Cukup dan Secukupnya

Di dalam lift, seorang ayah sedang bersama anak perempuannya yang berusiakurang lebih 5 tahun. Mereka tampak sedang santai di hari Minggu siang. Sang anak bertanya kepada ayahnya “aku nanti boleh makan es krim, yah?” Ayah menjawab dengan nada hangat dan tegas “boleh, secukupnya ya.” Tak puas mendengar jawaban ayahnya, anak itu bertanya lagi “satu scoop? dua? apa tiga?”

Mungkin karena usia yang baru 5 tahun, kata “secukupnya” memberikan perasaan gamang. Anak itu memerlukan kepastian. Mendadak kata “secukupnya” seolah memberikan kemerdekaan untuk memutuskan sendiri. Karena secukupnya sangat subyektif.

Di acara demo masak yang dihadiri oleh para ibu-ibu muda, seorang chef sedang mengajarkan cara memasak beragam masakan rumah. Setiap step dijelaskan dengan sangat detail dan perlahan. Sepertinya Chef ini sangat memahami peserta yang sebagian besar adalah pemula. Ada yang sudah beberapa tahun menikah, baru menikah atau belum menikah sama sekali. Semua tampak antusias ditemani para pria yang mungkin suami atau pacar mereka.

Di bagian tanya jawab, seorang peserta bertanya: “boleh tanya, tadi kan dibilang masukkan garam secukupnya, secukupnya itu seberapa ya? Sesendok teh?” Chef menjelaskan “tidak sampai satu sendok teh, tapi sejumput lah kira-kira”. Belum puas dengan jawaban itu, peserta tadi bertanya lagi “sejumput jari gitu ya? Tapi jari kita besarnya beda… Gak bisa dikasih tau berapa gramnya saja?” dengan wajah yang risau.

Rupanya, secukupnya, yang memerlukan perkiraan dan kebebasan interpretasi, bisa menimbulkan kegalauan. Dibutuhkan kepastian. Angka. Kejelasan. Ketakutan untuk salah dan gagal semakin lama semakin besar. Padahal ini urusannya memasak saja. Yang kalau gagal toh bisa bikin lagi.

Kegalauan ini ditambah lagi dengan semakin sedikitnya kita mendengar kata “cukup”.  Semua yang kita lihat belakangan, di TV, iklan, media sosial, meme dan sebagainya, mengisyaratkan satu hal “you are not enough”. Yang kita miliki, belum cukup baik. Siapa kita, diibuat selalu kurang baik. We don’t have enough. We are not fast enough.  We don’t work hard enough. We are not good enough as kids or parents. We need more than what we already have. We don’t maximise our time enough. Tidak pernah cutup. Selalu ada kurangnya.

Mencuci tangan pakai sabun saja, tidak cukup. Harus dengan sabun anti bakteri. Punya pasangan hidup yang baik saja, tidak cukup. Harus yang berpenghasilan lebih. Meminum air putih saja, kurang baik. Harus air putih beralkalin. Berlari saja tidak cukup, harus berlari lebih cepat. Bekerja keras saja, tidak cukup. Harus bekerja keras dan cerdas.

Kata “secukupnya” telah membuat kegamangan dan kata “cukup” selalu membuat kita merasa kekurangan. Kita terus dipacu untuk terus menerus mengejar. Tanpa perlu tahu ke mana arah dan tujuan kita mengejar. Rangsangan untuk terus menerus merasa kurang, disodorkan setiap saat seperti wortel yang diumpan saat pacuan kuda.

55276332 c637f365cacf994b2810c57aa4bd64c6keep-calm-and-think-work-smarter-not-harderunnamed

Perasaan terus menerus kurang ini tak jarang menjadi penyebab penyakit sosial di masyarakat kita. Keserakahan dan kerakusan. Ketidak sabaran dan menganjurkan jalan pintas. Terus menerus merasa gelisah dan tidak bisa pulas tidur. Dan yang paling terpuruk diantara semuanya adalah perasaan ditolak kurang pantas sebagai manusia.

Padahal, sesekali kita perlu juga dibilang “you are good enough”. You have done great enough. You have achieved enough. Kalah dan mengalah itu bukan masalah. Menyerah itu hak. Karena tidak semua orang harus menjadi juara. tidak semua orang harus menjadi legenda. Tidak semua orang harus jadi Mohammad Ali. You are just as great as anyone else.

 

 

 

 

Posted in: @linimasa

4 thoughts on “Cukup dan Secukupnya Leave a comment

  1. Pingback: Secukupnya. |
  2. Words. Saya sendiri suka memotivasi diri saya dengan kata-kata “you are not good enough” supaya dapat jadi lebih baik, tapi kadang memang dari diri sendiri itu perlu juga ga terus menerus demikian, know when to say “it’s enough.” Karena ketamakan itu juga nggak ada baik-baiknya. Sepakat sama yang di atasku, hal ini memang dari tipe society yang insecure. hehe.

  3. Iya banget. Jangan kan orang lain, orang terdekat aja susah merasa cukup dengan kita seadanya. Masyarakat kita juga tipikal society yang insecure. Dari mana asalnya? Probably religion? Lho apa hubungannya? Menurut gue kalau kepercayaan lo mengajarkan bahwa amal ibadah lo gak pernah cukup untuk dicintai Tuhan lo, feel guilty terus dan ujung-ujungnya insecure. Sama kayak keluarga. Kalau orang tua kita tidak pernah kasih tau kita kalau kita dicintai kita tidak pernah merasa cukup. And the other way around. Gue suka banget film full house jaman dulu, orang tua nya selalu bisa mengeksprsikan cinta ke anak anak mereka dan secara verbal juga. Simple tapi tumbuh dewasa merasa secure itu membut kita merasa cukup dengan diri kita.

Leave a Reply