Kemarin Siang

“Ayok, itu kalau sudah ada kakinya, mesti ditambahi apa?”
“Sepatu?”
“Pinter… Sepatunya mau warna apa?”
“Ehm… Ga tau…”
“Lah, kok ga tau? Ya udah, terusin aja gambarnya. Bikinin sepatunya. Gambarmu sudah bagus kok…”
“Ah, masa?”
“Bagus! Udah, terusin…”

“Eh, kon ngerti ga soal yang ini? Ga mudheng loh aku…”
“Ndhi seeeh?”
“Iki loooh, nomer soal A nomer pitu…”
“Bentar… Bentar…”

*bersin kencang*
*ambil tisu*
*lap ingus sambil mencet hidung*
“Aduh…”

“Dedek sudah gambarnya?”
“Belooom…”
“Okey, lanjutin aja…”
“Tapi males ah… Bosen…”
“Kalau bosen jadi mau ngapain?”
“Ga tau…”

“Iki wis jam rolas…”
“Lah terus awakmu arep ngopo?”
“Ya ga bisa ke mana-mana, kan?”
“Mau ke mana memangnya?”
“Loh, aku ki arep jalan mbek bojoku… Yo opo seeeh…”

*ngambil tisu, sudah benyek*
*menempelkannya ke lubang hidung*
*pencet, dua kali*

“Kita mau sampai jam berapa di sini?”
“Ehm… Jam 4!”
“Ya pulang aja mending…”
“Dedek masih mau gambar…”
“Ya kalau mau gambar di rumah juga bisa. Dedek gambar di sini sampai jam 4, Bubu ga bisa kerja. Gimana?”
“…”
“Tadi katanya mesti ke sekolah jam 10, tapi ga mau sekolah. Terus ke sini. Kalau sampai jam 4.”
“Bu, lihat deh ini…”
“… Apa itu? Gambar apa itu?”

*lagu “Uptown Funk” — Mark Ronson ft. Bruno Mars*
“Ini laguku banget.”
“…” *beranjak*
“Ke mana?”
“Ke WC…”

*membalik halaman Tempo edisi 12-18 Januari. Dari 93 ke 94.*

“Hahahahaha…”
“Udahan Bu. Yuk kita pulang.”
“Ayok… Jadi Bubu bisa kerja di rumah.”
*beres-beres*
*pergi*

“Masih hujan ini…”
“Aku laper eh…”
“Ya udah, beli di bawah.”
*turun bareng. Buku-buku, tas, HP yang tersambung ke Powerbank ditinggal di meja*

*bunyi notifikasi BBM*
*sejenak berhenti membaca*
*cek HP*
“Bosan ih…”

Seorang bocah laki-laki menunjukkan gambar yang dibuatnya menggunakan krayon. Guratannya khas anak-anak. Beberapa kali ia disuapi ibunya potongan ayam goreng dan nasi putih.

Ibunya tergelak, setelah sang bocah menunjukkan gambar paling akhir yang dibuatnya kala itu. Gambar sang ibu sedang memegang payung. Warna kuning.

Dua cewek berseragam SMA nongkrong bersama. Di hadapan mereka ada kumpulan soal dan buku mata pelajaran Matematika. Sesekali berbicara tentang banyak hal, sambil salah seorang di antaranya terus melakukan cakaran; menghitung rumus untuk menjawab soal.

Satu di antara mereka punya paras blasteran, India atau Pakistan. Agak keling, dengan kesan yang khas dan gampang dikenali. Ada tahi lalat kecil di bawah alis kirinya, dekat ujung lancip alis. Temannya lebih chubby, mengenakan sweater merah di luar kemejanya. Ia terlihat lebih rajin mengerjakan latihan soal Matematika. Dengan santainya, ia bersenandung mengikuti lagu yang sedang diputar. Termasuk “Frozen”. Di depan cermin wastafel, ia bertingkah meniru gerakan dance kala lagu “Shake It Off”-nya Taylor Swift diputar.

Mereka berpegangan tangan saat turun untuk memesan makan siang.

Seorang laki-laki. Usianya di penghujung 20-an. Alerginya mendadak kumat sejak pagi. Dengan minuman cokelat yang sisa separuh gelas dan sudah tidak panas, ia menyelesaikan membaca majalah lawas yang belum sempat diselesaikannya tiga bulan lalu.

Isi kepalanya penuh dengan banyak hal. Hampir semuanya berupa pertanyaan dan pertimbangan. Mencoba mencari jawaban yang entah bisa ditemukan di mana.

Lantai 2 McD Basuki Rahmat, Surabaya, sekitar pukul 12 lewat. Sedang hujan, tidak deras, tapi konstan iramanya.

Beradu pandang, kadang-kadang. Mereka berlima,  memenuhi tiga meja area sofa di dinding sebelah kanan. Berusaha menghalau dinginnya cuaca, mencari kehangatan lewat beragam cara, dan terus menjalani hidup dengan keadaannya masing-masing.

Kemarin siang.

[]

Posted in: @linimasa

2 thoughts on “Kemarin Siang Leave a comment

Leave a Reply