The More The Merrier

A band is like a marriage -you don’t know why it works, but when it does, everything feels right.

Ada benarnya perkataan dari Nuno Battencourt, gitaris Extreme, yang berambut bagaikan iklan Gadis Sunsilk, berjari lentik dan berkuku dengan kutek warna hitam ini. Memang tidak banyak band terkenal, sukses dan bertahan dengan formasi awal. Atau setidaknya ketika band tersebut mengeluarkan album perdananya.

Contoh paling over-rated tentunya adalah U2. Ya memang band yang terlalu sering dibicarakan. Apalagi kalo mendengar kiprah Bono dengan aktivitas kemanusiaannya. Tapi harus diakui, U2 itu mungkin band paling senior di dunia ini yang masih aktif bermain musik, mengeluarkan album, dan melakukan tur dunia di usia sudah menginjak kepala lima. Untuk era 90an kita bisa mengambil contoh Radiohead, dan yang lebih junior ada Colplay, dan Muse. Seingat saya mereka belum pernah mengganti personil selama perjalanan karirnya dan entah kenapa saya kesulitan mengambil contoh band dari Amriki.

Tapi banyak yang tidak tahu dibalik kesuksesan sebuah band itu sebetulnya banyak sekali konflik yang terjadi. Ketika semua personil mempunyai ego yang sama. Atau ego yang berlebih dibanding keduanya.U2 mengalaminya era pasca album Joshua Tree. Akibatnya mereka berganti identitas secara musik maupun kostum. Bono hampir selalu memakai kacamata. Begitu pula dengan The Edge yang selalu menutup kepalanya dengan kupluk atau peci. Radiohead pun begitu. Untuk mengurangi kejenuhan Thom Yorke bersolo karir. Jonny Greenwood pun mulai merambah ke dunia skoring musik dan berteman baik dengan Paul Thomas Anderson. Kerja sama keduanya telah telah menghasilkan There Will Be Blood dan The Master. Bukan karena materi. Tapi butuh “kesegaran”. Walaupun mereka secara tidak langsung sedang berselingkuh secara terang-terangan. In a good way. Yagaksih?

Ada contoh yang menarik diulas yaitu ketika Pat Smear, gitaris dari Foo Fighters dan eks gitaris tambahan dari Nirvana yang memutuskan untuk keluar karena merasa “lelah” bermain musik. Tapi bukan untuk mendalami agama tentunya. Alhasil Dave Grohl sebagai frontman dari band ini harus mencari gantinya yang mumpuni. Lalu didatangkanlah Chris Shifflett untuk jadi lead guitarist Foo Fighters. Problem solved.

Tidak berhenti di situ. Ternyata Pat Smear tetap memendam kerinduan untuk bermain musik. Tapi dia sungkan untuk mengutarakannya. Lagi pula dia yang meminta keluar dari awal dan sudah ada pula sudah pengganti dirinya. Apa yang dia lakukan? Akhirnya dia melepaskan egonya. Dia mengutarakan keinginannya kepada Dave Grohl untuk kembali ke Foo Fighters. Keputusan ini tentu disambut dengan lapang dada oleh Dave Grohl dan teman-temannya. Karena walau bagaimanapun Pat Smear adalah keluarga, bagian penting dari perjalanan Dave Grohl semenjak di Nirvana dan dilanjutkan ke Foo Fighters. Chris tetap menjadi gitaris utama di Foo Fighters dan Pat Smears lebih menutup kekurangan Dave Grohl ketika bernyanyi dan harus sambil bermain gitar. Saling mengisi. Tidak ada yang berubah. Malah semakin kokoh. Yakan?

The more the merrier. 

the-more-the-merrier-quote-1

Iklan

4 thoughts on “The More The Merrier

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s