Merayakan Kekalahan

Dari 250 juta sel sperma, hanya ada satu yang berhasil sebagai pemenang. Dari 2791 peserta lari 10K (closed) di ajang Pocari Sweat Run 2015, hanya 6 orang yang berhasil menjadi juara. 3 pria dan 3 wanita. Dari 235 juta penduduk Indonesia hanya ada satu orang yang jadi pemenang Pemilu. Jelas, jumlah yang kalah lebih banyak daripada yang menang. Menjadi pemenang tentu memberikan banyak keuntungan. Berkesempatan dilahirkan dan melihat dunia, mendapatkan bea siswa, mendapatkan pacar idaman, mendapatkan promosi jabatan sampai berkesempatan untuk meninggalkan dunia dengan cara sesuai kehendak.

Sejak kecil, sampai masuk sekolah, kita selalu diajarkan untuk menjadi pemenang. Energi untuk Menang Tiap Hari, bisa diberikan dalam bentuk susu cokelat. Lalu bagaimana dengan energi untuk yang kalah? Bukankah yang kalah juga perlu energi? Padahal jumlah yang kalah jelas lebih banyak daripada yang menang. Lalu mengapa pusat dan perhatian selalu hanya diberikan kepada yang menang? Bukankah tanpa yang bersedia untuk kalah tidak akan ada yang menang?

Di zaman yang serba kompetitif ini semua berpacu untuk menjadi pemenang. Menjadi yang terbaik diantara yang terbaik. Dari prestasi, berebut tiket jalan-jalan keluar negeri, adu jumlah likes dan followers di media sosial, pemakai pertama sepatu Adidas Supercolor terbaru, balap lebih cepat di jalan raya, dan sebagainya. Tidak ada yang salah tentu. Karena jadi pemenang memang membahagiakan dan membanggakan. Untuk yang kalah? Maaf saja. Silakan mundur dari ajang persaingan. Kalau tidak terima, selamat mencoba lagi atau menyerah.

Kesiapan sesudah menjadi pemenang bisa jadi lebih berat daripada jadi pemenang. Mempertahankan kemenangan dan menjaga agar kaki tetap di tanah adalah tantangan berikutnya. Menjadi pemenang pun tak bisa melupakan jasa dari yang dikalahkan. Karena yang kalah bisa jadi mengalah dan sedang mempersiapkan diri di pertarungan berikutnya dengan lebih mantap.

Persiapan untuk kalah pun tak kalah beratnya. Bersedia menerima kekalahan bisa jadi lebih berat daripada mempersiapkan kemenangan. Sayangnya, sekolah lebih sering mempersiapkan diri untuk jadi pemenang. Sampai pada titik menganggap tabu sebuah kekalahan. Tak sedikit yang kehilangan semangat hidup sejak kecil karena sebuah kekalahan dalam pertandingan olahraga sekolah. Dan menjadi masalah yang lebih besar dan pelik kalau dibawa sampai dewasa.

Penghargaan hanya diberikan kepada yang menang. Piagam dan piala kemenangan untuk dipajang simbol prestasi dan kebanggan. Padahal, tanpa ada yang kalah mana mungkin ada pemenang. Dan dunia sudah sering menyaksikan bahwa yang menang belum tentu yang terbaik. Dalam setiap kompetisi selalu ada faktor keberuntungan. Sepertinya, satu-satunya kompetisi dengan pemenang mutlak adalah sel sperma yang pertama kali sampai ke indung telur sebagai satu-satunya kompetisi yang 100% melibatkan tangan Tuhan.

Tak perlu pula untuk menjadi yang tertinggi, terkuat dan tercepat, karena kini setiap hari ada ajang kompetisi melalui media sosial. Siapa yang memiliki barang terbaru, pasangan hidup paling teladan, anak terlucu, keterampilan terunik, sampai bentuk tubuh terindah pun bisa jadi peserta. Pemenangnya tak perlu ditentukan juri tapi cukup teman-teman atau followers sendiri. Pun kita semakin terpacu dan terpacu. Untuk menjadi yang paling. Sampai tak jarang banyak yang mengelabui dirinya sendiri dan orang lain, demi kesan sebagai pemenang.

