Ndak Tau

Azan Lohor berkumandang, tak lama setelah ia bangun dari tidur telatnya.

Sadar masih pengangguran, tidak serta merta membuat Didi bergegas untuk mulai menjalani kehidupan hari itu. Selama beberapa saat, ia masih membuai dirinya sendiri di atas tempat tidur pegas dengan permukaan sudah bergelombang. Seprai kusam yang berantakan, makin terlihat tak karuan setelah manuver merenggangkan tubuh, menghasilkan bunyi gemeretak tulang dari beberapa bagian. Sesekali ia meringkuk, menjadi bungkuk macam udang. Sesekali ia memasukkan tangan ke dalam kolornya, menggaruk lipatan paha kiri yang mendadak gatal entah apa penyebabnya.

“Hidup gue kok gini-gini amat ya?” Masih berbaring, ia bertanya menghadap ke atas, seolah ada seorang kawan lama yang menclok di langit-langit kamarnya siap menerima curhatan.

Tanpa sempat merenung terlampau lama sambil korek-korek upil, bunyi macam deru dari area bawah dada yang muncul berkali-kali, cukup ampuh membuatnya berganti posisi. Ia beranjak.

***

Berada di samping pintu belakang area proyek pembangunan apartemen mewah, warung Ko Dede selalu ramai pengunjung. Bisa ditebak, pelanggannya kebanyakan ialah tukang bangunan dan buruh angkut material. Namun entah apa yang terjadi siang itu. Warungnya cuma kesinggahan Dodo, satu-satunya satpam proyek yang masih bujangan.

“Mana yang laen, Do?”

“Ada tuh, di dalam. Lagi ada selametan, banyak makanan.”

“Selamatan? Kenapa?”

“Ya biar selamet. Ndak ada yang jatoh lagi. Supaya aman.”

Yaelah, kalau memang sudah waktunya, sudah apesnya, meninggal ya meninggal aja. Biar kata kenduri tujuh hari tujuh malam mah kagak ngaruh.”

“Kan itung-itung minta izin, mohon permisi, didoain biar dapat perlindungan.”

“Perlindungan dari siapa? Orang jatuh ya gara-gara gak hati-hati, atau kepeleset, kecuali kalau ada yang jorokin, orang ataupun demit. Atau dianya gak pokus. Jadi minta berlindung dari siapa dan apa?”

“Ah, tak taunya aku. Pokoknya begitu. Kamu enak Ko, habis mati bisa, apa tuh namanya, re… re… in-kar-na-si. Bisa hidup lagi. Lah¸ kami, habis mati ya masuk akhirat. Paling nunggu sampai kiamat. Kopi susu satu,” Dodo mulai terdengar gusar.

Kagak segitunya juga kali ah. Terus, kamu ngapaen di sini? Kagak ikut doa bersama?”

“Sudah ikutan doa tadi. Pakai caraku. Di dalam pake ustad. Aku kan Kristen.”

“Oooh, anak Tuhan ya kamu. Hahaha… Pasti masuk sorga sudah,” Dede menjawab sambil mulai menjerang air dalam teko aluminium, bersiap mengisi ulang termos pencetnya.

“Eh, Ko, tapi ‘cam mana kau nanti masuk sorga? Kalian bukannya mati terus lahir lagi. Jadi orang lain, atau katanya bisa jadi binatang pulak. Kapannya bisa masuk sorga? Beda-beda pula sorga kita nanti. Gimana aku kalau mau makan mi gorengmu yang enak itu?”

“Mana aku tau, apakah sorga kita sama-sama ada, atau sorgamu saja, atau tetanggaan. Belum pernah aku ke sana, kalaupun sudah, juga kagak ingat,” jawab Dede sambil menempelkan telunjuk dan jari tengah kanan-kiri ke dua sisi pelipis, mirip pose pesulap yang berlagak mulai berkonsentrasi. “Jujur aja nih ya, kita berdua masih sama-sama hidup, sama-sama di sini. Mana kita tau yang beneran ada. Trusan, mana aku tau nanti habis gini lahir jadi apa lagi. Iya kalau beneran begitu, kalau kagak?”

“Ya, akunya pun ndak paham-paham, percaya ndak percaya tapi disuruh percaya kalau habis mati nanti kita………” BRUAKKK!

Sesayup terdengar suara lirih seolah berkata: “berisssik!”

***

Mengenakan kaus belel bersablon “Joger”, bercelana pendek selutut warna hitam dengan karet di pinggang, bersandal jepit warna putih dengan les hijau, masih ada setitik belek di ujung kiri mata kanan. Deru lapar di perut Didi mendadak hilang. 20 meter dari posisinya berdiri, warung bertenda biru ambruk tertimpa pelat baja setebal 10 milimeter.

***

Trus, sekarang kita gimana, Ko?”

Ndak tau, Do.”

[]

Posted in: @linimasa

2 thoughts on “Ndak Tau Leave a comment

Leave a Reply