Hahahahahahahahaha

Denisa, ibu satu anak.

Orangtua gue juga ga pernah kasih reward. Paling waktu SD dulu pertama kali puasa 30 hari penuh dari subuh sampe maghrib, dikasih angpao. Wis itu thok.

Jujur gw sekarang ngerasanya “ini gw manjain Dony (anak laki-lakinya) ga sih?”

Soalnya beliin dia mainan itu gampang banget — dan setengahnya karena dulu kalo gue minta mainan ga pernah dikasih 😆 Kaya balas dendam, hahaha. Waktu dia sukses tidur sendiri, dapet reward (lokomotif Thomas); waktu sukses potty training juga dapet lokomotif Thomas. Itu masih taraf normal ga sih? 😅

Mungkin ntar kali ye pas anaknya udah SD gitu (sekolahnya lebih “serius”, hahaha) baru mikir soal reward ini.

Dito, lajang.

Sebagai anak dari keluarga sederhana, gak ada tuh istilah hadiah naik kelas, kelulusan apalagi ranking.

Tetapi ekosistem apresiasi tidak selalu “salah” sih, akan tetapi pembinaan karakter achiver mungkin yang penting

Harumi, ibu seorang anak.

Aku kalau target prestasi ga tercapai aku rasanya malu dan ga worthy fasilitas yang diberikan ortu. Tapi kalau orang tua janji menurutku harus ditepati, tergantung kesepakatan aja. Kalau menurut performance appraisal ya ‘meet expectations’ sama ‘exceed expectations’ tentu ada perbedaan.

Viva, ibu seorang anak.

Aku kalo ngasih reward (baca: es krim) ke anak biasanya pas dia mau & berhasil ngikutin kegiatan orangtuanya yang harusnya dia ga ikut tapi kita paksa ikut. Misal ga cranky pas nonton konser & ga banyak digendong pas hiking 😀 oh satu lagi, mau difoto buat produk dagangan kami 😁😁

Karimah, ibu seorang anak.

Kalau aku dulu bayar uang sekolah aja udah bersyukur ya kak😂😂😂 trus punya mamak ambisius gila, kalau gak juara 1 atau 2, 6 bulan ke depan dia akan nanyain gw lebih kejam lagi dengan aksesoris rotan nya.

Tapi skrg anakku kalau makannya pinter sambil ambil rapot *playgrup catet* bapaknya sudah menjanjikan spinosaurus abis ambil rapot. Kami terbawa arus orangtua jaman sekarang yang mementingkan kebahagiaan anak2 spt nya😁😁😁

Delilah, lajang.

Kayaknya awalnya hal2 kayak begini harmless dan semacam penyemangat aja. Tapi karena Ibu Suri semacam embisyes dan tau anaknya bisa dipecut, dia macam ngasih standar (tinggi), walau mungkin dia juga tahu anaknya bisa tanpa diancem ancem ataupun diiming imingin.

Buatku itu semacam jatah makan Gandy’s setahun 3 kali, padahal steaknya cuma separoh 😂😂

Fransisca, ibu 3 anak.

Ga pernah ditawarin reward or dikasih waktu masih kecil, aku rasa itu bagus buat aku. I can see back then that my parents provide for us. Mereka ga pernah minta aku berprestasi or apalah namanya tapi terasa ada ruang dari mereka untuk aku mencoba, berusaha dll.

Sekarang sama bocah2, kami ga pernah netapin standard prestasi akademik, ga pernah bahas rangking, ga pernah maksa mereka belajar di rumah or bikin PR. Kami bicara investment sama anak2, bahwa sekolah & pendidikan adalah hak mereka, bahwa how they use that is entirely their way of building their future, bahwa akan lebih banyak hal bisa dilakukan di masa depan jika mereka mau lebih menyimak & mengeksplorasi materi pelajaran. Dan aku selalu encourage mereka untuk menantang & bertanya. Edukasi bukan soal mengirim anak ke sekolah melainkan bagaimana membuat sekolah jadi ga “penting”.

Sri, ibu 2 anak.

Aku ga ada reward sih Kak buat anak2. Hari2 biasa dan hari2 kelar ujian mereka juga dapat kebebasan yang sama. Dapat sesuatu yang sifatnya material dan immaterial bukan sebagai reward tapi kebutuhan mereka sbg anak2. Kebetulan anak2ku bukan anak2 yang Brand Minded (moga2 begitu terus) 😂😂😂

Desi, ibu 2 anak.

Gak pernah kasih reward sama anak2 tiap mereka dapat juara, padahal yang cowok lulusan terbaik satu sekolah.

Setuju sama murid ya tugasnya belajar, dan menurut gue kalo dia berprestasi itu reward dia utk dirinya sendiri jadi lebih semangat dan percaya diri.

Itu mungkin juga karena my parents never gave me any rewards for being the best at school.

Burhan, ayah 3 anak.

Biasanya sih, reward diberikan sebagai bonus, bukan target utama. Reward ada untuk menjaga agar mood bocah selalu positif atau happy. Nah tapi ya diliat juga apakah si bocah happy nggak selama di sekolah. Makanya kita picky sama sekolah. Gimana bocah bisa nerima pelajaran kalo ngga happy atau positif?

Dan kita juga ngga ngejer si bocah jadi juara kelas. Yang penting minat & bakat diri terbangun, karena buat kita itu penting saat nanti dia dewasa kelak. Berusaha yang terbaik buat diri sendiri tanpa tekanan, hingga mungkin akan ada bonus reward.