Natal, adalah perayaan kemenangan. Seluruh dunia gegap gempita menyambut bayi yang di ujung hidupnya jadi yang kalah sebelum menjadi Juru Selamat. Yesus dipecundangi oleh salah seorang muridnya Yudas Iskariot yang memfitnahnya. Kemudian kalah saat di persidangan yang dipimpin oleh Gubernur Ponsius Pilatus. Bahkan Yesus pun kalah pada diri dan imannya saat Dia merasa Bapanya di Surga meninggalkannya dengan berteriak “ELI ELI LAMA SABAKHTANI” yang berarti “AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Seluruh manusia yang menyaksikan kematiannya pasti terhenyak melihat Yesus yang dipuja dan dielu-elukannya selama ini, wafat di kayu salib oleh manusia juga. Apakah manusia benar lebih kuat dari Tuhan? Mengapa Tuhan tidak melindunginya? Jika Yesus benar anak Allah, mengapa Dia dibiarkan mati dengan cara tak terhormat?

Persiapan Paskah terbilang panjang. Dimulai dengan masa Advent, di mana umat menjalankan ibadah puasa. Menahan dan mawas diri dari kenikmatan dunia dan membuka hati untuk sekitar. Urutan dan tata krama misa Paskah untuk umat Katolik dimulai dari Rabu Abu sebagai tanda dimulainya masa Pra Paskah. Kening para umat diusap dengan abu yang dibentuk salib sebagai tanda awal dan akhir hidup manusia yang dari debu. Kamis Putih sebagai peringatan akan perjamuan terakhir Yesus dengan murid-muridnya. Jumat Agung sebagai hari Yesus disalib dan wafat. Dan Minggu Paskah sebagai hari kemenangan, Yesus bangkit (hilang) dari kuburnya, Yesus dianggap telah diangkat ke Surga oleh Tuhan. Dan kematiannya pun dianggap sebagai penghapus dosa menusia. Sehingga bisa masuk ke dalam Surga Kerajaan Allah ketika saatnya tiba. Kembali Yesus pun keluar sebagai pemenang.

Paskah memang bukan perayaan kemenangan mewah dan glamor seperti Natal. Tak ada pohon terang dan kado Natal. Tak ada lagu Paskah yang terkenal di dunia. Bahkan Sinterklas yang merupakan simbol Natal pun hanya digantikan dengan Kelinci. Entah dari mana awalnya Kelinci dan Telur menjadi simbol Paskah. Tak banyak film dengan latar belakang Paskah. Paskah adalah perayaan kekalahan. Perayaan kelemahan. Perayaan ketiadaan.

Tak melulu berdoa meminta kemenangan. Tapi juga meminta kemampuan untuk ikut berbahagia bagi pemenang di saat kalah. Kekuatan untuk menerima kekalahan sebagai bagian dari perjalanan hidup. Dan kelapangan untuk menerima bahwa pemenang hanya ada satu dan memang tidak untuk semua manusia. Walau kita semua adalah hasil dari satu sperma yang pemenang. Adalah mustahil dunia hanya diisi oleh pemenang. Akan selamanya lebih banyak yang kalah atau mengalah.

Pemenang hanya akan ada kalau ada yang kalah. Saatnya kita memberikan penghargaan bagi yang kalah. Yang jumlahnya jauh lebih besar daripada yang menang. Karena jasa yang kalah maka ada yang pemenang. Dan jangan pernah lupa, peran Tuhan selalu besar bagi umatnya yang dalam kekalahan.

Selamat Paskah dan mari rayakan kekalahan.

 

 

 

Iklan

One thought on “Merayakan Kekalahan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s