Yang Kutahu Pasti Kubenci Tuk Mencintaimu, Zayn Malik

hari siang terus, kata yang lain, tak ada malam sepanjang tahun dan kita pun tak sempat tidur

Penggalan puisi  Abdul Hadi. W. M ini diberi judul Labirin. Kontekstual dengan warga kota (juga desa). Tentang manusia yang semakin sibuk dengan hal-hal yang menurut kita penting.  Abdul menambahkan:

jakarta sudah tak punya langit

Maka tak heran kita haus akan kata liburan. sedemikian dahaganya hingga seolah-olah kata liburan adalah kata kerja yang harus dimanfaatkan menjadi ritual wajib. tamasya, leha-leha, manjakan diri.

Antrian  selalu mengular setiap pameran wisata diadakan dengan tawaran tiket murah untuk vakansi ke tempat dimana kata sibuk, berhimpitan, perintah bos, tenggat dapat dinomorduakan. Bahkan dilupakan. Apa dapat? Sempat?

Merayakan liburan semacam menekan tombol pause saat kita menonton youtube. Rehat sejenak agak tidak tersendat. Berharap apa yang kita “nikmati” akan lebih lancar nanti.

Sedemikian menderitanya-kah kita? Untuk merayakan kebahagiaan berleha-leha pun dengan sabar menanti tanggal merah, restu atasan untuk cuti,  dan harapan tidak terjebak macet dalam perjalanan.

Sekat waktu menjadi seolah-olah tegas dan menegaskan diri. Hari kerja adalah hari (boleh) menderita. Hari libur adalah hari wajib tanpa urusan rutin.

IMG_4565

Kita tidak sedang membohongi diri sendiri bahwa kita hidup bahagia? Cukup bersenang-senang? Menikmati rutinitas selama ini?

Tidur tak pernah selesai. Selalu saja ada alasan memaksa diri untuk segera bangkit, kecuali majikan, atasan, dan pasangan akan melipat wajahnya. Sepanjang waktu tergopoh-gopoh menuju kantor. Apa nikmatnya diburu waktu dan gelisah sepanjang perjalanan?

Lalu kita membenarkan diri untuk berbelanja sesuka hati. Kapan lagi? Toh ini adalah hak kami untuk merasa berkuasa atas apa yang selama ini kami tahan. Kebebasan. Bebas mengeluarkan uang. Merasa berkuasa saat menawar suatu barang. Uang di genggaman. Lalu kita mendapatkan sesuatu yang kita inginkan.

Kita begitu dendam dengan waktu yang terbuang. Waktu yang tak dapat dikendalikan oleh kita sendiri. Untuk liburan pun, perlu ada kesepakatan.

Lalu kita menularkannya pada orang lain. Bahwa liburan adalah sebuah mandat untuk bersenang-senang. Bahwa liburan dan tanggal merah harus banyak-banyak dirayakan. Hingga tandas. Hingga saatnya kita sibuk kembali, dapat kita kenang. Apalagi jika bisa dibanggakan.

Kita seperti budak pelarian. Yang begitu bahagia mendapat sedikit kebebasan. Tanggal merah juga menjadi semacam jam besuk di rumah tahanan. Kita boleh bercengkrama dengan pengunjung. Kita bisa plesir sementara waktu. Untuk akhirnya wajib kembali ke ruang sempit penuh debu. Juga rasa malu.

Sebagian orang menjadi begitu futuristik. menandai kalendernya dengan stabilo merah. Bergegas untuk mendahului yang lain memesan tiket pulang. Atau tiket pergi. Bekerja lebih giat, agar saat izin cuti tak ada aral melintang. Perlombaan untuk dan atas nama hak pegawai dalam rangka membahagiakan dan memanjakan dirinya.

Mari kita tanya, anak-anak kecil di sekitar kita: Apa itu”tanggal merah”, “hari kejepit”, “long weekend” dan “kumpul keluarga”.  Mana yang mereka pahami?

Anak kecil (yang normal dan tidak terbebani tugas sekolah) secara wajar tidak terlalu mengistimewakan tanggal merah kecuali fenomena diajak ayah ke kampung halaman, boleh main di pantai dari pagi hingga siang, makan di restoran setiap malam, belanja ke mal terus-terusan, dan terpenting: ada ayah dan ibu mereka yang sibuk mengajak  selfie di setiap kesempatan.

.. sesudah itu kubayangkan burung-burung bebas itu datang kepadamu berkicauan dan hinggap di tanganmu membuat sangkar dalam dadamu, lalu kubayangkan lagi senja yang melipat burung-burung itu tampil merebut sangkar, lalu kaubayangkan lagi kota dalam senja itu berlari kencang dalam darahmu –

Sebelum sibuk kita menanti rutinitas kembali, mari kita (berpura-pura) bahagia. Atau setidaknya saat ditanya siapapun juga bisa menjawab: “Toh, kita sudah berusaha….”

Padahal, bahagia itu sederhana. Menemukan daya baterai hape kita masih 100% misalnya.

Selamat siang di hari Sabtu,

salam hangat dengan segelas kopi dan goyangan cotton bud pada lobang yang tepat.

Roy.

..

bonus:

NB: jika judul tak sesuai dengan isi,…

masalah gitu?

Iklan

7 thoughts on “Yang Kutahu Pasti Kubenci Tuk Mencintaimu, Zayn Malik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s