Apa?

BARANGKALI, salah satu hal yang paling menyedihkan di muka bumi ini adalah hubungan yang kabur juntrungannya. Ketika tidak jelas apakah seseorang menjalankannya dengan perasaan cinta, atau gara-gara pertimbangan lainnya. Atau malah sebenarnya tidak tahu apa-apa. Pokoknya dijalani. Serba buram, namun terlampau sok percaya diri. Hanya bermodalkan asumsi, mirip bonek, lalu membuatnya bergulir begitu saja, tak tahu bakal mengarah ke mana. Terus seperti itu, sampai akhirnya menggenapi bunyi sumpah janji: “hingga maut memisahkan.” Yang secara tidak langsung menyodorkan makna alternatif: “sudah telanjur.

Jauh lebih menyedihkan ketimbang–yang dikira–cinta tak berbalas, maupun–yang dikira–cinta dipendam sendiri, atau–yang dikira–cinta terhalang latar belakang keluarga dan agama.

Terlebih bila di sisi berseberangan, sang pasangan pun salah kira. Menganggapnya “inilah cinta (?)” Ibarat dua orang buta yang saling tuntun. Sama-sama gulita, sama-sama tidak tahu sedang menghadapi apa, sama-sama mengiyakan, sama-sama menafikan. Kemudian terjadi silang pendapat, untuk yang pertama dan seterusnya. Bisa bikin menangis, bisa bikin tertawa, bisa bikin kelahi, bisa bikin merasa nyaman, bisa bikin tak mau lepas, bisa bikin sayang (lebih tepat diwakili dengan istilah éman dalam bahasa Jawa), bisa bikin sakit hati, bisa bikin mau bunuh diri, bisa bikin pengin cari pelarian, bisa bikin make-up sex, dan bisa bikin macam-macam lainnya. Rona kehidupan yang wajar, kata sebagian orang. Disebut wajar, lantaran terus menerus terjadi selama ini tanpa benar-benar bisa dipahami. Terus menjadi misteri yang kerap terasa absurd. Pengalaman absurd yang kemudian dipukul rata dengan kalimat: “begitulah nikmatnya kehidupan,” dengan arti kata “nikmat” yang ambigu, yang tak bisa dihindari, atau yang tak diketahui cara untuk menghindarinya. Sehingga mau tak mau ya dibiarkan terjadi. “Dinikmati” detik demi detiknya, kemudian menghilang sekejap mata, berganti dengan sensasi pengalaman yang lain lagi.

Atau sebenarnya, perlukah dihindari?

Bila mampu?

Tergantung kesepakatan umum?

Apakah mengantarkan pada kebahagiaan?

Mungkin.

Entahlah.

Ndak tau.

L, is for the way You look at me.

O, is for the only one I see.

V, it’s very extraordinary.

E, is even more than anyone that You adore.

~ NKC

Ah, seandainya cinta bisa sesederhana lirik lagu jadul itu. Kala terjadi, langsung mudah dikenali dengan tepat. Benar-benar sebagai sebuah rasa cinta. Bukan sesuatu yang dikira cinta pada awalnya, namun semakin lama semakin terasa tidak jelas, atau malah terasa layaknya sebuah lara.

Tahu dari mana sih kalau itu adalah cinta? Benar-benar cinta? Banyak yang bilang “I just know it” kala ditanya apakah sedang benar-benar merasakannya. Tidak jelas apa cakupan dari “just know it” tersebut. Banyak yang merasakannya hanya gara-gara pandangan mata, bunyi dan suara, kekaguman dan rasa suka, atau sekadar crush. Naksir seseorang, kemudian setelah beberapa puluh kali kencan, perasaan yang bikin naksir tadi makin kuat, atau malah tercecer entah jatuh di mana.

Oh iya, ini juga. Bila yakin itu cinta, apakah benar-benar mencintai si dia, sang objek perasaan cinta? Atau jangan-jangan, sebenarnya malah lebih mencintai diri sendiri, yang sedang merasakan cinta. Yang sedang gembira-gembiranya, dengan hati berbunga-bunga. “Cinta pada perasaan jatuh cinta itu sendiri,” kata seorang kenalan. Dan mungkin ini musababnya, putus cinta itu terasa menderita. Sengsara.

