Buang Buang Waktu

Apa salahnya dengan macet Jakarta? Sudah makanan setiap hari tapi mengapa masih mengesalkan juga. Tiang pancang yang dibangun lengkap dengan papan bertuliskan penjelasan apa yang sedang terjadi dan permohonan maaf karena jalanan terganggu. Rupanya pemprov DKI lupa, bukan hanya soal kemacetan yang mengganggu, tapi adalah waktu yang terbuang karenanya.

pembangunan-mrt-jakarta-260913-ds-1-620x330

Saking tidak menghargainya waktu, tidak dijelaskan sampai kapan “gangguan jalan” ini akan berlangsung. Seperti kekesalan yang entah sampai kapan. Seandainya saja mau sedikit peduli, tulis saja tenggat waktu proyek ini dengan margin proyek terlama. Dua tahun sekali pun tetap lebih baik dituliskan ketimbang tidak sama sekali. Selain tentunya, sebagai bentuk pertanggungan jawab penyelenggara proyek kepada warga Jakarta.

Lupakah Pemprov DKI bahwa waktu adalah uang? Setiap detik adalah uang. Setiap waktu terbuang sama dengan uang terbuang. Walau tidak pernah ada yang bisa menjelaskan berapa nominal waktu yang terbuang kalau benar waktu adalah uang. “Ini macet benar-benar buang waktu!” umpatan sehari-hari warga Jakarta.

Tapi benarkah waktu begitu berarti sehingga haram untuk dibuang-buang?

Toh pada saat mengantre di ATM. Di sebuah anjungan multi ATM, salah satu bank terbesar di negara ini akan memiliki antrian terpanjang. Semua ingin mengambil uang hanya di mesin ATM bank bersangkutan. Walau di sebelahnya ada banyak pilihan ATM Bank lain. Rela membuang waktu untuk mengantri dan tak rela membayar Rp 6.500,- sampai Rp 7.500,- untuk menggunakan ATM Bersama dari bank lain. Bahkan beberapa Bank menerapkan Rp 0,- untuk layanan tarik tunai di ATM berbeda. Padahal bisa menghemat 5-15 menit waktu mengantre.

foto20140729113644-news

Atau di mall yang ramai saat jam makan siang di sebuah pusat perkantoran di Jakarta. Para eksmud rela mengantre di depan lift ketimbang naik eskalator. Apalagi tangga. Padahal bisa menghemat 3-5 menit kalau saja rela sedikit capek dan berolahraga. Waktu tak boleh dibuang-buang toh?

IMG_0573

Masih kurang bukti? Coba tengok para penyelenggara negara yang sibuk berkicau di Twitter. Bukankah mereka seharusnya menjadi orang-orang tersibuk di negara ini? Dan waktu bukan saja berarti tapi juga barang langka. Toh masih sempat berkicau bahkan bercanda di Twitter menjawab para pengintil yang lebih sering iseng. Multi tasking? Sepertinya belum terbukti. Karena sampai sekarang masalah di negara ini lebih banyak yang tidak beresnya ketimbang yang beresnya.

Tangkaplah seorang warga Jakarta di jalan, dan tanyakan “lagi apa?”, 80% bisa dipastikan akan menjawab “lagi sibuk!” Sibuk apa tidak pernah bisa dijelaskan. Sibuk mengantre di depan ATM? Sibuk kena macet? Sibuk ngetweet? Yang penting sibuk. Dan tidak ada waktu. Tidak boleh dibuang-buang.

Padahal, apakah waktu milik kita? Milik warga Jakarta? Bukankah ada Sang Waktu yang menganugerahi kita dengan waktu? Kalau waktu bukan milik kita, bagaimana mungkin bisa dibuang-buang?

Dalam sebuah meeting produksi, ketika Bos dari pihak Klien mengabarkan tenggat waktu yang dipercepat 2 minggu, membuat semua orang di ruangan itu sontak berteriak. Dengan tenang Bos itu berkata “Ini kan cuma soal waktu. 2 minggu lagi atau 2 bulan lagi apa bedanya?”

Posted in: @linimasa

3 thoughts on “Buang Buang Waktu Leave a comment

  1. aku mah apa atuh, waktu itu ya tinggal nikmati aja, kan kalau sudah ‘waktu’-nya gak terasa ada yang terbuang, lagipula masih banyak yang dibuang sayang. bicara sayang, kok aku makin sayang sama kamu *eh

Leave a Reply