Habis Gelap Terbitlah Terang

Apa yang biasa Anda lakukan setelah menonton film?

Sudah pasti jawabannya beragam. Yang jelas kita akan bernafas sejenak karena filmnya sudah selesai, lalu mengeluarkan telepon selular untuk melihat pesan-pesan masuk, dan beranjak dari tempat duduk. Setelah itu, ada yang ke toilet, ada yang langsung menuju tempat parkir, ada juga yang langsung memberitahukan pacarnya via telepon, “Kamu di mana? Aku sudah selesai nontonnya.”

Kalau saya, makan steak.

Tentu saja tidak setiap saat. Tapi inilah yang terjadi hari Sabtu lalu, ketika saya dan teman saya, Winny, selesai menonton film berjudul Steak (R)evolution, salah satu film yang diputar dalam rangkaian festival film Eropa tahunan, yaitu Europe on Screen. Dari judulnya saja sudah ketahuan jenis film ini.
Ya, film dokumenter ini berkisah tentang perjalanan steak connoisseurs Franck Ribiere dan Yves-Marie Le Bourdonnec pergi keliling dunia mencari “the best steak in the world”. Namanya juga film dokumenter. Yang membuat dan menggagas filmnya sendiri adalah pakar kuliner. Tentunya film ini dibuat pakai hati.
Secara acak kita diperlihatkan 10 restoran yang menyajikan steak dalam berbagai variasi penyajian, lengkap dengan proses pengolahan daging, mulai dari cara mereka mengembangbiakkan sapi olahan, sampai ke cara memasak. Bayangkan saja, selama dua jam, kita disuguhi pemandangan aneka steak dengan banyak extreme close-up shots seperti di foto di bawah ini.

Bukan sekedar steak, tapi ini benar-benar adegan film "Steak (R)evolution"! (Courtesy of Hawaii International Film Fest.)
Bukan sekedar steak, tapi ini benar-benar adegan film “Steak (R)evolution”! (Courtesy of Hawaii International Film Fest.)

Apa gak jadi laper ngeliatnya? Apalagi hampir seratus penonton yang hadir di pertunjukan saat itu. Fokus kami semua benar-benar tertuju pada tontonan di layar lebar, di mana sekeliling kami gelap, hanya ada suara dan gambar dari layar, sehingga terdengar komentar-komentar dari penonton seperti “wooow!”, atau “gila, gede banget (dagingnya, maksudnya)”, atau “sialan, enak banget kayanya!”

Dan akhirnya di hari Sabtu sore yang cerah tersebut, tanpa hujan dan tanpa macet, saya dan Winny pergi ke restoran steak terdekat seusai film berakhir. Kami memesan sepiring tenderloin berukuran cukup besar untuk berdua. Dengan berbekal “ilmu” yang barusan didapat dari film, yang mungkin membuat pelayan restoran cuma bisa membatin “ih, ini pasti customer sok tahu!”, kami memesan daging impor dari Amerika Serikat, bukan dari Australia atau Selandia Baru, karena dua negara terakhir ini bahkan tidak disebut sama sekali di film itu.

Pesanan makanan datang, dan rasanya sesuai apa yang kami perkirakan. Meskipun tanpa potongan gambar, musik latar pengiring film, kami cukup menikmati steak tersebut sambil sesekali ngobrol tentang film yang barusan kami tonton. Selebihnya kami membicarakan hal-hal lain, sebelum akhirnya berpisah dan menghabiskan malam Minggu sendiri-sendiri.

Beberapa hari berikutnya, masih di festival film yang sama, saya menonton film dari Belgia berjudul The Broken Circle Breakdown bersama teman saya yang lain, Kenny. Film ini dramatis sekali, karena bercerita tentang jatuh bangun dua orang musisi dalam mempertahankan cinta mereka, terlebih setelah anak mereka sakit keras. Berhubung dua orang tokoh utamanya adalah penyanyi dan pemain banjo yang tergabung di grup musik beraliran bluegrass, maka sepanjang film kita menyaksikan dan mendengarkan lagu-lagu melankolis dengan genre bluegrass dan country yang memperkuat film. Terlihat sekali bahwa para pembuat film sangat mencintai aliran musik ini. Lagu-lagunya menopang jalan cerita. Bagaimana cara mereka menyanyikan setiap lagu disesuaikan dengan adegan yang dimainkan.

