Masih Hal yang Sama

Kita baru Kartini-an lagi kemarin. Momen yang–bagi sebagian orang–dirasa tepat untuk kembali berbicara tentang perempuan dan keperempuanannya di Indonesia, baik yang setuju maupun menolak apa pun itu lewat beragam alasannya. Bukan cuma pembahasan antara laki-laki dan perempuan, bahkan juga antara sesama laki-laki, maupun sesama perempuan. Sebab ada anggapan, hanya aktivis saja yang saban hari konsisten berbicara tentang topik ini; memang kerjaannya. Terserah mazhab pikirnya.

Jikalau saya boleh menarik kesimpulan secara diskursif, topik bahasan yang barangkali sudah mencuat sejak pertama kali manusia mengenali perbedaan visual antara penis dan vagina ini, pada dasarnya hanya beranjak dari satu hal: laki-laki dan perempuan tidak sama. Itu saja bukan? Dari situ, seiring perkembangan peradaban manusia di seluruh penjuru dunia, bahasan ini ketambahan perspektif aneka bidang, dibikin rumit dan seringkali tak terjangkau, mbulet ra karu-karuan. Ketidaksamaan antara laki-laki dan perempuan tak lagi sekadar urusan hayati, melainkan dibakukan dalam konsensus sosial kemasyarakatan, kaidah religius, ekonomi dan ketenagakerjaan, pendidikan, kesehatan, hiburan, seni, serta masih banyak lagi. Namun sayangnya, semua pembahasan itu kerap menempatkan perempuan dalam posisi yang pantas didiskreditkan. Meskipun tak sedikit perempuan yang akhirnya mampu memanfaatkan diskredit tersebut, untuk tampil lebih kuat, lebih tangguh, dan lebih digdaya ketimbang banyak laki-laki.

Sampai sejauh ini, saya masih yakin bahwa tidak ada yang lebih unggul (superior) maupun lebih rendah (inferior) dalam bahasan soal perbedaan fisiologis antara laki-laki dan perempuan. Kedua jenis manusia ini setara dalam segala perbedaannya. Itu saja. Akan tetapi, mungkin sejak Hawa terkena bujukan setan dan mengajak Adam melanggar perintah Tuhan bersama-sama sampai diusir jadi penghuni bumi, atau ketika Pandora membuka kotak derita yang melepaskan segala bentuk duka ke dunia, seolah-olah dimunculkan kesan bahwa perempuan adalah pembawa malapetaka. Semenjak saat itu, perbedaan antara laki-laki dan perempuan terus berubah. Dari dua dataran yang terpisah jurang, menjadi dua permukaan yang terpisah tebing. Hasilnya: “perempuan tidak boleh begini!”, “perempuan enggak perlu begitu!”, “buat apa perempuan begitu?”, “dasar perempuan!”, dan sebagainya tanpa melewati proses yang adil terlebih dahulu. Pengebirian kehendak dan pengerdilan. Lagi-lagi disayangkan, banyak perempuan yang kadung tumbuh berkembang dengan pola pikir seperti itu, baik yang diajarkan ayah maupun ibu, sehingga menjadikannya makhluk yang “kalah sebelum berperang” melawan keadaan. Berikut beberapa di antaranya.

  • Perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, karena nanti bakal jadi istri juga, seorang ibu rumah tangga yang tugasnya cenderung domestik.
  • Perempuan harus bersikap nrimo, pasrah terhadap apa yang ditentukan.
  • Perempuan tidak boleh mengejar, tapi harus jadi yang dikejar. Kenapa ada istilah “diperistri” namun tak ada “dipersuami”? Tidak, ini tidak berbicara soal siapa yang membayar maskawin, uang susu, dan objek transaksi kepada siapa.
  • Perempuan tidak boleh bertato.
  • Perempuan harus jadi ibu rumah tangga, biar urusan pendapatan menjadi tanggung jawab suami.
  • Perempuan harus menikah, melahirkan, dan dihinakan bila tidak memberi ASI.
  • Perempuan harus melayani suami, termasuk secara seksual. Sementara para laki-laki belum tentu mampu, atau mau peduli dengan kepuasan sang istri.
  • Dalam banyak kasus, ada perempuan terang-terangan mendapati suaminya berselingkuh. Namun lebih memilih tetap bertahan sambil sakit hati ketimbang berani memutuskan berpisah dan berdiri di atas kaki sendiri.
  • Perempuan dianggap sebagai sumber godaan, menjadi penyebab atas pelecehan yang dialaminya sendiri (what a nonsense!).
  • Perempuan yang bukan perawan dianggap tidak suci lagi. Padahal ada laki-laki yang “sukses” memperdaya, dan dianggap berhasil membuktikan kelelakiannya.
  • Ada bidadari di surga, lalu mana bidadara-nya? Lagian, terasa agak dangkal kalau merendahkan kebahagiaan surgawi ke tingkat paling primordial, berupa kenikmatan yang diperoleh tak jauh-jauh dari lubang.
  • (silakan tambah sendiri…)

Lalu, apa tujuan dari tulisan Linimasa hari ini? Bukan. Bukan untuk menumbukkan antara Feminisme dan Machoisme–yang cenderung lebih berbentuk klub untuk suka ria bersama, bukan juga untuk mengobarkan pertikaian pikiran antara siapa pun. Begitu juga dengan tulisan-tulisan bertopik sama sebelumnya, yang bisa Anda baca kembali di daftar arsip.

Anda perempuan atau laki-laki, saya (atau kami) tidak ngurusi. Anda setuju atau menentang konsepsi soal emansipasi melampaui jenis kelamin dalam arti luas, saya (atau kami) tak terlampau peduli. Yang jelas, perbedaan antara perempuan dan laki-laki itu beranjak dari urusan fisiologis. Perbedaan yang tidak membuat salah satu berkedudukan lebih tinggi ketimbang lainnya. Perbedaan yang tidak menghilangkan kewajiban untuk saling menghormati dan menghargai. Perbedaan yang tidak memangkas kebebasan pribadi untuk memilih dan menentukan sikap dalam hidup selama tidak melanggar kepatutan universal. Perbedaan yang tetap melandasi empati. Perbedaan yang tetap memanusiakan manusia lainnya.

Mengutip kata-kata seorang kawan:

Untuk wanita Indonesia…

Ingat bahwa tidak ada hak masyarakat memaksamu, menyuruhmu, menilaimu atau mengarahkanmu ke suatu standar tertentu. Bukan karena masyarakat tidak baik. Tapi karena mereka tidak pernah serius menilai dan menghakimi para laki-laki.

Dan itu tidak adil.

Tambahan dari saya, omongan masyarakat, cibiran orang lain tidak bakal bermanfaat apa-apa dalam hidup Anda. Cuma bikin lelah, dan sedikit memberikan bumbu drama bagi Anda yang memerlukannya. Tapi ya gitu, kalau dicibir orang rasanya enggak enak, cengli dong kalau tidak mencibir orang lain juga. 🙂

Ya, walaupun pada akhirnya, suka-suka Anda mau setuju dengan isi paragraf sebelum ini atau tidak.

[]

Iklan

2 thoughts on “Masih Hal yang Sama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s