Apa Definisi dari “Definisi”?

Dengan sukarela dikerangkeng definisi.

Ya, mungkin begitulah kiranya ketentuan hidup kita sekarang. Kita, yang konon pantas disebut manusia-manusia modern. Makhluk organis yang selalu bertumbuh dalam fleksibilitas. Saking fleksibelnya, sampai-sampai ndak sadar kalau sudah membuatnya rentan, rawan, vulnerable, fragile. Ibarat bombon karet yang ditiup menjadi balon berisi gas bau mulut. Makin besar ukurannya, kian tipis lapisannya. Lalu *PLOP!* Pecah.

Begini.

Sebagai makhluk pengguna daya pikir dan akal budi, manusia menciptakan perkakas imajiner untuk membantunya menggarap ladang kehidupan. Perkakas imajiner itu disebut “definisi”. Milik bersama, dibuat bersama-sama, digunakan bersama-sama, diutak-atik bersama-sama. Bila sudah waktunya, ya bisa dirusak bersama-sama, diganti dengan yang baru.

Definisi digunakan untuk mengenali segala sesuatu. Bentuknya adalah kesepakatan. Semacam label. Sesederhana kertas tempelan bertuliskan “gula” untuk batuan putih yang terasa manis, “garam” untuk batuan putih yang terasa asin, “mecin” untuk batuan putih yang terasa bukan manis pun bukan asin melainkan gurih, dan kawan-kawan mereka yang lain. Bahkan analogi ini masih terlalu gampang, masih bendawi. Sebab definisi juga kita gunakan untuk mengenali dan membedakan hal-hal tak kasatmata, yang ghoib. Coba jawab pertanyaan ini:

Apa yang dimaksud dengan rasa manis/asin/gurih/pedas/pahit/hambar itu?

Lalu, “kenapa rasa manis/asin/gurih/pedas/pahit/hambar kita sebut ‘manis/asin/gurih/pedas/pahit/hambar’?

Kesepakatan membuat semua definisi menjadi baku, berdaging, berkekuatan, dan mengikat sehingga tak boleh dilanggar. Menimbulkan ilusi baru: benar versus salah. Buktinya, ketika seseorang menyebut gula rasanya asin, dia dianggap salah. Either dia dicap bodoh, kurang berwawasan, atau tidak tahu. Orang-orang di sekitarnya akan berusaha menyadarkan, berupaya menjadi sang penyelamat dengan membuatnya kembali ke pengertian yang benar bahwa: (1) rasa gula adalah manis, dan (2) rasa yang dihasilkan dari gula adalah rasa manis. Bila langkah ajakan pertobatan itu direspons dengan perlawanan, either dia dicap gila atau kafir rasa. Diharamkan bikin es teh, atau asinan buah.


Ada miliaran, triliunan definisi. Semuanya lengkap dengan ketentuan “begini benar, begitu salah.” Ketentuan, (dianggap) sudah “tentu”, (dianggap) sudah “pasti”

Kita, nenek moyang kita, neneknya nenek moyang kita, nenek moyangnya nenek moyang kita, dan seterusnya pun telah hidup sampai kemudian mati dengan definisi-definisi tersebut. Namun entahlah, berapa banyak di antara kita–dan siapa saja–yang sadar, kitalah yang menciptakan definisi dan mempergunakannya selama ini. Sementara kita terus bersikap seolah-olah tercipta dalam definisi, dan harus tunduk padanya. Batin merespons dengan membabi-buta, babi (celeng) yang buta, seruduk sana sini yang penting bikin rusak dan tidak tertangkap.


Definisi “indah”: “keadaan enak dipandang; cantik; elok.

Lalu, dari sisi orang lain, yang tidak enak dipandang, tidak cantik, dan tidak elok berarti tidak indah. Kalau tidak indah, terus harus digimanain?

Dikasihani?

Diolok-olok?

Dibiarkan?

Ditertawai?

Dibikin supaya indah?

Disemangati?

Dijauhi?

Ditemani?

Apa?

Sedangkan, dari sisi diri sendiri, yang tidak enak dipandang, tidak cantik, dan tidak elok berarti tidak indah. Kalau tidak indah, terus mau diapain?

Mengasihani diri sendiri?

Malu?

Berbesar hati?

Memperbaiki ketidakindahan tadi?

Depresi?

Disembunyikan?

Masa bodoh?

Apa?


Terlepas dari dualitas “benar dan salah”, mending pakai “membahagiakan dan menyengsarakan.” Daripada menjebak diri sendiri dengan definisi untuk menentukan benar atau salah, mungkin akan lebih patut jika didasarkan pada kesan membahagiakan atau menyengsarakan. Sesuatu yang terasa benar belum tentu sungguh-sungguh membahagiakan. Sebaliknya, sesuatu yang menyengsarakan belum tentu sungguh-sungguh salah. Begitupun dua kemungkinan lainnya. Bagaimana memastikannya?

Tergantung. Dari mana?

Udahlah, santai aja.

Yang penting, asal jangan terpenjara.

Toh, apakah definisi benar-benar mewakili kenyataan?

Sumber: Facebook
Sumber: Facebook

[]

Iklan

6 thoughts on “Apa Definisi dari “Definisi”?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s