Tak sedikit pula yang merasakannya seperti ungkapan “witing trisno jalaran soko kulino,” berasa cinta karena telah bersama-sama sekian lama. Padahal ada kosakata lain untuk mewakili perasaan itu: nyaman.

Ehm, apa jangan-jangan cinta itu sederhananya memang perasaan nyaman ketika bersama seseorang? Nyaman yang bikin éman. Lalu, kalau merasa nyaman bersama beberapa orang sekaligus, bisa pula disebut cinta? Sepertinya iya. Tapi, katanya, bukan rasa cinta yang bisa/harus dibawa nikah. Begitu, bukan?

Terlepas dari itu, apabila memang merasakan–yang namanya–cinta, terus harus diapakan? Ada ketentuan harus dikejar? Harus dimenangkan (hatinya)? Harus dimiliki dengan dipacarin, dikawinin? Bagaimana kalau tidak dipacarin atau dikawinin? Bukan benar-benar cinta gitu?

Apakah juga harus bercinta? Nah! Apakah bila cinta harus bercinta? Kalau perasaan cinta harus ditandai dengan bercinta, jadi cinta yang tanpa bercinta tidak bisa disebut cinta? Ga usah bingung. Ini bukan sedang membicarakan cinta ibu pada anak, kakak pada adik, guru pada murid, cinta kepada bangsa, negara, dan agama, atau cinta kepada alam semesta. Tapi ya tetap berbicara soal cinta antara manusia. Ada loh yang saking cintanya sampai-sampai éman dibawa bercinta. Mau disebut apa? Aneh? Ganjil? Gila?

Toh kalaupun sudah berasa cinta, sudah dipacarin, sudah dikawinin, sudah bercinta penuh gelora, ada jaminan tidak bakal berubah? Cinta bisa dikalahkan dengan perubahan? Kebosanan, misalnya? Tetap bisa absurd? Beneran tai kucing terasa cokelat?

Bagaimana nih?

Jadi, sebenarnya, cinta itu sebenarnya apa sih?

[]

Iklan

19 thoughts on “Apa?

  1. Aku dekat dan sayang sama orang yang sudah punya pacar. Aku sayang tanpa tau dianya sayang juga atau nggak. Dianya sih bilang takut aku sakit hati. Tapi kenapa aku harus sakit hati. Bukannya orang sakit hati hanya ketika apa yang di harapkan nggak kesampaian?

    Jadi, sayang ya sayang. Sakit hati beda urusan.

    Btw, jangan posting perihal cinta, nanti banyak yang curhat! Hahahaha.

    Suka

    1. “Tapi kenapa aku harus sakit hati. Bukannya orang sakit hati hanya ketika apa yang di harapkan nggak kesampaian?”

      Bukan masalah harus/enggak harus, tapi siap/enggak siap menghadapi ketika sakit hati muncul. Bagaimana? 🙂

      Disukai oleh 1 orang

  2. jadi gini . . .

    kemarin habis putus karena kebaikan bersama biar ga saling menyakiti satu sama lain. keputusan sadar dan diambil bersama, meski via whatsapp.

    dari awal ngerasa kalo hubungan akan menantang secara frekuensi kami berbeda. tapi bukankah itu cinta kalau membuatmu berani melompat?

    saat ini aku sedang menghadapi galau-pasca-putus-meski-ada-yang-deket. trauma kali yah, dok? (*eh dikira psikiater)

    Suka

    1. “…cinta… membuatmu berani melompat?”

      Jadi, kalau tidak membuat berani melompat, sudah pasti bukan cinta? 🙂

      Terombang-ambingkan perasaan itu manusiawi. Jangan sampai semangat untuk “hidup” dan “mencinta” dikerangkeng trauma.

      *tsaaah…

      Suka

  3. “Serba buram, namun terlampau sok percaya diri. Hanya bermodalkan asumsi, mirip bonek, lalu membuatnya bergulir begitu saja, tak tahu bakal mengarah ke mana”

    Baca tulisan itu tiba-tiba berasa ngenes sendiri, tak tahu bakal mengarah ke mana. mewek di pojokkan

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s