Tidak Kurang

Mata pelajaran bahasa Indonesia, 20 tahun lalu, mengajarkanku kalimat sopan. Tujuannya agar kami bicara dengan tata krama sesuai norma saat itu. Hal ini semacam menggulai bahasa agar terasa manis. Entah siapa yang mulai.

Misal. Jangan gunakan “saya tidak setuju,” tapi pakai “saya kurang setuju.” Jangan katakan “saya tidak suka masakan itu,” tapi “saya kurang suka masakan itu.” “ada perlu apa?” jadi “ada yang bisa saya bantu?

Guru dan seluruh muridnya ndak paham akibat dari mengganti kata TIDAK dengan KURANG. Waktu itu dipercaya kata KURANG akan melunakkan maksud dari TIDAK. Karena TIDAK dianggap keras. Bahkan kasar. Kebiasaan ini akhirnya menulari banyak kalimat. Dari “saya kurang enak badan” sampai “dia kurang waras.”

Akibat terberat dari kebiasaan ini adalah, betapa sulitnya kita berkata TIDAK. Kita jadi bangsa peragu yang mudah diombang-ambing aneka ajakkan. Tanyakan agen pemasaran atau pengemudi taxi gelap di Bandara. Berapa banyak pelanggannya yang bermula dari ndak mampu bilang TIDAK.

KURANG memberikan efek permisif. Ia bisa ditawar. Melengkung mengikuti keadaan. Cukup optimis akan menyesuaikan diri seiring waktu. Aku curiga, banyak orang ndak waras di negeri ini menduduki suatu posisi hanya karena “kurang waras” bukan berarti gila.

Kenyataannya, “kurang setuju” bisa jadi “setuju” hanya dengan Rp. 10,000,000,. Ribuan peraturan yang TIDAK memperbolehkan seseorang melakukan kejahatan ikut melunak. Hukum yang mengikat jadi longgar karena dibayar. Cukup gelontorkan Rp. 3,000,000,- dan makan malam di E&O untuk oral sex dengan seorang laki-laki metrosexual (baca: KURANG homosexual).

TIDAK sama perlunya dengan kata lain dalam membangun maksud. Ia menolak. Bahkan punya makna ketegasan tertentu yang ndak dimiliki KURANG dan BELUM. Ia juga hadir secara naluriah. Perhatikan anak-anak. Mereka mengucapkan TIDAK dengan lugas. Beberapa anak bahkan melempar atau menendang untuk mengungkapkannya.

image
Grumpy cat. Sumber: Google

Perhatikan dua kejadian berikut ini.

Agen: “Halo, bisa bicara dengan Pak Doni?
Doni: “Ya, saya sendiri.
Agen: “Bapak. Selamat! Anda terpilih sebagai pemegang kartu kredit Platinum dari Bank kami.
Doni: “maaf Mbak, saya sedang kurang perlu saat ini.
Agen: “yaaaah, kenapa Paaaak? Sayang kan… cuit cuit cuit cuit…

Kita putar ulang umur Doni 30 tahun ke belakang dan biarkan ia lakukan percakapan yang sama.

Agen: “Halo, bisa bicara dengan Pak Doni?
Doni: “IYA MAU APA?
Agen: “Eh anu Pak. Selamat! Anda terpilih…
Doni: “NDAK MAU!

Habis perkara. Atau, skenario lain.

Agen: “Halo, bisa bicara dengan Pak Doni?
Doni: “IYA MAU APA?
Agen: “Eh anu Pak. Selamat! Anda terpilih…
Doni: *LEMPAR PONSEL*

Habis perkara. Beli lagi. Horee!

Iklan

One thought on “Tidak Kurang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s