How Could You?

Di benua Eropa saja, terdapat lebih dari 500 versi cerita Cinderella. Ada versi China yang berjudul “Ye Xian” diperkirakan ditulis di abad ke 9. Sangat mungkin karena penggunaan sepatu sebagai identitas Cinderella. Mengingat pada masa itu, semua perempuan China diikat kakinya agar tidak bertambah besar. Kaki kecil dianggap sebagai simbol kecantikan.

Tapi Charles Perrault diyakini sebagai penulis asli di tahun 1690-an. Dari mana pun asalnya, cerita Cinderella telah beranak pinak hampir di seluruh penjuru dunia dan dibaca oleh milyaran penduduknya sejak pertama kali diterbitkan. Dan tentunya “Bawang Merah Bawang Putih” dari Indonesia. Atau film “Ratapan Anak Tiri” di tahun 1974.

Cerita mengenai gadis cantik, yang ditinggal mati oleh ayah ibunya dan kemudian diasuh oleh seorang Ibu Tiri. Ibu Tiri yang digambarkan kejam ini memiliki dua anak perempuan lagi yang memiliki sifat pemalas, jahat dan merasa paling cantik. Sampai akhirnya, Cinderella melalui sepatu kaca sebagai identitas,  diselamatkan hidupnya oleh seorang Pangeran. Dan mereka pun hidup bahagia selamanya.

Para pejuang hak perempuan, di suatu masa selalu menggunakan cerita Cinderella sebagai bukti bagaimana perempuan selalu dilemahkan. Sebagai makhluk yang harus diselamatkan oleh laki-laki. Stereotyping bahwa Ibu Tiri adalah jahat. Dan perempuan baik itu diidentitaskan dengan kelemah lembutan. Keberanian perempuan dianggap sebagai kekurang ajaran. Dan tentunya, menikah (apalagi dinikahi oleh Pangeran) menjadi syarat mutlak kebahagiaan seorang perempuan.

Cinderella Complex yang dicetuskan pertama kali oleh Colette Dowling, menjelaskan tentang perempuan yang cantik fisik, lemah lembut, sopan santun, pekerja keras, mandiri, pada akhirnya akan dinilai dan dijatuhkan oleh sesama perempuan dan diselamatkan oleh laki-laki. Mengukuhkan posisi laki-laki di atas perempuan. Sehingga laki-laki pantas untuk menguasai perempuan.

Atas alasan yang sama, maka terbitlah gerakan yang memperjuangkan kesetaraan bagi perempuan. Kartini tentu menjadi salah satu yang ternama di negara ini. Iklan-iklan yang menggunakan momentum ini pun tak terbilang banyaknya. L’Oreal, because you are worth it. Dove, yang selalu mendobrak makna cantik yang selama ini ditumbuh kembangkan oleh iklan dan pop culture.

Yang menarik untuk diamati adalah perubahan brand Lux. Dari awal masuk ke Indonesia diposisikan sebagai “sabun kecantikan bintang-bintang holywood”, sebagai cerminan perempuan saat itu yang menilai dan mengidolakan perempuan dari kecantikannya semata. Ikut berkembang saat perempuan pun mulai bekerja dan berkarya. Walau profesi yang ditampilkan masih berdekatan dengan perempuan dan kecantikan, seperti penari dan bintang film. Sampai di suatu titik, Lux menjadi sabun yang “memahami wanita apa adanya”. Sebuah pernyataan mengenai kebebasan perempuan untuk menjadi apa pun yang diinginkan.

lux

Padahal di tahun 64, Lux mengeluarkan iklan pertamanya dengan lirik lagu:

 “A woman’s born to softness, and that’s the way it is. A soft and magic creatures some man will call his”

Dengan alasan kesetaraan dan mendobrak nilai perempuan sebagai makhluk lemah ini pula, keberadaan sinetron dipertentangkan. Apa sih yang sinetron tampilkan? Ibu tiri yang jahat pada anak perempuan tirinya. Istri pertama yang rela diselingkuhi suaminya demi mempertahankan keutuhan rumah tangga dan nilainya sebagai perempuan. Seorang dokter perempuan yang cerdas baru benar menemukan kebahagiaannya saat dilamar oleh pria pujaan hatinya. Perempuan yang ambisius cenderung bersifat jahat sementara yang ‘nrimo’ bersifat baik hati.

