Jadilah Tiada

Dunia periklanan mengajarkan satu hal: jadilah berbeda. Karena dengan berbeda maka sebuah brand akan lebih mudah diingat. Mendapat tempat di kavling otak yang sudah padat. Dengan berbeda, jadi memiliki nilai lebih dan bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi. Berbeda tanpa harus mengada-ada, kecuali terpaksa.

Dunia yang semakin riuh, mengajarkan lain hal; go with the flow aja! Karena menjadi berbeda ada risiko tidak bisa diterima oleh masyarakat. Di bawah ancaman untuk dikucilkan dan di banyak tempat di dunia, nyawa taruhannya. Perlahan semakin sedikit manusia menemukan keragaman. Yang di tahun 80’an, perbedaan menjadi salah satu perjuangan dan dirayakan.

Sebutlah kampanye iklan United Colors of Benetton. Mencari persamaan di tengah perbedaan yang terlihat. Benetton bagaikan sebuah negara sendiri di dunia yang mengakui perbedaan yang merayakannya dengan penuh warna. Terlihat dari koleksi pakaian yang berwarna warni bagai pesta. Model yang digunakan pun memperlihatkan keragaman ras dan warna kulit yang ada di dunia.

benetton08

 

benetton-united-colors-of-benetton-small-39307

Atau kampanye Giordano, World Without Strangers yang dengan sederhana menyampaikan bahwa dunia akan lebih indah jika semua saling mengenal dan memahami. Dan tentunya, Giordano adalah pakaian untuk semua orang tanpa pandang bulu. Utopia?

Baru-baru ini, seorang teman yang sedang bersepeda di kawasan BSD dengan nyamannya, mendadak dihadang oleh dua orang pemotor yang kemudian merampas handphone di kantong punggungnya. Kawasan yang tadinya dikira “neighborhood” mendadak menjadi tempat yang asing baginya. Tetangga yang tadinya dikira rukun dan saling menjaga, seketika menjadi pantas untuk dicurigai. Apa sebaiknya kita berusaha mengenal dan memahami pencuri agar tak lagi menjadi orang asing?

Seorang teman yang telah menikah lebih dari 15 tahun, pingsan di ruang meeting kantornya. Saat Ia menerima sms dari suaminya yang meminta cerai. Itu petir pertama. Petir kedua, ternyata suaminya adalah seorang gay dan sudah seumur hidupnya menjalin hubungan dengan banyak pria lain. Orang yang pernah berpacaran selama 4 tahun untuk saling mengenal sebelum menikah, mendadak menjadi orang asing. Orang asing yang berhasil mengelabuinya selama ini.

Seorang karyawan kantor yang telah mengabdikan dirinya di sebuah perusahaan seumur hidupnya, kini sedang berobat mental. Bagaimana tidak? Bos perusahaan yang selama ini telah dianggap abangnya sendiri, setelah terkena narkoba, mendadak menjadi orang yang berbeda sama sekali. Tak lagi bisa mengontrol dirinya lagi dan tak pernah datang ke kantor lagi. Perusahaannya pun hidup segan mati tak mau, sambil berjalan tertatih tatih dengan hutang milyaran rupiah.

Menjadi yang terhebat, terdepan, ternama, terkuat mungkin sudah menjadi mainstream. Ada baiknya kita mencoba untuk menjadi tiada. Mungkin dengan menjadi tiada, kita bisa menghadapi kekagetan dalam hidup dengan lebih waras dan waspada.

Di nisan Yasujiro Ozu, sutradara Tokyo Story, tertulis MU yang berarti  “kenihilan” atau kosong. Nothingness. Ozu percaya dengan menjadi nihil, kita bisa menjadi lebih bertenaga. Kekuatan akan selamanya bisa dilawan, karena selalu ada yang lebih kuat dari yang kuat. Tapi kenihilan tak bisa dilawan. Karena sifatnya yang tak bersifat, maka kenihilan menyerap segala yang terjadi di sekitarnya. Seperti sponge kering. Kenihilan pula yang membuat kita tak berharap tapi malah menyerap. Bukankah harapan pula yang sering membuat kita kecewa?

Seorang teman dekat saat mendengar konsep ini pernah berkata “mungkin lebih mudah dicerna kalau kenihilan itu kita sebut saja berserah, atau pasrah”. Ada benarnya, tapi sayangnya pasrah dan berserah lebih sering diartikan tanpa usaha sama sekali.

Manusia dewasa bisa belajar menihilkan diri dari anak kecil. Bayangkan setiap hari anggaplah kita belum pernah melihat apa-apa seumur hidup. Maka matahari pagi jadi mengagumkan. Bayangkan setiap di kantor anggaplah kita belum pernah belajar apa pun dan belum memiliki pengalaman kerja sedikit pun. Maka semua menjadi terasa baru dan menantang untuk dikerjakan. Bayangkan jika setiap kali kita jatuh cinta, seperti cinta pertama. Betapa indahnya cinta yang saat ini.

You have seen nothing.

You have experienced nothing.

You have felt nothing.

You have done nothing.

You have tried nothing.

You are nothing.

Therefore you are something.

 

Posted in: @linimasa

7 thoughts on “Jadilah Tiada Leave a comment

  1. Biasanya Senin pagiku di hangatkan oleh postingan nakalnya om Bangko, tapi kali ini aku gak ngerti kenapa om Bangko membuatku sedih sedihan soal bunga senja dan penyesalan. 🙁

    Tapi tulisan om Glenn brought back the sun shine in to my working station.

    Semangat…

  2. “Bayangkan setiap hari anggaplah kita belum pernah melihat apa-apa seumur hidup. Maka matahari pagi jadi mengagumkan. Bayangkan setiap di kantor anggaplah kita belum pernah belajar apa pun dan belum memiliki pengalaman kerja sedikit pun. Maka semua menjadi terasa baru dan menantang untuk dikerjakan. Bayangkan jika setiap kali kita jatuh cinta, seperti cinta pertama. Betapa indahnya cinta yang saat ini”

    I’ve been there 1 years ago,

    pindah ke kota dimana bahkan bahasanya pun aku tak mengerti,
    dalam ke tidak mengertian aku banyak tersenyum dan tertawa,
    saat itu orang pikir aku gila,
    saat itu aku pikir semua menarik

    satu tahun berlalu,
    saat semua sudah mulai dipahami,
    sudah tidak lucu lagi.

    mungkin saat nya untuk pindah lagi.

Leave a Reply