Turun Salju di Jakarta

Siang ini entah kenapa terasa begitu dingin, bersaljukah Jakarta tercinta? Dalam setiap kesempatan aku mendamba turunnya salju di kota metropolitan, semua jadi putih. Sudirman putih. Senayan putih. Tanah Abang putih, rumahku putih. Dan bisa kukenakan kacamata salju pemberian kawanku ini di Jakarta, dan bisa kukenakan mantel bulu cantik ini di Jakarta.

Kupandangi sekali lagi kaca jendela. Semua masih sama saja. Jakarta tetap dalam multiwarna. Hanya hujan turun begitu derasnya. Terjebak di dalam rumah. Hujan ini tidak memberikan sela sedikitpun untuk melempar pandang jauh kedepan, bagaimana aku bisa berjalan? Aku mau keluar.

Baiklah! aku bukan manusia kalah. Kacamata ini kupakai, mantel ini, sarung tangan, dan sepatu boot; semua kukenakan seperti musim salju di bumi belahan utara. Kupantulkan diriku di depan cermin, ya tuhan! seperti beruang madu berambut keriting dan buta.

Tuhan lihatlah! Kau pasti terkecoh. Kubuat ini diluar jalur aturanmu, dan kau tak bisa memahamiku. Kau turunkan hujan, badai, banjir sekalipun. Aku takkan menyerah ya tuhanku. Kenapa bukan kau saja yang menyerah dan berikan apa yang kumau. Aku mau lihat salju di Jakarta!

Sekarang, iringi aku ya tuhan. Kutapaki halaman rumah. Air sudah membasahi rambut dan leherku. Cepat! berjalanlah cepat. Sedikit berlari kujauhi rumahku tadi menyusuri bahu jalan yang panjang ke arah barat. Adakah dia disana? Air mencapai telapak kaki dan sekarang bahkan aku tidak bisa melihat sepatu bootku tadi. Kupaksa kakiku dan terseok, kemudian berhenti. Air menambah hingga lima kali berat mantel panjangku. Menambah lima kali berat sepatuku, lima kali berat baju, celana, kutang, semuanya. Sekarang apa? Kau hentikan aku dengan air ya tuhan? Tidak! aku tidak mau pulang. Aku belum menemukannya…

Tepat seratus kaki dari pintu. Aku berhenti, diam, berdiri, statis untuk waktu yang tidak ditentukan. Kini air sudah menenggelamkan pantat hingga sejajar pinggang. Aku tidak bergerak, tidak bisa kugerakan badan ini. Kini aku seperti beruang yang menunggu ikan salmon di hulu sungai. Sepi, ditemani suara hujan. Berdenting bergantian. Sejenak hening. Aku dengar bisikkan. Aku tidak mau pulang!

Badan ini terhuyung ke kiri, ke kanan, airnya bergejolak. Apa gerangan yang terjadi? Tuhan akankah kau merobohkanku lalu tenggelam-mati? Robohlah aku digelayuti banjir yang semakin tinggi. Jeritku ditelan hujan. Hanya kaulah tuhan, yang mampu membawaku pulang. Aku tidak peduli pulang ke rumahku atau rumahmu.

Tidak puas air menyelinap dalam pakaian dan kulit, dia juga hendak memenuhi paru-paru dan perutku. sekarang semua tampak biru-abu. Hingga…

Tunggu! ada yang datang. Kupaksa mataku untuk membuka lebar, siapa itu? Kaukah itu? Semakin dekat. Diraihnya aku dengan tenaga yang amat besar, dia laki-laki. Berarti dia bukan tuhan.

Kau sekarang selamat beruang bodoh!” Hanya teriakan ini yang kudengar. Dan hitam…

image

Aku kenal ruangan ini. Bukan akhirat. Ini kan kamarku? Kenapa aku kembali, bukankah aku tidak menyerah?

Ada kertas putih lebar di atas bantal. Kusapu tulisan yang mengotori kertas itu dengan mata dan seksama… Ah, akhirnya Kau menyerah tuhan.

Beruang bodoh! apa kau mau mati? Lain kali kalau mau bunuh diri jangan di depan mataku. Kalau sudah bisa buka mata hubungi aku: 0856100000.

Beruang Jantan

NB: Jangan dulu mati sebelum kau menemuiku

Kudekap kertas itu, jantung ini berdegup kencang. Ia melampaui desah nafasku sendiri. Segera aku melompat ke arah jendela dan kubuka lebar-lebar tirainya. Akhirnya. Akhirnya turun salju di Jakarta.

Hanya manusia yang jatuh cinta yang dapat melihat salju di Jakarta

Iklan

2 thoughts on “Turun Salju di Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s