13 Maret 2015, Disney meluncurkan film terbarunya, Cinderella. Disutradarai oleh Kenneth Branagh dan Lily James sebagai Cinderella dan Cate Blanchett sebagai Ibu Tiri. Tak ada twist berarti di film ini. Semua masih seperti cerita aslinya. Satu-satunya bagian perlawanan Cinderella ketika dilecehkan oleh Ibu Tirinya adalah kalimat “how could you?” yang diucapkan dengan tatapan dalam. Selebihnya, Cinderella di film ini masih perempuan yang cantik, lemah lembut, rajin, pekerja keras, berteman dengan tikus, dilecehkan oleh sudara perempuan tirinya dan akhirnya diselamatkan oleh laki-laki.

http://www.hollywoodreporter.com menulis “Happily Ever After With $132.5M Global Debut” sebagai tanda kesuksesan film ini di berbagai penjuru dunia. Di Jakarta sendiri, beberapa bioskop bahkan membuka dua theatrenya untuk film tersebut. Berbondong para orang tua pun membawa anak-anak mereka (terutama anak perempuan) untuk menonton film ini. Film yang sebenarnya, tak berbeda jauh nilainya dengan sinetron. Sampai tulisan ini diterbitkan, belum terdengar adanya perlawanan terhadap film ini. Kritik atau diskusi terbuka bagaimana film ini bisa menanamkan nilai perempuan yang lemah pun tak terdengar. Semua terhibur. Semua menikmati. Para pejuang kesetaraan perempuan dulu pun mungkin sudah membawa anak perempuannya menonton Cinderella.

ibutiri

Padahal apa bedanya tawa penuh kejahatan Cate Blanchet dan Meriam Bellina? Ibu Tiri dikukuhkan kembali sebagai perempuan yang jahat. Kelemah lembutan Lily James tak beda dengan Revalina S. Temat sebagai Bawang Putih. Semua sama. Hanya mungkin perbedaanya di film ini, para penonton perempuan dan gay bisa juga terhibur oleh tonjolan di selangkangan Pangeran yang diperankan oleh Richard Madden.

set_cinderella_disney_prince_bulge

Anak-anak perempuan pun kini punya impian baru. Menjadi Cinderella. Seperti tampak di salah satu akun instagram anak perempuan yang dilahirkan dan dibesarkan di ibukota. Tak suka dan dilarang menonton sinetron. Ditanamkan pemahaman bahwa perempuan bisa menolong dirinya sendiri tak selalu perlu bantuan laki-laki. Fasih berbahasa Inggris dan siap menyambut kekuatan dan kesetaraan laki-laki dan perempuan.

image2

Lux pun memiliki tagline terbaru “Just A Little Lux”, perempuan pun diberi impian bisa mendapatkan pangerannya dengan setetes sabun Lux cair.

 

How could you…

 

Iklan

7 thoughts on “How Could You?

  1. Kok ga dibahas dr fisik nya sih? Kabarnya pinggangnya si Lili di-CGI in biar keliatan kecil…krn puteri identik dg kurus langsing 😦

    HOW COULD THEY!! 😦

    Suka

  2. Makanya aku gak mau bawa anak2 nonton Cinderella… Satu2nya film tentang Cinderella yang aku suka itu Ever After (1998). Yang main Drew Barrymore. Cinderella-nya digambarkan cerdas, kuat, berani, gak tergantung sama laki2. Pangerannya telat terus pas mau menyelamatkan Cinderella, haha….

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s