Easier Said Than Done

Apakah sikap “standar ganda” bisa langsung disamakan dengan sikap “munafik” atau “kemunafikan”? Mungkin banyak yang setuju, mungkin tidak sedikit yang menolak, atau barangkali ada yang menjawabnya dengan: “tergantung konteks”. Setiap orang berhak mempunyai pandangan berbeda mengenai hal ini, lengkap dengan alasan dan latar belakang argumentasi masing-masing. Dan eloknya, saya tidak perlu bersikap sok pandai menjabarkan asumsi psikologis atas masing-masing jawaban di atas.

Mari bermain-main dengan contoh saja. Disclaimer-nya, tulisan-tulisan di bawah ini bukan untuk membangun opini yang beraneka ragam. Lagipula, akan jauh lebih penting membangun rumah tangga yang harmonis, demi hidup yang lebih bahagia dan generasi penerus bangsa yang berkualitas. EHEM!

  • Aparat hukum republik ini akan memvonis mati para penjahat bidang narkotika. Seperti yang terjadi dini hari tadi, ada delapan orang yang dipaksa lekas-lekas kembali ke ribaan-Nya. Namun dari jumlah tersebut, tujuh di antaranya adalah warga negara asing. Menyisakan satu yang tercatat sebagai warga negara sendiri (entah apakah dihukum mati karena kejahatan narkotika, atau lainnya). Lalu, bagaimana sikap aparat hukum terhadap para penjahat besar urusan narkotika lainnya, yang merupakan “produk dalam negeri”? Sebagai catatan, untuk menjawab pertanyaan dalam ilustrasi ini, jelas memerlukan statistik. Biar tidak bias.
  • Masih berkaitan dengan hukum. Apa yang mendasari pemerintah menjatuhkan hukuman mati kepada para penjahat narkotika? Sebut saja bila dibandingkan dengan penjahat kemanusiaan yang bergerak di bidang hajat hidup orang banyak: korupsi. Atau bagi pelaku kejahatan yang linier dengan hukuman mati: pembunuhan.
  • Bahkan bila dipertanyakan secara global, jika hukum melarang keras manusia membunuh sesamanya, mengapa negara memerintahkan aparat untuk membunuh manusia lainnya?
  • Bergeser sedikit. Dalam beberapa hari terakhir, banyak aktivis dalam maupun luar negeri yang menyerukan pengampunan bagi Mary Jane (MJ). Puji Tuhan, setidaknya warga negara Filipina itu tidak termasuk dalam “rombongan” delapan orang di atas. Anggap saja (bila terjadi kesamaan dalam bentuk apa pun, yakinlah bahwa itu bukan kesengajaan), salah satu dari aktivis tersebut ternyata adalah orang dengan pandangan pro-choice bagi perempuan, maupun secara umum. Jadi, kasarnya, ibarat pengusaha fried chicken yang ikut menyerukan pentingnya bervegetarian.
  • Bencana memang tidak sepantasnya dijadikan bahan bercanda, tapi seperti idiom populer “easier said than done”, lebih mudah banyak berkomentar dan menganalisis kejadian tersebut ketimbang membantunya. Itu pula yang terjadi selama ini. Ketika bencana terjadi pada orang lain, ada yang dengan pongahnya menyebut bahwa itu merupakan hukuman tuhan atas kesalahan dan ketidakpatutan. Akan tetapi, kala bencana serupa menimpa diri sendiri, dengan pede-nya disebut sebagai ujian.
  • Atau juga seperti ini, mudah untuk memberikan nasihat kepada orang lain yang sedang alami kesusahan. Meminta mereka untuk sabar, untuk banyak beristigfar, untuk lebih tenang sebelum mengambil tindakan. Pokoknya, berasa jadi orang paling bijaksana sekecamatan. Sebaliknya, saat diri sendiri mengalami kesusahan serupa, tidak ada nasihat-nasihat orang lain yang bisa menembus kekalutan. Pakai berceletuk: “save Your hikmah for Yourself.”
  • Contoh lain yang agak ringan. Seorang cowok menikmati kepiawaiannya sebagai playboy, cenderung lebih menyukai cewek berpembawaan agresif, yang berani tampil seksi dengan rok mini, dan ga pake mikir kalau diundang ke indekos yang bersangkutan. Soal keperjakaan, entah sudah ngacir ke mana. Doyan OTS, hobi NSA. Tapi sang cowok menjadi sangat berang, ketika tahu bahwa adik perempuannya berpacaran dengan cowok berkelakuan sebelas dua belas dirinya. Meskipun pada dasarnya, sang adik melakukan itu dengan kesadaran penuh, dan ternyata juga masuk dalam kategori cewek berpembawaan agresif tadi.
  • Masih dalam lingkungan keluarga. Ketika seorang ayah yang perokok, memarahi habis-habisan putranya yang kepergok merokok. Sang ayah mengeluarkan kalimat andalan: “mau jadi apa kamu? Umur segini sudah merokok!” Dari liang mulut yang sama, juga keluar asap rokok.
  • Selalu menyebut film-film Indonesia kurang bagus, namun jarang atau bahkan tidak pernah menontonnya di bioskop. Tahunya cuma menunggu YouTube atau Ganool.
  • Ada juga yang mengkritik keras gelombang hipsterisme sebagai ketidaklaziman, keanehan yang dibesar-besarkan, upaya meningkatkan eksistensi semata, kehidupan antisosial, dan sebagainya. Namun saat objek hipsterisme tadi menjadi tren, hal populer, mendadak malah menjadi simpatisan.

Ya demikianlah beberapa ilustrasi, yang entah bakal dianggap menunjukkan sikap munafik, sikap standar ganda, or simply just two different things. Seringkali membingungkan, dan kondisi ini selalu terjadi dalam kehidupan.

Memang ya, sesusah-susahnya hidup sebagai manusia, jauh lebih susah menjalaninya sebagai manusia yang bijak dan mampu bertindak tepat.

[]

Iklan

2 thoughts on “Easier Said Than Done

  1. karena ketergantungan seseorang pada sesuatu,
    yang menjadikan mereka merasa perlu mengomentari hal tersebut

    karena,
    butuh itu sudah pasti,
    bergantung itu pilihan

    mungkin ya itu juga 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s