Berbagi Cerita

Hidup adalah pembelajaran tanpa akhir, katanya. Namun terlepas dari kebenaran ungkapan tersebut, setidaknya memang ada banyak hal yang saya pelajari dalam sepekan belakangan. Lewat bertemu dan berbincang dengan orang-orang yang hidup sederhana tapi punya komitmen melakukan hal-hal baik, dan terus berupaya menyebarkannya kepada orang lain demi kebaikan bersama meskipun lewat cara-cara yang less sophisticated ketimbang kaum urban kota besar Indonesia.

Difoto tahun 2013.

Foto di atas menampilkan keindahan alam di lingkar luar pulau Kakaban, bagian dari kepulauan Derawan di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Dari permukaan laut, kita bisa langsung melihat pemandangan di dasarnya. Itu pun baru di daerah dangkal, belum lagi di bagian yang lebih dalam, dengan hamparan terumbu karang yang makin menakjubkan. Sayangnya, kecantikan bawah laut itu sedang berhadapan dengan ancaman pengeboman oleh nelayan pulau-pulau sekitarnya. Potensi porak poranda.

Saya setuju dengan teori yang menyatakan bahwa pada dasarnya manusia itu punya iktikad baik, selalu resah dengan ketidakpatutan di sekelilingnya, dan berusaha melakukan perbaikan. Begitupula yang dilakukan sejumlah nelayan di Tanjung Batu, pesisir Kabupaten Berau. Kegundahan mereka berasal dari pemikiran tentang masa depan; apa yang bakal mereka tinggalkan untuk anak cucu? Apakah laut yang dasarnya sudah rusak, atau populasi ikan yang menipis setelah dihajar bom?

Berangkat dari kesadaran bersama untuk berhenti melakukan kejahatan lingkungan, sekelompok nelayan pun berusaha mendekati petugas sejumlah instansi. Meminta mereka melakukan patroli laut di malam hari, demi menekan kesempatan para nelayan nakal melakukan aksi pengebomannya.

Mereka bilang, mereka tidak punya anggaran untuk patroli begitu. Jadi, kamilah urunan, kumpulkan duit sama-sama untuk mereka bisa patroli. Berikutnya, kami pun ikut patroli sama-sama,” kata salah satu nelayan.

Keadaan makin berkembang, mereka pun menyadari bahwa pengelolaan dana masyarakat harus dibarengi dengan pertanggungjawaban yang jelas. Tidak sekadar menghimpun uang dan mempergunakan untuk operasional patroli petugas, mereka mulai membentuk panitia kecil-kecilan. Hingga kemudian, organisasi nelayan itu mereka namakan Jaringan Nelayan (Jala).

Tidak bisa hanya mengandalkan patroli petugas dan tersandera anggaran, mereka pun melakukan banyak hal lain. Patroli mandiri tetap mereka jalani, dibarengi dengan upaya sosialisasi dan pendekatan kepada para nelayan pengebom yang tak lain adalah rekan, tetangga, sepupu, ipar, bahkan saudara sendiri.

Di situlah kami berpikirnya, kalau bisa jangan sampai ditangkap. Mereka keluar belum tentu tobat, apalagi kita juga kenal. Makanya kita pikirkan cara yang lain, kita ajak mereka cari rezeki baik-baik,” tambahnya.

Mereka memang hanya para nelayan. Tidak sedikit yang cuma mengenyam pendidikan paling mentok sampai SMA. Makin parah dengan kondisi infrastruktur. Lokasi mereka mesti dicapai dengan tiga jam perjalanan darat di jalur yang cukup sempit dan tidak semuanya mulus, dan aliran listrik hanya bisa mereka nikmati mulai magrib sampai jelang subuh. Namun langkah yang mereka lakukan sangat serius, tidak kalah konkret dengan tindakan para aktivis lingkungan. Para nelayan komunitas Jala, fokus pada konservasi terumbu karang sekaligus aspek sosio-kultural para manusianya.

Ada beberapa alasan yang mendasari tindakan para nelayan nakal mengebom terumbu karang, berdasarkan penuturan anggota Jala.

  1. Ingin mencari uang lebih cepat. Akan tetapi makin gampang uang didapatkan, makin gampang pula uang itu dihabiskan. Dipakai mabuk, main perempuan, dan seterusnya. Saat uang habis dan berutang, mau tidak mau harus kembali melakukan kejahatan lingkungan.
  2. Dorongan istri. Mirip seperti alasan pertama, ancaman dan rengekan istri menjadi senjata yang ampuh untuk mendorong para nelayan melakukan jalan pintas. Uang yang dikumpulkan dipakai untuk membeli perhiasan, dan barang-barang lain demi mendongkrak gengsi.
  3. Ada pengepulnya. Suplai terus dilakukan, selama ada iming-iming dari pemintanya. Semacam lingkaran setan.
  4. Unjuk kemampuan. Ibarat sosok Joker di “The Dark Knight”, mereka tidak memerlukan alasan macam-macam untuk mengebom, melainkan sekadar untuk membuktikan bahwa eksistensi mereka masih nyata. Ekosistem laut pun jadi korbannya.

Empat alasan ini yang tengah diperangi komunitas Jala. Bukan lagi pakai cara represif semacam memanggil polisi untuk menggerebek tempat perakitan bom, menyita barang bukti, dan sejenisnya, melainkan dengan berbicara dari hati ke hati. Setelah sekian lama, akhirnya jumlah pengebom terumbu karang berkurang, namun masih ada. Dan justru, kemenangan-kemenangan berhasil mereka raih tanpa peperangan nyata.

Saya mantan tukang bom, saya sudah tobat. Dan sekarang guru saya membuat bom pun sudah berhenti melakukannya. Di situ yang paling berkesan buat saya,” tutur anggota Jala yang lain.

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada pemerintah daerah dan instansi-instansi terkait lain, para nelayan komunitas Jala ini justru lebih banyak berjasa bagi diri mereka sendiri, bagi lingkungan mereka sendiri, pun menggunakan sumber dayanya sendiri. Sebagai orang luar, saya lebih banyak memetik pelajaran dan inspirasi dari mereka, orang-orang sederhana yang hidupnya tidak canggih, yang penting cukup makan, bisa tidur, dan mampu menyekolahkan anak. Sebuah kehormatan, bisa berinteraksi dengan mereka. Saya benar-benar merasa bukan apa-apa, cuma menang gaya.

Dan di luar sana, ada banyak orang-orang sederhana lain yang berhasil jadi pahlawan, setidaknya bagi lingkungan masing-masing.

Bagi kita–yang ngakunya–orang kota, tidak perlu jadi nelayan baik untuk bisa berjasa, bahkan tidak perlu kelimpungan berusaha jadi pahlawan. Cukup lihat, pahami, dan yakini akan hal-hal baik, dan terus berusaha menjaganya. Anda menjadi orang baik bukan karena pengakuan orang lain, bukan pula karena dorongan luar. Anda menjadi orang baik karena diri sendiri.

[]

Iklan

One thought on “Berbagi Cerita

  1. Terima kasih untuk menukiskan ini ya Koko Halim. Meminjam baris2 dr Mas Willy, ” apakah artinya berkesenian, bila terlepas dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan”. Rokenrol.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s