Tidal: Pasang Di Tengah Surut

Sekitar semingguan lalu Jay-Z dan konco-konconya meluncurkan layanan streaming musik bernama Tidal. Layanan ini mendapatkan perhatian dari banyak orang khususnya pemerhati musik karena Tidal menawarkan layanan streaming musik dengan suara kualitas setara CD. Tapi peluncuran ini mendapatkan cibiran dari banyak pihak karena banyak sekali musisi papan atas yang membidani Tidal ini.

Tidal Launch Event NYC #TIDALforALL

Selain itu harga untuk berlangganan Tidal ini terbilang mahal untuk kocek mahasiswa dan anak kos seperti saya ini yang sehari-hari makan indomie agar cacing di perut saya tidak kelaparan. Untuk layanan Tidal Premium biayanya sebulan $10 untuk kualitas musik setara mp3 di 320 kbps (Spotify gratis di kualitas ini). Sementara untuk Tidak Hifi $20 sebulan dengan FLAC di 1411 kbps (di atas kualitas CD).

tidal

Apa sebetulnya maksud Jay-Z dan teman-temannya membuat Tidal? Untuk menambah tebal dompet-dompet mereka yang sudah terlalu tebal? Atau menyelamatkan industri musik yang sedang lesu? Terus ngapain juga Jack White dan Win Butler ikutan? Karena secara tidak langsung Tidal berhadapan langsung dengan Spotify, layanan streaming musik yang boleh disebut terdepan saat ini, dilihat dari jumlah pelanggan dan koleksi lagunya.

Untuk menghabiskan rasa penasaran, saya coba layanan ini, mumpung masih ada free trial selama sebulan, dan akan saya putus di hari ke-25 (Haha. Eat that Jay-Z. I also got 99 problems and bitch ain’t one).

Lalu saya log-in. Untuk versi desktop sementara baru bisa dibuka di web player chrome. Jadinya agak berat. Lalu saya lihat sekilas. Tampilan warna hitam. Okay, saya suka warna hitam. Tapi Spotify pun dominan warna hitam. Tidak ada yang spesial. Lalu saya buka-buka. Ada layanan video musik dengan kualitas Vimeo yang didominasi oleh video dari para pemegang saham Tidal. Oh, mungkin ini kelebihan dari Tidal yang tidak dipunyai oleh layanan streaming musik lainnya. Karena konon banyak konten yang eksklusif. Yang terakhir Beyonce meluncurkan singel teranyarnya khusus melalui Tidal.

Terus apa bedanya selain di kualitas suara? Karena ada lagu Taylor Swift di sana sementara di Spotify tidak ada? Perlu mendengarkan lagu Taylor Swift dengan kualitas CD? Saya sih enggak. Maaf, saya tidak se-swifties itu. Kualitas suara pun akan terasa faedahnya apabila kita mempunyai speaker yang mumpuni untuk itu. Atau setidaknya headphone/earphone yang oke. Para audiophiles mungkin suka. Tapi 20 dollar sebulan itu tetap mahal. Bukankah ini akan menyuburkan pembajakan daripada mengentaskan?

tidal3

Lalu siapa yang dirugikan? Tebakan saya, Tim Cook dengan iTunes dan Beats-nya yang jalan di tempat, dan semoga Tidal tidak akan bernasib seperti Apple Maps yang mencoba merambah teritori Google dengan Google Maps dan Waze-nya.

Iklan

One thought on “Tidal: Pasang Di Tengah Surut

  1. Seperti berjualan narkoba, jualan musik pun ada domain dan teritorinya tersendiri ya…. bang jay sedang ber-expand dari manufaktur menjadi distributor…. good luck with that, yo!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s