Memento Mori

12561-Life-after-death

Akhir-akhir ini – entah kenapa – saya jadi sering sekali berpikir tentang kematian. Bisa jadi ada hubungannya dengan berita-berita mengenai kecelakaan pesawat terbang yang cukup sering terjadi akhir-akhir ini. Atau mungkin juga karena saya jadi lebih kerap mendengar rekan seusia yang sakit cukup parah, bahkan meninggal dunia. “Semua orang pasti mati, hanya soal waktu” kata Sam Bimbo. Karena itu, agak aneh sebenarnya mengapa saya dipenuhi dengan rasa masygul untuk memikirkan sesuatu yang sudah pasti?

Tentu saya tahu kenapa. Karena belum ada yang berkunjung ke kematian dan kembali untuk bercerita pengalamannya. Karena banyak sekali teori tentang “the afterlife” tapi belum ada verifikasinya. Ketika saya tiba pada titik skeptis pada agama yang sejak kecil saya familier, cerita tentang apa yang terjadi pada manusia setelah dia mati, terdengar seperti wishful thinking. Tentu saja manusia ingin percaya bahwa dari hidupnya yang cuma sekali ini ada artinya, yang jika diakumulasikan bisa berarti tempat yang nyaman atau siksaan di akhirat (TBC). Tentu saja manusia ingin percaya bahwa tak mungkin ruh kita dilahirkan untuk “digunakan” hanya sekali, karena itu akan didaur ulang dan dilahirkan kembali menjadi makhluk di kehidupan kita yang berikutnya. YDOLO.

Saya juga sempat berpikir secara teori kekekalan energi; energi bisa berubah dari bentuk satu ke bentuk lain, tetapi tidak bisa diciptakan maupun dimusnahkan. Sepertinya cukup valid kalau ruh manusia kita masukkan dalam kategori energi. Jasmani kita memang sementara, begitu berhenti bekerja, energi akan lepas darinya dan pindah, ada yang mengatakan ke dimensi lain sambil menunggu “wadah” berikutnya, ada pula yang mengharapkan moksa, bersatu kembali dari sumber dari segala sumber energi.

Kembali lagi ke perkara berapa besar faith saya ke teori-teori tentang afterlife di atas. Saya pernah berbincang dengan teman saya soal surga dan neraka. Kalau saya berteori kalau surga dan neraka itu man-made, teman saya juga kurang lebih berpikir yang sama. Tetapi menurut dia, dia tidak mau mengambil risiko kalau ternyata surga/ neraka ada dan dia “tidak memenuhi syarat” untuk masuk surga, jadi lebih baik dia menjalani ritual keagamaan yang menjanjikan pahala. Kalau memang ternyata tidak ada ya tidak apa, ujarnya.

Mas Cohle telah bersabda
Mas Cohle telah bersabda.

Sebut saya naif, tapi kalau memang ada tuhan saya kira beliau bukan tipe yang mempan dengan tipu-tipu.

Pada masa saya merasa terlalu terganggu dengan pikiran tentang kematian, saya biasanya membaca kembali buku Antidote-nya Oliver Burkeman, tepatnya bab terakhir (Memento Mori, judul yang pasaran, ternyata). Burkeman salah satunya mengutip ide dari Epicurus, filsuf kuno Yunani mengenai kematian; ‘argument of symmetry’: Mengapa kita harus takut terhadap kematian sebagai kegelapan abadi kalau kita tidak pernah mengenang dengan rasa takut, kegelapan yang dialami sebelum kita dilahirkan yang tidak kalah abadinya?

Itu hanya salah satu pemikiran yang disajikan oleh Burkeman, tanpa memperindah pilihan-pilihan yang ada. Kalau ternyata kematian hanya gelap semata, lalu kenapa?

Setelah saya baca-baca dan pikir-pikir ternyata bukan apa yang akan terjadi setelah mati yang saya takutkan. Tapi bagaimana saya akan mati. Tapi itu kan urusan nanti. Kalau boleh memilih, saya ingin mati seperti Kakek saya tercinta, waktu tertidur di kursi sambil menunggu adzan Subuh. Boleh dong, berharap.

(Semoga akhir pekan panjang Anda menyenangkan dan hidup terasa lebih indah).

Iklan

7 thoughts on “Memento Mori

  1. “Mengapa kita harus takut terhadap kematian sebagai kegelapan abadi kalau kita tidak pernah mengenang dengan rasa takut, kegelapan yang dialami sebelum kita dilahirkan yang tidak kalah abadinya?” – brilian. 🙂

    Suka

  2. Mengutip yang dikatakan Morrie (oleh Mitch Albom dalam Tuesday with Morrie) “Begitu kita ingin tahu bagaimana kita akan mati, itu sama dengan belajar tentang bagaimana kita harus hidup.”

    Suka

  3. dari script-nya wit, film pendek emma thompson:

    “And death shall be no more; Death, thou shalt die”

    Life, death, soul, God…
    past, present.
    Not insuperable barriers.
    Not semicolons.
    Just a comma.
    Life, death, I see.
    It’s a metaphysical conceit, it’s wit.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s