Age of Ultron: Avengers Yang Terlalu Bising Dan Ramai

(mungkin ada banyak spoiler di tulisan ini, jika belum menonton sebaiknya lihat tulisan linimasa yang lain saja, pasti banyak yang belum dibaca dan lebih menarik. Jika sudah menonton–apalagi Marvel fenboi–jangan misuh-misuh ya)

avengers

Sebetulnya saya banyak berharap pada film ini. Setidaknya menyamai dengan pendahulunya. Film yang pertama ramuannya pas, enak dilihat, jalan cerita jelas, setiap karakter pun punya peran yang jelas. Tapi jika anda memang mengikuti komik Marvel dari awal pasti tidak akan ada kesulitan mengikuti jalan cerita ini. Atau mengenali para superhero yang hadir di film ini. Tapi jujur saja semoga film ini bisa melewati raihan yang telah diperoleh oleh The Fast And Furious 7, yang pendapatannya sudah tembus 1 milyar dollar sehingga Fast Furious 8 pun akan segera dijadwalkan untuk diproduksi. Sinetron Tersanjung pun harus segera melipir. Gak ngerti juga kenapa film balap-balapan bisa menyedot begitu banyak penonton. Apa karena Paul Walker sudah meninggal? Mungkin.

Entah apa yang akan ditawarkan oleh Joss Whedon, sang sutradara dan juga penulis naskah dari Avengers: The Age of Ultron, ini selain perkenalan dari Vision yang boleh diacungi jempol. Tapi yang lainnya tidak ada yang istimewa. Proses dibalik “lahirnya” Ultron sebetulnya lebih menarik untuk diulas di di film yang konon bakal menjadi film terakhir Whedon menyutradarai Avengers. Winter Soldiers, The Guardian of Galaxy atau X-Men terakhir lebih oke dari film ini.

Dari segi cerita film ini berusaha menyederhanakan cerita yang sebetulnya agak kompleks. Semuanya terkesan terburu-buru. Marvel mungkin lupa bahwa banyak penonton yang tidak mengikuti komiknya. Atau mungkin film pertamanya. Terlalu banyaknya cameo yang tidak penting pun sebenarnya jadi membingungkan. Padahal Joss Whedon diberi keleluasaan dari segi finansial (film ini menghabiskan 250 juta dollar) dan dari segi durasi film itu sendiri yang hampir menyamai film India, hampir dua jam setengah. Tapi justru dengan keleluasaan ini justru membuat Whedon terlena dan banyak memasukan karakter yang sebetulnya tidak harus muncul dan malah membuat penonton tertegun dan bertanya-tanya.

Efek yang ditimbulkan setelah menonton film ini yaitu ketika saya pipis di urinoir sambil melihat langit-langit. Lho, kenapa saya membandingkan film ini dengan Transformers ya? Two hours of noise. Jangan-jangan sutradaranya Michael Bay? Padahal saya sengaja melakukan advance booking untuk menonton film ini. Takut kehabisan tiket dan terhindar dari spoilers di ranah media sosial yang sering kali terjadi.

Tapi saya yakin film ini tetap akan laku. Amerika terlalu mencintai Avengers dan film ini baru rilis di sana awal Mei nanti. Tapi untuk melewati FF7? Saya ragu. Ini mungkin hanya karena Whedon terbebani dengan kesuksesan Avengers (2012) atau dengan akan rilisnya Dawn of Justice tahun depan dan juga film Star Wars yang saya yakin akan melewati raihan film ini dari segi pendapatan.

avengers1

“So tell me Marvel, do you bleed?” 

nb: gambar saya curi dari internet. 

Iklan

One thought on “Age of Ultron: Avengers Yang Terlalu Bising Dan Ramai

  1. Bergantung tujuan kita nonton sik. Kalau saya nonton film Holywood memang tidak berharap logika. Termasuk bahkan soal kesetaraan gender. Sampai sekarang masih sama stereotipe. Tapi saya menikmati visual effectnya, dan yah sedikit pesan-pesan moral di baliknya. Bagi saya orang-orang Hollywood itu sebenarnya butuh ‘pahlawan’ yang mereka anggap bisa menyelamatkan hidup mereka. Itu saja.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s