Demam Panggung

Jadi, Ibu punya anekdot yang sampai sekarang masih suka diceritakan kalau beliau sedang ingin mempermalukan saya. Waktu umur saya kurang lebih 6 tahun, Ibu meminta tolong mengantarkan barang ke tetangga sebelah rumah. Pada jaman itu pagar rumah masih rendah, jadi sebenarnya kalau beliau mau, barang yang diantarkan itu bisa dilemparkan saja ke sebelah, tapi atas nama kesopanan, dan karena beliau baru melahirkan anak kedua, saya yang diutus untuk pergi. “Ada bel kok di pagarnya, kalau tidak ada orang pencet saja” katanya. Setelah berjalan ke rumah sebelah, saya berdiri di depan pagarnya, tanpa berani memencet belnya. Mungkin mengharapkan keajaiban bahwa aura saya akan terasa sang tetangga sehingga dia melongok ke luar. Tetapi tidak, jadi saya balik lagi ke rumah, gagal mengantarkan. Ibu heran dan bertanya, apakah bel sudah dibunyikan dan tidak ada yang keluar? Saya jawab, aku tidak berani membunyikan belnya karena takut mengganggu. Ibu mengeluarkan suara yang bisa jadi mengekspresikan frustasi atau entahlah. Akhirnya beliau menelepon tetangga tersebut dan membuatnya menunggu saya di depan untuk mengantarkan barang tersebut.

Cerita ini ternyata kurang lebih akan berulang hingga sekarang. Saya jarang berani memperkenalkan diri lebih dahulu. Bicara di depan orang banyak bisa membuat saya mendadak sesak napas. Waktu saya masih sekolah, walau saya tahu jawaban yang ditanyakan guru, saya lebih memilih diam daripada tunjuk tangan duluan dan harus menjawab keras-keras disaksikan seluruh kelas. Lebih jauh lagi, walaupun saya sering tidak berani tidur sendiri, tapi saya tidak takut sendiri. Bersosialisasi dalam waktu lama membuat saya lelah sekali, yang menyembuhkannya terkadang membutuhkan saya diam di kamar sepanjang akhir pekan dengan interaksi minimum dengan manusia lain.

Kalau dulu saya sering dituduh pemalu atau sombong, kalau sekarang saya bisa klaim saya introver. Saya gembira ketika buku Quiet: The Power of Introverts in a World that Can’t Stop Talking tulisan Susan Cain dilansir. Mungkin, di balik kekurangan saya ini ada potensi tersembunyi yang bisa digali, pikir saya. Tetapi ternyata tidak juga. Malah buku itu menjadi menyebalkan di tangan orang-orang yang sangat bangga menjadi introver, dan tentunya merasa dirinya lebih istimewa dan pandai dibandingkan rekannya yang lebih banyak bicara. Orang-orang ini juga menuntut yang lain agar mengerti para introver, dan tidak mengusik mereka menjadi quietly brilliant (seperti layaknya ponsel HTC). Kok jadi over-glorifying dan penuh dengan self-entitlement.

Setelah merasakan sendiri sepanjang ingatan saya menjadi orang introver, saya tidak merasa lebih pintar dari yang ekstrover. Saya perhatikan beberapa teman saya yang introver juga ada yang cerdas tapi tidak sedikit juga yang cupet. Saya sempat berharap kalau bawaan ini bisa ada tombol nyala/ matinya supaya kalau saya dibutuhkan berbicara di depan orang ramai bisa saya matikan dulu sebentar, jadi tidak malu-maluin. Bos saya juga berpesan kalau saya tidak bisa menghindari tampil selamanya, (padahal kalau boleh memilih, saya cukup puas berlindung di balik bayangan seperti drakula) jadilah sekarang saya harus mempersiapkan diri ekstra kalau diperlukan tampil. Walaupun jadinya saya lebih pede berbicara di depan orang (banyak maupun sedikit), mata saya tetap terpaku ke sontekan yang saya bawa. Itu saja sudah bagus. Mimpi saya adalah, bisa seperti seorang rekan kerja saya, bisa presentasi di muka umum dengan santai, dan mengembangkan satu kalimat menjadi ber-alinea-alinea secara verbal. Wow sekali bukan? Saya percaya dengan latihan, (mungkin) saya bisa paling tidak hampir seperti rekan kerja itu. Saya dan Anda yang introver belum tentu lebih pintar dari kebanyakan orang, kok. Sambungan kabel di dalam kepala kita saja yang berbeda.

