Bonekaku Diperkosa Ayah

Kudatangi kantor polisi. Pagi sekali, bahkan aku baru melihat dahi mentari memanas di timur jauh. Kukayuh sepedaku kencang-kencang dan berjanji jika nanti ada sesiapa di depan jalanku pasti kutabrak dan mati, aku tidak peduli.

Pak polisi, aku mau menuntut! sekarang!”
Ada apa pagi begini dik? ayo duduk sini, nah ini kursinya,” kursi kecil yang berderit di setiap gerakan pantatku.
Mau melaporkan pemerkosaan.
Siapa yang diperkosa?.. adik diperkosa? Sama siapa?
Bukan.. bukan aku!” kukeluarkan si Patsy dari dalam tas.

image

Ini Pak! bonekaku Patsy diperkosa.”
Sebentar… sebentar. Siapa namamu, umur, dan di mana rumahmu dik?,” pria buncit ini menghampiri dan memegang pundakku.
Bapak mau apa?..” kuhempas tangannya dari pundakku tadi, dan berlari ke balik tirai di jendela depan.
“Jangan mendekat! biar aku bicara dari sini, supaya bapak tidak memperkosaku,” tirai ini tipis sekali ternyata.
Namaku Ambar, 16 tahun, dan bapak tidak perlu tahu rumahku.
Baik, baik. Siapa yang memperkosa bonekamu?
Patsy! namanya Patsy.. panggil dia dengan nama itu, jangan boneka, atau tidak akan kujawab nanti.
Baiklah siapa yang memperkosa Patsy?
Ayah. Semalam ayah memperkosa Patsy, sampai berdarah, nih lihat darahnya masih ada baunya amis!” aku tahu Patsy diperkosa sampai sekarat, ayah memang kejam. Kemudian tangisku datang, menyesali penderitaan Patsy, kenapa aku lalai menyimpannya. Pak polisi buncit itu mengambil tisu dan menyeka darah patsy yang bening-kental.

Waduh..bagaimana ya dik. Patsy itu sebuah boneka, bukan makhluk hidup, jadi sulit untuk memprosesnya. Begini saja adik bapak antarkan pulang ya?
Lihat ini!.. Patsy bergerak hidup kan?” Kurebut patsy dari atas meja dan kutancapkan tali yang terselip di pantatnya ke sumber listrik. Dan dia bergerak, tersendat, bergerak lagi, mati, tersendat, bergerak lagi, dan buru-buru kucabut tali itu supaya patsy tidak kehabisan tenaga.
Lihat dia masih hidup! Dia butuh bantuan segera! bukankah tugas polisi untuk menyelamatkan nyawa? patsy sekarat! Jelas di sekarat, dulu gerakannya bagus, lincah buka-tutup, buka-tutup, tarik-tarik, buka-tutup manis sekali
Bagaimana ya dik habis, bagaimana ya baiknya?
Begini saja! sekarang antarkan aku ke pengadilan, yang seadil-adilnya. Kalau aku tidak mendapatkan keadilan, maka aku akan menyusul patsy ke akhirat!
Baiklah ayo!..” si buncit bergegas mengajakku ke sebuah bangunan lama, dengan papan tulisan yang berderet di depannya, dan aku curiga.

Tempat apa ini?
Ini namanya KUA, pengadilan yang paling adil sedunia, percayalah.” Dia membuka pintu. Ada dua orang di dalamnya. Aku percaya ini adalah ruang pengadilan yang mulia. Meja besar, kursi-kursi yang berbanjar rapi, patung burung di tengah, dan gambar nyonya-nyonya dan bapak-bapak di kanan kiri burung itu. Si buncit menghampiri salah seorang dari dua pria yang berdiri menghadap kami dan berbisik, aku yakin dialah hakimnya.

Pak hakim, gelar sidang sekarang! aku mau keadilan! Lekas panggil jaksa, pembela, dan tangkap ayahku!” Tiba-tiba ayah ibuku menerobos masuk.

Itu dia pak hakim, dia ayahku, pak polisi tahan dia!
Kemana sajau kau nak? kami mencarimu dari tadi.
Diam ayah! ayah kejam, kenapa ayah lakukan itu tidakkah ibu cukup buat ayah? kenapa harus patsy? kenapa bukan aku?. Patsy masih terlalu kecil, dia tidak sebanding dengan ayah. Sakit jiwa!”