Ciyus mat sik 😁

Lia, pengantin baru.

Dulu sih ga pernah dapet reward. Boro2 hadiah liburan, hadiah macem kotak pensil baru aja kudu nabung dari duit jajan 😂😂😂

Flora, ibu seorang anak.

Kalo menurut teorinya mbak Prita Ghozie, belajar dan berprestasi adalah kewajiban anak. Sehingga sebaiknya tidak ada reward. Krn kemudian membuat anak berprestasi hanya utk reward, bukan karena dia merasa dia bisa berprestasi.

Reward, terutama dlm bentuk uang bisa diberikan ketika anak melakukan hal di luar kwajibannya. Misal: bantuin ayahnya cuciin mobil. Atau sama emaknya disuruh ke kios sayur beli sayuran. Atau misalnya emaknya bakul kue, sesimpel dia bantuin ngayak tepung or ngocok telor.

Demikian kak. Tapi itu teori ya. Aku sih kemaren ngasih hadiah waktu awan berhasil puasa sebulan penuh :):):):)

Inem, menikah belum memiliki anak.

Academic achievement ndak pernah di-reward karena sudah hygiene factor. Tapi kalau pain related seperti ke dokter gigi, dikasih insentif di awal doang.

Bunda, ibu seorang anak.

Anakku nggak dikasih reward kok. Cuma selama ujian dikasih semangat ajah.

Lativia, ibu dua anak.

Gue gak pernah kepikiran ngasih reward untuk prestasi sekolah. Kado biasanya dapet  waktu ulang tahun, natal dan oleh2 kalau bapak/ibunya pulang dari LN. Gak inget itu waktu bertepatan dengan dapet rapor atau kenaikan kelas karena, lagi-lagi, gak pernah kepikiran kasih reward kalau rapornya bagus.

Sari, lajang.

Selama ada reward ya ada punishment. Kalo gak mencapai goal ya gak dikasih reward sebagai punishment. Gak apa-apa sih kalo dibawa santai. Tapi kalo gak dpt reward itu dijadiin standar kegagalan sih itu mah sedih. Orang harus memecut diri buat puasin standar reward orang lain.

Deswita, lajang.

Almarhum orang tuaku ga pernah biasain kasih reward untuk urusan yang menurut mereka emang jadi bagian kewajiban anak2nya.
Karena mereka ini emang rada2 free thinkers pulak, mereka santai bilang bahwa mereka bukan orang tua yang melihat anak sbg investasi mereka.
Mereka ga setuju dengan ortu2 yg ‘pampering’ anak dengan fasilitas lebay dan jadikan anak sebagai ‘investasi’ atau atribut pencitraan ortu.

Setelah dua2nya ga ada, gue berefleksi. Ada ortu yg memang cenderung melihat anak kayak investasi, dan investasinya harus ‘balik’. Anak diharapkan selalu ‘lebih’. Ada ortu yang meskipun metodenya ga lazim kayak alm ortu gue, yg lebih melihat anak sbg sosok-sosok sesama manusia/individu.

Peran ortu yg begini kayaknya lbh cenderung menantang anak menemukan diri sendiri, dan punya hak, kewajiban/tanggung jawab ke diri sendiri dulu sebelum bisa diharapkan berguna ke orang lain.

Satu contoh aje ye…

Di malam gue pulang setelah dapat penghargaan Citra Pariwara (penghargaan untuk iklan Indonesia. Semacam Citra untuk dunia film) untuk iklan Sunlight cair. Kira2 dah nyaris jam 2 pagi lah. Di meja makan ada piring n mug kopi gue bekas sarapan. Masih kotor. Ada note nyokap gue: Tadi pagi kamu tidak tinggalin info yang jelas! Siapa yg harus cuci? Si mbok jg tidak kamu minta tolong! Pls tk care of this mess.
Note nyokap gue di post it. Ditempelin di? Botol Sunlight cair!😂😂😂😂😂
Jadi sambil nyuci piring gue nyadar sepenuhnya. Jangankan sekedar menang pariwara, menang nobel pun sebetulnya emang ga perlu segitunyalah😂😂
Krn buat org2 kayak nyokap gue/ortu sealiran beliau, intinya bukan ‘kontes’, menang ini-itu, ‘masup TV’. Melainken kitanya dulu yg genah😂😂

Gaban, ayah satu anak.

Biarin aja sih…

Sebagai pembaca, Anda pun diundang untuk ikut berkomentar. Siapa tau komentar Anda bisa membantu para orang tua semakin menemukan cara terbaik untuk membesarkan anak. Daripada memilih disimpan dalam hati saja seperti Solanum Melongena, ayah satu anak dan suami dua istri.

working-hard-meme_9-300x300

 

Iklan

5 thoughts on “Bicara Anak: Imbalan Setelah Kewajiban?

  1. Perempuan, 27th yang semasa sd diganjar uang 5ribu rupiah utk setiap angka 9 di raport. Selepas itu ga pernah ada reward apa2. Cuma selalu diberikan kata2: “ga ada yg ingat sama nomor 2” padahal gw paling top cuma bisa rangking 2 😦 jadilah sampai skrg spt haus sama pengakuan nyokap akan hasil kerja gw dibidang apapun. Apa lagi buat dia “pekerjaan ideal adalah sbg pns” sedangkan gw ga cocok jadi pns 😐

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s