Tenggang Rasa & Tepo Seliro

Berpegang teguh pada pentingnya harmoni dan keselarasan sosial, juga menjunjung tinggi keteraturan demi mencapai kemajuan bersama, August Comte menjadi “nabi” positivisme.

Pandangannya boleh disederhanakan dengan semboyan “vivre pour autrui” (hidup demi orang lain). Seolah menunjukkan bahwa sejatinya egoisme harus ditumpas dari perilaku dalam menjalani kehidupan.

Meskipun begitu, ia bercerai dengan istrinya. Ia disebut sering melakukan kekerasan dalam rumah tangga, dan kabur dari rumah sakit jiwa tempatnya dirawat. Entah, apakah tindakannya yang kasar—terlepas dari apa pun alasannya—terhadap sang istri adalah sebuah kekecualian sans olok-olok atas ajaran positivismenya? Ataukah  merupakan bentuk upaya menuju keteraturan.

Lagi-lagi, entah bisa dikategorikan sebagai bentuk implementasi positivisme atau tidak, kemudian ia menjalin asmara dengan perempuan lain yang masih berstatus istri seseorang. Akan tetapi, hubungan asmara yang berlangsung tanpa berahi. Sebuah Platonic Love, yang bagi banyak orang modern masa kini dianggap sebagai sebuah omong kosong.

Mungkin banyak yang menyumpahinya sebagai penghujat agama karena karya-karyanya, maupun lantaran beragam desas-desus soal perilaku seksual, yang didasarkan pada filosofi buah pikirnya. Selajur dengan itu, kondisi kesehatannya yang memburuk, juga diklaim sebagai hukuman tuhan. Nietzsche disebut terjangkit sifilis, entah karena perilaku slebornya dengan para penjaja jasa prositusi perempuan maupun laki-laki, atau malah salah diagnosis—kemudian disebut mengidap gangguan mental.

Makin klop. Nietzsche mengklaim dirinya ateis, yang berpandangan bahwa pembagian karakteristik “baik” dan “buruk” berbasis penilaian agama pada manusia, bukan membawa manfaat. Melainkan menciptakan kondisi mental budak, yang rendah, yang hina, yang bisa diilustrasikan dengan celetukan: “ah, saya ini hina, banyak dosa, tidak pantas duduk bersama…(isi dengan sebutan pemuka agama)“.

Ia menilai agama adalah hasil gubahan manusia, yang penuh galat membingungkan berupa hubungan sebab dan akibat, serta kembali disajikan kepada manusia.

Banyak yang memujinya sebagai pendobrak pola pikir (secara kontekstual). Tak sedikit yang mencacinya sebagai penjahat moral.

Bagi penganut strukturalisme kiri aliran keras, entah Leninis atau Stalinis, semua struktur dan hegemoni memiliki potensi melemahkan individu dalam bertindak secara efisien. Jangan salah, tidak hanya berbicara jalur vertikal antara buruh dan majikan. Perspektif itu bahkan mengobrak-abrik persepsi luwes dan etis antarmanusia dalam lingkup keluarga. Maaf bila keliru beranalogi, tapi contohnya dalam struktur hubungan orangtua dan anak. Posisi orangtua lebih tinggi, dan lazimnya menjadi sosok yang dipatuhi. Secara strukturalisme radikal, posisi yang demikian berpotensi melemahkan sang anak dalam bertindak. Ada benarnya, tapi debatable. Misalnya ketika sang anak ingin jadi pemusik, tapi diharuskan orangtua bersekolah akuntansi keuangan. Dan harus patuh, biar tidak dianggap tercela secara etika.

Sedangkan pelaku kajian strukturalisme kanan, menggunakan pendekatan sebaliknya. Yakni menitikberatkan proses perubahan menuju tujuan, dari puncak struktur.

Ibarat ucapan “selamat hari anu, bagi yang merayakan,” filsafat dan semesta penuh kerumitan di dalamnya menawarkan ekstase tersendiri, khusus bagi mereka yang doyan dan punya banyak waktu “berbincang” dengan para mendiang serta sesama simpatisan. Dari segudang buah pikir yang benar-benar menyegarkan, yang dapat kita sepakati, yang kita tolak jauh-jauh, yang saling menguatkan dan menyebabkan perluasan kajian, maupun argumentasi yang saling hantam karena berlawanan, semuanya beradu kecocokan dengan pemahaman yang lebih dulu bercokol di pikiran kita. Tanpa disadari, evaluasi tersebut pun bisa membuat kita memiliki label tersendiri: konservatif, kuno, ortodoks, liberal, pragmatis, materialis, moderat, post-modernist, dekonstruktif, sampai wismbuhitif saking enggak jelasnya.

Namun ihwal tulisan ini bukan semata-mata menunjukkan sekelumit dari beragamnya pola pikir filsuf lintas zaman di seluruh penjuru dunia, yang bisa dijadikan preferensi bersikap. Melainkan juga ingin berbagi perasaan; sehabis membaca tulisan-tulisan maupun terlibat dalam diskusi-diskusi tentang filsafat, gue langsung berasa bego dan beloon.

Bukan Badai Serotonin, tapi Badai Seroret-teroret jadinya. Kepala berasap.

[]

Iklan

2 thoughts on “Tenggang Rasa & Tepo Seliro

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s