Tangsiku menjadi-jadi, tidak tertahan, dan berteriak. Pak hakim menghampiri ayah dan menyilakan mereka duduk di barisan terdepan. Ibu menangis.
Baiklah, sidang akan saya mulai
Sebentar! kenapa hanya ada hakim, polisi, dan jaksa mana pembela dan para penonton, ruang sidang ini sepi aku tidak mau bersaksi seorang diri.
Tunggu.” Si buncit berlari keluar dan melambaikan tangan pada siapa saja yang melintas, dia berbisik dan mereka masuk satu demi satu hingga memadati ruangan.

Aku siap pak hakim, cepatlah!” Aku berlari duduk di kursi tunggal terdepan dan kukeluarkan patsy.
Di mana kau bertemu patsy nak?
Di lemari ibu tiga tahun yang lalu, itu boneka ibu.. sudah sewajarnya diturunkan pada anaknya bukan? Namanya Patsy Vibra, marganya Made in-USA. Dia orang luar negeri pak hakim, lihat saja rambutnya.” Tangis ibu bertambah kencang dan kudengar gemuruh suara para penonton yang diselingi dengan tawa terpendam. Bapak hakim segera memukul-mukulkan palunya untuk menenangkan penonton.

Apa yang menimpa patsy?”
Dia diperkosa, semalam dia diperkosa ayah di kamar mandi, aku melihatnya sendiri. Sekarang Patsy sekarat, lihat dia bergerak hanya sedikit, tidak lincah. Dia butuh pertolongan, kalau tidak dia mati pak hakim, aku akan menyusulnya...” Bapak hakim berdiri dan berteriak.
Siapa di sini yang dapat menyembuhkan patsy?”
Saya pak hakim! Saya dokter.” jawab salah seorang penonton. Dokter penyelamat Patsy.

Nak, serahkan patsy pada pak dokter, biar dia mengobatinya.”
Ragu-ragu kusodorkan patsy yang terbaring lemah pada dokter yang menghampiri. Dokter ini membawa sekotak perlengkapan, dan membawa Patsy ke belakang ruang sidang. Aku khawatir kalau-kalau jiwa Patsy tak terselamatkan. Badanku gemetar membayangkan Patsy yang merintih kesakitan, apakah dia bisa sembuh seperti sedia kala?

Sambil menunggu pengobatan patsy akan saya bacakan vonis untuk terdakwa. Karena terdakwa melakukan pemerkosaan terhadap Patsy yang masih kecil, maka dikenakan hukuman cambuk satu hari sekali selama tiga bulan, tanpa tahanan.” Hatiku berdebar-debar saat pak hakim menimpakan putusan pada ayah. Inilah keadilan.

Gemuruh penonton meledak-ledak menertawai ayah si terdakwa. Ibu tetap menangis.
Pak hakim siapa yang nanti menghukum cambuk ayah?”
Ibumu. Biar ibumu yang melakukan setiap harinya.” Tawa penonton tak kunjung reda walaupun bapak hakim sudah lelah memukul-mukulkan palunya ke meja.

Tak lama dokter tadi muncul dengan senyuman.
Dia sudah sembuh nak!lihatlah gerakannya kembali lincah.” Buru-buru kurebut patsy dari tangan dokter dan kembali kulistriki.
Betul! Dia sembuh lihatlah, lihat mulutnya menggeliat lincah. Buka-tutup, buka-tutup, tarik-tarik, buka-tutup. Horeeee! Patsy pulih!

Ibu masih saja menangis. Tanpa sadar penonton sudah begitu penuhnya hingga memadati halaman dan jalan-jalan di luar ruang sidang. Kasus pemerkosaan memang sangat menarik perhatian masyarakat, aku yakin mereka berpikiran yang sama dengaku. Mereka mendukungku.
Baiklah, sidang selesai. Silakan kembali berkegiatan masing-masing.
Tunggu pak hakim! bapak belum memukulkan palu tiga kali!” Hampir saja putusan hakim tidak sah, dan hukuman ayah tidak berlaku. Duk duk duk, kami pulang.

Pagi berikutnya kutemani ibu untuk menyambuk ayah dengan sapu lidi sebelum berangkat ke kantor. Dan begitu seterusnya hingga tiga bulan berlalu. Aku puas. Itulah hukuman bagi pemerkosa!

Sekarang kusimpan Patsy di tempat semula, baik-baik. Ternyata di lemari ibu banyak teman-teman Patsy. Tentunya dia akan bahagia bersama kawan-kawannya. Mereka kebanyakan tak bernama, kecuali satu yang masih kuingat. Namanya Betty, dia kakak Patsy karena marganya sama dan berukuran lebih besar. Mereka semua manis-manis, dan aku akan menjagannya. Aku janji!

Iklan

5 thoughts on “Bonekaku Diperkosa Ayah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s