Ekspresi

Selama 7 hari penuh minggu lalu, rasanya susah buat saya untuk rehat sejenak, dan bernapas. Maklum, pada minggu itu, rangkaian acara 21 Short Film Festival digelar. Kebetulan saya terlibat di penyelenggaraan acaranya. Bak angin tornado yang datang tak diundang, tiba-tiba kami semua sudah berada tepat di tanggal-tanggal penyelenggaraan, dan bukan masih dalam rencana berminggu-minggu, atau berbulan-bulan sebelumnya.

Buat yang terbiasa terlibat mengerjakan acara atau event, pasti bisa merasakan keletihan luar biasa ketika berada tepat di tengah-tengah penyelenggaraan acara.

Demikian pula di hari Sabtu minggu lalu. Hari itu adalah hari yang paling padat di festival kami: 7 pemutaran dalam sehari. Ini yang di bioskop saja. Lalu ada 4 workshops di sebelah studio. Jadwal sudah diatur sedemikian rupa, agar bisa dimulai dari pagi, dan selesai tidak terlalu malam.

Tapi manusia bisa berencana, Tuhan yang menentukan.
Mendadak saja pagi kami diawali dengan kejutan dari ruang teknis. Ada masalah dengan projector. Tidak bisa lama-lama menunggu, akhirnya diputuskan bahwa pemutaran pertama mundur. Padahal antrian penonton sudah mengular. Alhasil, jadwal seluruh screenings hari itu mundur 20 menit. Sesi tanya jawab di pemutaran-pemutaran awal kami potong durasinya. Test film sebelum pemutaran dipercepat.
Akibatnya, seharian itu kegiatan saya adalah menunggu penonton keluar di satu pemutaran, test film untuk pemutaran berikutnya, memasukkan penonton untuk pemutaran berikutnya. Dan berulang terus enam kali dari pagi sampai malam. Repeat.

Rasanya ingin menggantungkan kedua kaki saat pulang.

Keesokan harinya, saya bangun dengan perasaan berat. Maklum, hari terakhir. Ada malam penghargaan. Sepertinya masih harus menyisakan energi yang sebenarnya sudah tak bersisa ini.
Lalu seperti biasa, bangun tidur bukannya kuterus mandi tidak lupa menggosok gigi, tapi malah check ponsel. Mata yang masih belum terbuka lebar ini melihat deretan notifikasi chats dan email masuk.

Ada email dari Vitri, fotografer event.
Setiap pagi, dia akan mengirim foto-foto dari semua kegiatan dan apa saja hal unik yang terjadi di festival kami pada sehari sebelumnya. Saya buka satu per satu foto. Nyaris tanpa ekspresi saya melihatnya.

Tiba-tiba saya berhenti di foto ini.

XXI Short Film Fest., Sabtu, 21 Maret. (Photo by Vitri Yuliany)
XXI Short Film Fest., Sabtu, 21 Maret. (Photo by Vitri Yuliany)

Saya tertegun. Lama saya memandang foto ini. Saya terkesiap.

Saya tidak tahu kapan persisnya foto ini diambil. Yang jelas, saya cuma bisa menebak, bahwa foto ini diambil dari deretan kursi paling depan. Berarti foto ini diambil waktu pemutaran film paling penuh. Foto ini diambil diam-diam dari bawah kursi. Sekali lagi, ini hanya tebakan.

Dan tentu saja tidak ada dari kami satu pun yang mengenal orang-orang yang terekam dalam foto ini. Mungkin mereka juga tidak mengenal satu sama lain. Tapi yang jelas, mereka menjalani kegiatan yang sama: melihat apa yang kami hadirkan di layar lebar.

Sejenak rasa letih yang terbangun dari semalam hilang begitu saja saat melihat foto ini. Tak jemu-jemu memandangnya.

Terbersit rasa senang yang tak bisa dijabarkan kata-kata. Foto seperti ini seakan mengingatkan kita kembali, kenapa kita menyenangi apa yang kita kerjakan.
Apresiasi. Apresiasi membuat kita mencintai pekerjaan kita.

Buat saya, itu sesederhana melihat kursi bioskop terisi. Lalu penonton berhenti melakukan aktifitasnya, dan terpaku di layar. Satu studio bioskop gelap, hanya ada layar yang ditembakkan dari belakang kursi teratas. Puluhan atau ratusan orang seakan pasrah terhadap apa yang akan mereka lihat. Suara mulai terdengar, entah dari musik atau dialog pemain film.
Dan beberapa menit kemudian, terdengar tawa. Atau mungkin isak tangis. Mungkin ada yang tidur dan mendengkur.
Terakhir ada tepuk tangan. Dan kata “tepuk tangan” bisa diganti dengan cemoohan, karena saya pun pernah merasakannya.

Pujian atau cacian adalah bentuk apresiasi. Foto ini menangkap momen sebelum keduanya terjadi. Yang terjadi sesungguhnya di setiap pemutaran kami kemarin, untungnya, adalah tepuk tangan yang mengiringi sesi tanya-jawab dengan para sutradara. Melihat foto ini tanpa tahu kejadian sesungguhnya akan membuat kita menebak-nebak apa yang akan terjadi setelahnya.

Foto akan selalu menjadi bagian kenangan tak terlupakan dari sebuah peristiwa yang sudah lewat.
Namun tidak semua foto bisa menjadi penyemangat untuk terus melakukan apa yang memang kita bisa lakukan. It’s magical how a picture can bring out the best in what we excel at.

Foto yang penuh ekspresi adalah foto yang ‘hidup’.

Untuk semua yang ada di foto ini, terima kasih.

Iklan

2 thoughts on “Ekspresi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s