Sepuluh Tahun yang Lalu

Dia pernah berpikir kalau dia tidak percaya takdir. Manusia akan menjadi apapun yang mereka ingin jadi, belanya. Tapi hari ini dia tidak begitu yakin. Bangun pagi, minum kopi, berangkat kerja, makan siang, pulang ke rumah, istirahat Cuma jadi rutinitas yang dilakukan tanpa arti. Cuma badannya yang di tempat. Dia sedang terbang. Jauh. Ke depan. Ke belakang. Ke semua persimpangan jalan yang sudah dilaluinya. Ke pilihan-pilihan yang sudah dibuatnya. Yang akhirnya membawanya ke tempat ini. Keadaan ini. Umur 30.

“Ingatlah kalau takdir setiap manusia sudah ditentukan oleh Tuhan,” samar-samar dia ingat guru ngajinya pernah berkata,”Manusia boleh berusaha, tapi akhirnya Tuhan juga yang menentukan.” Dia ingat kalau dia sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud oleh sang guru. Dia masih terlalu muda. Dia waktu itu belum membuat pilihan sendiri. Orangtuanya yang setiap hari menentukan dia harus berbuat apa dengan cara bagaimana. Ternyata hal itu walau tidak memerdekakan, tapi cukup nyaman.

Pernyataan guru itu kemudian terlupakan. Beranjak dewasa, dia sedikit apriori terhadap agama yang digembar-gemborkan oleh ‘kyai’ atau ‘ustadz’ karena semua seolah menyebar kebencian dan self-righteousness. Apa iya Tuhan menginginkan kita membenci sesama umat manusia yang tidak sepaham? Apa iya kita bisa menentukan kita berbuat dosa atau tidak dengan meminta persetujuan ‘pemuka agama’? Apa semua yang ‘dihujat’ oleh pemuka agama adalah buruk dan yang ‘dipuji’ adalah baik? Apa bedanya pemuka agama itu dengan dia? Toh mereka juga manusia dengan kapasitas otak terbatas. Malah mungkin lebih terbatas dari kapasitas otaknya.

Kemudian dia membuat pilihan-pilihannya sendiri. Yang dia percaya membawanya ke tempat ini. Tapi suatu ide terlintas di pikirannya hari ini. Bagaimana kalau dia membuat pilihan-pilihan lain? Apakah takdir akan menemukan jalan untuk ikut campur dan dia akan berakhir di tempat ini juga? Atau takdir Cuma sekali lagi salah satu pembenaran yang dibuat manusia supaya mereka tidak punya penyesalan dan rasa bersalah?

Tanpa percaya takdir, diapun merasa tidak punya penyesalan. Tanpa kesalahan-kesalahan yang dia buat, tanpa keputusan buruk yang dia buat, dia merasa akan menjadi cetek seperti genangan air di jalan. Dia tidak peduli dengan keadaan dia sekarang, dia lebih merasa tenang dengan apa yang ada di dalam hati dan pikirannya. Tapi dia tidak bisa tidak memikirkan tentang pilihan dan kesalahannya. Dia membela diri, kalau hal ini hanya rasa penasaran. Tapi dia juga tidak menutup kemungkinan kalau dia merasa tidak puas dengan keadaan sekarang, tidak bersyukur, dan hal ini menyebabkan dia mengulang kembali dan berpikir siapa tahu dia bisa mengubah keadaan. Siapa tahu keadaannya bisa berubah. Bukan berarti lebih baik, atau lebih buruk, hanya berbeda. Siapa yang kira-kira bisa diajak bicara? Dia sangat terbiasa mendengar suaranya sendiri di kepala, sampai kadang-kadang dia merasa akan jadi gila.

Keputusan terbaru yang dia buat adalah kepindahannya ke kota ini. Bukan kota besar yang sudah begitu bersahabat dengannya. Di mana keluarganya ada. Di mana sahabat-sahabatnya ada. Dia mengorbankan itu semua. Kebisingan kota itu menimbulkan kelelahan di jiwanya. Bising yang menyebabkan dia jarang bisa mendengarkan kata hatinya. Bising yang menyebabkan dia menjadi orang yang keras dan tidak peduli dengan suara-suara di kepalanya. Beberapa bulan yang lalu, dia siap untuk meninggalkan kenyamanan, kebersahabatan dan kebisingan itu. Untuk pindah ke kota kecil ini. Seketika dia menginjakkan kaki ke kota kecil, dia bisa merasakan. Dia terlalu keras untuk kota ini. Bahkan kepada dirinya sendiri. Dia yang selama ini terpaksa untuk membuat keputusan cepat, sekarang harus belajar lebih sabar. Karena di kota kecil dia tidak punya teman. Di kepalanya sangat penuh dengan pemikiran dan ide. Tapi dia tidak punya orang yang diajak bicara. Kadang-kadang dia berpikir mana yang lebih baik. Dia jarang memberikan waktu untuk dirinya mempertimbangkan lagi keputusan yang sudah dia buat. Keadaan sekaranglah yang terbaik. What’s done is done.

Lalu kenapa hari ini dia begitu peduli tentang masa lalunya? Apakah ada hal yang seharusnya dia perhatikan tapi terlewat? Apakah ada hal yang dibicarakan oleh orangtuanya yang seharusnya dia dengar tapi tidak? Seingatnya, orang tuanya tidak pernah memberitahunya bagaimana menghargai hidup dan alam, hanya memberikan mana yang baik dan buruk menurut agama. Lagi-lagi agama. Dia sudah muak dengan orang yang munafik. Orang yang memakai nama agama untuk mendapatkan simpati dan kekayaan. Sedangkan mereka tidak pernah peduli dengan orang lain. Apakah mereka patut mendapatkan penghormatan kalau mereka hidup mewah dan pergi kemana-mana naik mobil nyaman, sedangkan umat mereka harus minta-minta untuk makan hari itu?

Dia yakin bukan itu yang disebut agama. Dan dia yakin dia harus mencari. Pasti ada yang terlewat di masa lalunya. Dan pencarian itupun dimulai.

Iklan

3 thoughts on “Sepuluh Tahun yang Lalu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s