You are (Truly) What You Eat

Seminggu yang lalu, saya berada di Medan untuk acara majalah yang saya kelola dengan sebuah bank. Topik pembicaraan untuk para pelanggan prioritas kali itu adalah soal makanan dan kesehatan. Dan terus terang saya menjadi bersemangat untuk hadir begitu mengetahui nara sumbernya; Dr. Tan Shot Yen.

“Dok, saya ngefans banget loh, semenjak saya membaca tulisan mengenai kita tidak perlu nasi di Kompas beberapa bulan yang lalu dengan mengutip dokter. Terus terang saya waktu itu baru tahu kalau ada dokter yang alirannya seperti itu di Indonesia, selama ini saya selalu mencari referensi dari buku-buku luar.” Tanpa banyak basa-basi saya langsung meminta berfoto bersama Dr. Tan. Berkat kalimat pembuka juga akhirnya kami duduk sambil menunggu acara dimulai dan beliau “mengomeli” saya tentang referensi, karena ternyata buku beliau sudah 4 diterbitkan, dan satu lagi dalam proses. Kami kemudian mengobrol banyak soal pola makan, apa yang selalu didengungkan sebagai diet oleh orang Indonesia, dan bagaimana tingkat kesejahteraan (daya beli) yang meningkat pesat tetapi tidak diimbangi dengan pengetahuan membuat angka penyakit (yang bukan termasuk penyakit menular) jadi meroket.

Untuk yang belum familier dengan apa yang Dr. Tan lakukan di praktiknya di BSD, beliau “mengedukasi” pasiennya (dengan caranya yang galak dan suaranya yang keras) bahwa sumber karbohidrat seperti gula, nasi, gandum, tepung, bahkan umbi-umbian berpati tidak baik untuk kesehatan karena efeknya terhadap gula darah dan kemudian insulin. Karena gula darah yang berlebihan, ketika insulin tidak lagi mampu untuk mengolahnya dan menyalurkannya ke sel yang membutuhkan akan ditumpuk sebagai lemak. Hormon insulin yang naik turun drastis akibat jenis karbohidrat yang kita konsumsi juga banyak efek buruknya ke tubuh kita; dari mulai pengerasan pembuluh darah, terbentuknya plak pembuluh darah, peradangan yang berkepanjangan, masalah kepala dan otak juga fungsi memori dan perilaku.

Maafkan kalau saya terbaca terlalu menyederhanakan teori ini, tetapi kalau dijabarkan dari awal bisa jadi 2 sampai 3 bab buku. Kalau ingin tahu lebih banyak saya akan berikan beberapa bahan pustaka. Kemudia saya mengutip Dr. Tan lagi. Beliau mengatakan banyak sekali pasiennya yang ketika diminta tidak mengonsumsi nasi, roti, kue-kue, mie, ubi, kentang, lalu bertanya, “terus saya makan apa dong dok?” Jawabannya; protein hewani atau non hewani (Dr. Tan tidak menganjurkan daging dari binatang berkaki empat karena pakan ternak jenis ini yang akhir-akhir ini kurang meyakinkan), lalu sayuran dan buah sebagai sumber karbohidrat, dan jika masih ingin mengudap; kacang-kacangan dengan jumlah tak berlebihan. “Sayur dan buah itu sumber karbohidrat?” You better believe it, and they’re the best kind of carb. Diolah seperti apa makanan tersebut? Sebisa mungkin jaga agar bentuk aslinya tetap terjaga. “Ada alasan kenapa Tuhan menciptakan buah manis tetapi dengan serat,” kata Dr. Tan. Fungsinya adalah agar gula di buah terserap dengan perlahan, lanjut beliau, jadi jika dibuat jus buah kurang lebih jadi sama saja efek ke gula darahnya dengan minuman manis lainnya seperti soda. Protein sendiri boleh diapakan saja, bahkan dimasak dengan santan.

http://familyfarming.taproduce.com/2015/01/six-ways-cauliflower-will-rise-to-the-top-in-2015/
Dari dulu hingga sekarang, piramida makan sampai dalam bentuk piring/ pie chart tetap merekomendasi grains.

Mungkin saya harus sebutkan lagi kalau Dr. Tan bukan jenis dokter yang pasien sambangi kalau ingin kurus. Yang datang ke beliau adalah pasien yang pernah stroke, penderita darah tinggi, kolesterol tinggi, dan diabetes. Dr. Tan juga tidak akan langsung memberi obat, tetapi me-review kebiasaan makan pasiennya terdahulu untuk lalu memberikan pola makan baru. “Saya tidak suka pasien yang patuh. Saya lebih suka pasien yang ngerti.” kata Dr. Tan. Pasien yang mengerti apa yang menyebabkan penyakit yang dideritanya dan bagaimana gaya hidup yang baru akan menyelamatkan raganya. Bukan yang seperti memakai kacamata kuda menuruti nasihatnya, dengan dalih, “disuruh dokter begitu.”

Hal tersulit memang menghapus pengetahuan yang kita percayai benar karena sudah kita dengar sejak kita kecil. Bahwa nasi adalah makanan pokok yang setiap hari kita harus konsumsi. Bahwa susu baik untuk tubuh bahkan “menyempurnakan” pola makan, dan anak kecil membutuhkan susu sapi setelah lepas dari susu ibu. Bahwa otak kita membutuhkan glukosa yang dikonsumsi untuk bekerja. Bahwa lemak yang kita makan akan jadi lemak di tubuh. Bahwa kolesterol yang kita makan akan menyebabkan angka kolesterol tinggi. Dan masih banyak lagi ideologi lama yang bisa kita periksa kembali jika kita mau mencari referensi di luar sana. Dr. Tan dan saya pun berpikir sama kalau di dunia yang ideal, hal seperti ini harusnya lebih mudah tersebar informasinya daripada iklan makanan kemasan seperti sereal yang melulu gula dan susu UHT di TV.

Foto dari: https://marghuntley.wordpress.com/2012/12/
Foto dari: https://marghuntley.wordpress.com/2012/12/

Dua tahun yang lalu saya menderita migren paling tidak dua kali seminggu, dan obat penghilang rasa sakit adalah sahabat saya (pelanggan setia Neuralgin, halo), sering masuk angin kalau keluar malam, sering menderita ngilu tulang atau otot berkepanjangan, selalu merasa lelah dan cenderung mudah depresi. Berkat teman-teman saya yang sehat dan pandai saya dikenalkan oleh pola makan sejenis seperti yang direkomendasi oleh Dr. Tan, dan sekarang semua yang di atas nyaris saya tidak pernah alami lagi, walaupun usia bertambah. Saya juga lebih bahagia dan lebih bisa punya pandangan positif tanpa usaha terlalu besar (walau mulut silet tidak bisa dihilangkan, karena itu sepertinya dari lahir).

Boleh penasaran, boleh pula diabaikan. Seperti kata pelatih Master Bootcamp saya, Mas Edi tersayang, “dietmu, dietmu, dietku, dietku”.

Buku rekomendasi untuk referensi:

Saya Ingin Sehat dan Sembuh oleh Dr. Tan Shot Yen (ringkas dan padat, penuh informasi berguna, walau editing agak kurang mengalir).
Grain Brain oleh Dr. David Perlmutter (lengkap, jelas dan nikmat dibaca)
Good Calories, Bad Calories oleh Gary Taubes (dari sisi seorang jurnalis)

Iklan

2 thoughts on “You are (Truly) What You Eat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s