Kejujuran Rasa dalam Satu Klik

Minggu kemarin ada dua berita duka. Berpulangnya Lee Kuan Yew dan Olga Syahputra ke surga masing-masing. Media sosial pun dipenuhi dengan ucapan belasungkawa. Buat sebagian pasti ada yang benar merasa kehilangan. Dan buat sebagian besar lagi, bisa jadi tanpa rasa. Saya salah satunya.

Saya tidak pernah merasa punya hubungan apa pun dengan Lee Kuan Yew. Saya tidak pernah membaca buku mengenai dirinya yang menginspirasi. Sejarah hidup dan perjuangannya belum menarik untuk saya baca. Pun saat beliau masih hidup dan berkuasa, hampir tidak pernah membaca berita mengenai dirinya. Belakangan cuma tau dia sedang sakit.

Singapura buat saya adalah tempat rekreasi. Jalan-jalan, berbelanja, melihat taman cantik dan menyaksikan peradaban yang sepertinya lebih maju. Ditandai dengan antrian warga yang tertib. Trotoar yang rapih. Pengawalan kebersihan yang luar biasa. Tanpa maksud menghina, buat saya warisan Lee Kuan Yew terbesar adalah taman kota. Hampir setiap pojok kota taman ditata dan terawat rapih. Beragam jenis flora tropis tumbuh dengan mesranya.

Bukan salah rasanya kalau saya menjuluki Lee Kuan Yew sebagai The Great Gardener, salah satu tukang kebun terbaik dunia. Saya baru akan merasa sedih dan berempati kalau ada tukang kebun yang saya kenal secara pribadi meninggal dunia. Atau pasukan cleaning service apartemen yang setiap hari saya temui. Yang tidak sungkan membantu saya membawa barang ke lantai atas saat saya kesulitan. Atau pasukan sekuriti yang meminjamkan payung saat saya kehujanan. Atau tukang sayur yang selalu muncul setiap hari menawarkan sayur terbaiknya.

Semasa hidupnya, saya jarang merasa terhibur dengan lawakan Olga Syahputra. Sering kali saya merasa suaranya lebih merupakan polusi suara. Kencang dan menjerit memekakkan telinga. Saya mengagumi perjuangannya dari ‘orang biasa’ menjadi seseorang yang luar biasa dan konon dermawan. Saya tidak membencinya, tapi juga tidak merasa kehilangan saat beliau meninggal dunia.

Bagi saya, Olga Syahputra adalah simbol harapan. Dengan kerja keras, keberhasilan masih bisa diraih. Di tengah persaingan yang semakin tidak sehat. Mulai dari korupsi sampai ilmu hitam sudah dikerahkan. Bahwa keberhasilan bukan hanya milik orang-orang berwajah cantik dan tampan. Dan Olga berhasil meyakinkan bahwa ‘lucu’ adalah soal selera pribadi. Dan selera yang diyakini bersama adalah selera yang ‘benar’.

Walaupun, saya tetap tidak merasa memiliki hubungan batin dengan almarhum. Saya tidak mengenalnya dan belum tertarik untuk mengenalnya lebih jauh. Ada banyak orang-orang inspiratif simbol harapan di sekitar saya, yang kalau salah satu dari mereka meninggal maka saya akan sedih. Sebutlah, Josephine Weratie Komara atau biasa disebut O’bin. Saya terinspirasi dengan perjuangannya bukan hanya melestarikan tapi terlebih mengembangkan batik dan beragam tekstil Nusantara. Atau saya menangis semalaman saat Yasmin Ahmad berpulang. Setiap iklan dan film yang diciptakannya telah menginspirasi pekerjaan saya sehari-hari sebagai pembuat iklan. Kalau Pedro Almodovar berpulang, sebagai fans sejati saya pasti akan merasa kehilangan. Apalagi kalau Nigella Lawson yang mangkat. Program TVnya hilang sesaat saja sudah bikin saya kelimpungan. Amit-amit jangan sampe.

enough-pro-smiley-face

Simbol muka sedih 😦 yang terdapat di media sosial seperti Path misalnya, sejujurnya membuat saya bertanya apakah benar berita kematian Lee Kuan Yew membuat pemberi icon bersedih? Mungkinkah baginya setiap berita kematian siapa pun merupakan kesedihan? Atau memang sebaiknya ikut-ikutan saja untuk amannya?

Ketika Aquarius, toko kaset, CD dan DVD di kawasan Pondok Indah ditutup untuk selamanya, banyak yang  menyampaikan kesedihannya di media sosial. Dalam hati saya berpikir, benarkah sedih? Seingat saya saat Aquarius masih gegap gempita berdiri, tak ada satu pun teman saya pernah mengajak untuk berbelanja di sana. Check in di Aquarius pun rasanya tidak pernah. Lalu kenapa saat ditutup, jadi sedih dan kehilangan? Bukankah sebaiknya memang ditutup – karena kalau dipertahankan akan menyebabkan kerugian? Dan kalau memang ingin Aquarius tetap ada, berbelanjalah di sana saat toko masih buka. Merawat dan mempertahankan yang masih hidup lebih baik daripada menangisi saat sudah tiada.

Mencoba untuk selalu jujur pada perasaan sendiri, sepertinya adalah usaha yang pantas untuk dicoba. Di tengah perasaan kini menjadi urusan icon semata dan jari. Pembiaran yang terus menerus kita lakukan akan menghilangkan makna. Yang akibatnya, kita bersama akan mengalami kemiskinan yang sesungguhnya, kemiskinan rasa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s