The Broken Circle Breakdown (Courtesy of thescienceandentertainmentlab.com)
The Broken Circle Breakdown (Courtesy of thescienceandentertainmentlab.com)

Kenny bilang sih kalau dia merasa “biasa aja” dengan film ini. Tapi sepanjang film, saya bilang dalam hati, “wah, harus punya album ini. Harus dengerin lagi lagu-lagu di film ini.” Dan itulah yang saya lakukan sepulang dari menonton film: membeli dan download album soundtrack film The Broken Circle Breakdown, lalu mendengarkan malam-malam sebelum tidur. Untung saja, malam itu saya tidak mimpi adegan apapun dari film itu.

Bahkan ketika saya mendengarkan lagi beberapa lagu di album ini, tidak ada lagi perasaan menyayat hati yang muncul ketika mendengarkan lagu pada saat menonton filmnya. Sekarang lagu itu berdiri sendiri. Nantinya ketika saya mungkin lupa sama sekali urutan adegan di film itu, lagu-lagunya pun masih bisa dinikmati dengan sempurna.

Tidak semua film bisa membuat kita melakukan hal yang berhubungan dengan film tersebut seusai menonton filmnya. Count ourselves lucky if we can find such film. Jarang buat saya bisa melakukan hal semacam itu. Yang bisa saya ingat adalah sebelas tahun lalu, seusai menonton film Before Sunset di bioskop, saya dan seorang teman, Agatha, melakukan “walk-the-talk” dengan berjalan kaki dari Somerset ke Holland Village, kurang lebih dengan durasi sepertiga film. Rasanya seperti baru kemarin.
Beberapa tahun lalu, menonton film Amour di hari yang sama ketika mendengar kabar bahwa orang tua saya mengalami hal yang sama yang dialami tokoh utama di film tersebut, membuat saya tidak menonton film itu dengan baik, karena pandangan terhalang oleh air mata yang terus menetes dan menggenangi pelupuk.

Dan saat tulisan para pemain dan kru film muncul di layar, lalu lampu bioskop kembali dinyalakan, buru-buru saya menyeka air mata, dan keluar dari bioskop sambil menghela nafas panjang.

Selama dua jam, bisa kurang atau lebih, kita berada di dunia lain ketika kita menonton film. Fokus kita hanya tertuju apa yang di depan kita.
Sekeliling kita gelap. Kita berada di dunia lain, meskipun dunia lain itu bisa saja dekat dengan kita. Kita melihat karakter dan cerita yang, meskipun mirip dengan cerita kita, masih merupakan cerita lain di luar kehidupan nyata. It’s reel life, not real life. Kehidupan nyata terjadi saat lampu kembali dinyalakan. Habis gelap, terbitlah terang.

Dan di saat terang inilah kita baru akan merasa apakah yang ditonton dalam gelap tadi masih patut dirasakan sampai ke kehidupan nyata, atau we just go on, move on, and watch another film in another time.

Jadi, apa yang biasa Anda lakukan setelah menonton film?

4 thoughts on “Habis Gelap Terbitlah Terang Leave a comment

  1. habis nonton winter sleep, makan kfc di sebelah ifi. habis nonton the best offer, makan pepes tahu dan jamur di warung sunda dekat stasiun gondangdia. habis nonton exit marrakech, makan mie titi di resto pelangi dilanjut nyemil bolu gulung oleh-oleh dari sorong.

    habis nulis komentar ini aku laper. perjalanan ke malang masih beberapa jam lagi di atas kereta.

Leave a Reply