Typo-nya mengganggu tapi ya begitulah...
Typo-nya mengganggu tapi ya begitulah…
Iklan

21 thoughts on “Demam Panggung

  1. Ini artikel gue banget. Bikin status di facebook aja masih mikir-mikir, soalnya takut sisi pribadi saya ikut terpublikasi juga. Di kelas nggak pernah nunjuk tangan, dan lebih memilih diam. Jadi ingat dosen saya pernah bilang, “Kapan lagi tampil di depan? Jangan selalu menjadi orang dibalik layar”, begitu katanya.

    Suka

  2. Pengalaman saya mirip nih. Dulu jaman SD kelas 2, tiba2 saya mendapat petir disiang bolong karena diutus oleh wali kelas untuk meminjam buku catatan ke kelas sebelah. Saking saya pemalu nya, ga berani ngomong dong sesampai dikelas sebelah. Balik tanpa hasil, tidak membuat wali kelas saya kehilangan akal. Dia lalu menitipkan secarik kertas, jadi tugas saya hanya menyampaikan kertas tersebut ke wali kelas sebelah. Anehnya keesokan harinya, saya diutus kembali. Mungkin itulah cara beliau untuk melatih saya. Hal ini berlangsung sepanjang tahun dan memang, semakin hari saya semakin berani untuk berbicara. Setidaknya, tidak menggunakan kertas lagi. Terima kasih, Ibu guru Nur.

    Suka

  3. Wah ini sama dengan apa yang saya rasakan. Tapi untuk sekadar maju ke depan, tampil, berbicara, ataupun melakukan suatu hal, saat ini sudah bisa saya atasi karena dulu ada guru yang mengajarkan kalau tidak pede, lihat saja ke atas kepala penontonnya, jangan matanya, dan …. it works. Mungkin masalahnya bisa berbeda-beda sih pada setiap orang, tapi intinya tetap terasa sama.

    Suka

  4. I used to be an introvert during my middle-high school period. Tapi berhubung kuliah di Fisip yang menuntut saya untuk banyak menghabiskan waktu berinteraksi dengan banyak orang (juga “kewajiban” terlibat dalam aneka debat terbuka atau orasi), lama-lama saya terbiasa untuk berbicara di depan banyak orang… atau berbicara (terlalu) banyak di depan orang (ha ha).

    Jadi, menurut saya sih menjadi introver atau tidak itu pilihan. Hanya masalah kemauan dan kebiasaan jika mau mengubahnya. Menurut saya lho.

    PS
    But sometimes I miss the calmer side of me :/

    Suka

    1. Memang semua kalau terbiasa jadi bisa ya. Call it muscle memory, kalau bagian itu ada ototnya? Kudos bang Haris, sudah bisa mengatasinya.

      Suka

  5. kalau dalam masalah akademis saya ga pemalu, dalam bersosialisasi juga saya biasa2 aja…tapi saya nggak suka pergi ke tempat ramai dan ga suka ketemu banyak orang..itu masuk introvert ga??
    apa cuma ansos aja?? hehehehe

    Suka

  6. Hai, saya juga sering begitu di kelas atau diskusi. Resah sendiri kalau tahu jawaban sementara yang lain nggak. Malah bisik kiri dan kanan. Harus ditunjuk atau kontak mata intens biar ditanya langsung. Thought of a last-resortist.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s