Tentang Kwak Kwik dan Kwek

IMG_0320

Biasanya, hari Sabtu adalah saat paling menggiurkan untuk menulis. Rentang waktu antara usai subuh jelang fajar hingga pukul sepuluh pagi. Tapi apa daya, pagi ini saya diminta jadi seksi sibuk wara-wiri dan sopir tembak acara pernikahan kerabat.

Apa boleh buat. Sayang ingkari tenggat yang saya tetapkan sendiri. Namun setidaknya, jelang wakuncar, saya masih bisa memberikan sekadar tulisan dari hati, seperti sabtu-sabtu lainnya.

Sekarang, mari saksikan dengan seksama video berikut ini.

Ini adalah jemari anak sulung saya, ketika berada di McD tadi siang. Setelah membunuh rasa lapar, dia bengong karena ditinggal ayahnya pergi ke bengkel sepeda. Pulang-pulang, dia pamer.  Demikianlah adanya.

Memang, di antara penulis linimasa lain, yang benar-benar telah menikah adalah saya. Pengalaman sepuluh tahun (bukan kali) menikah saya jauh lebih lama dibandingkan hubungan Glenn dengan segala kekasihnya, Nauval dengan segala fantasinya, Gandrasta dengan semua sopirnya, Fa dengan selusinan kucingnya, Agun dengan deretan koleksi mp3-nya, dan Dragono dengan semesta cita-citanya.

Akibatnya, saat melihat adik sepupu  yang dengan gairah mudanya menikah, dalam hati terucap:

“Selamat datang ..”. (dengan mimik wajah yang tak perlu disebutkan dan diperinci).

IMG_0288

 

terlebih saya jadi teringat salah seorang ucapan rekan saya:

Menikah bagi seorang lelaki bisa menjadi dua cabang utama:
sebagai pertobatan atau penjara.

Haha.

Tambahnya:

Menikah itu, Mas…seperti  menyelami bukit terjal dan mendaki di dalam samudra dengan arus dalam. tidak ada teorinya dan bahkan kadang hal tak masuk akal yang menolong sebuah hubungan tetap layak untuk dijalani antara seorang pria dan pasangannya.

Setiap senggang dan ngobrol ke arah pribadi, saya ndak terpancing untuk bicara soal kehidupan pernikahan. Ada garis tebal cerita keluarga dan cerita soal pernikahan. Satu urusan domestik, satu lagi boleh lah sampai ke publik.  Dalam perjalanan berkeluarga yang “baru” 10 tahun, saya baru berhasil memperoleh imbal hasil berupa dua anak perempuan dan satu lelaki.  Kedua putri saya berwujud manusia sempurna, sedangkan yang lelaki, si bungsu, mirip Richard Hammond,  pembawa acara Top Gear, namun dalam bentuk sepeda.

Anak pertama saya, sembilan tahun, lebih menyerupai saya dibandingkan siapapun. Gelagatnya mencemaskan. Dia tak pernah setuju dengan kebanyakan. Makanya saya agak kuatir jika  dia dewasa nanti pandangan hidupnya  mirip Ratu Skeptis Indonesia: Nona Paramita Mohamad.

Semoga saja tidak.

Ketika kami makan di resto padang, dia ingin burger. Ketika kami berada di warung soto, dia ingin gado-gado boplo. Ketika kami baru sampai di gramedia, dia dengan ringan berujar:
“aku ndak mau beli buku ah. lagi kangen periplus aja.” 

Ya. Itu bahasa kode, bahwa dia lebih ingin jalan-jalan ke Plaza Indonesia. Ayahnya silakan ke Periplus dan dia jalan-jalan di lantai tiga.

Sedangkan anak saya yang kedua adalah seorang LO yang berbakat. Usianya akan genap lima tahun. Dia pandai membaca raut wajah dan terlebih binar mata. Dia tak penah memedulikan senyuman jika tanpa disertai tatapan hangat. Eh Ralat. Dia lebih mirip seorang marketing asuransi!  Sekarang, dirinya sedang getol-getolnya mempratekkan gaya bahasa psikologi terbalik:

“Ayah, aku ndak boleh maen iPad lagi ya?

“Ayah, es klim vanila coko cip tuh ndak enak ya Ayah?”

“Ayah, aku kok ndak milip plincess ya Ayah?”

dan seperti biasa, saya upayakan dengan senyuman dan (ingat!) tatap mata yang meyakinkan akan berkata: “Kenapa, coba ulang?”

dan jika berhasil, aneh tapi nyata, dia akan mengulang kalimat semula menjadi:

“Aku masih boleh main iPad, Yah?

“Ayah, aku lagi mau es krim hagen daz yang vanila coko cip yah, boleh Yah?”

“aku cantik ndak Yah?”

Namun jika raut wajah saya kurang meyakinkan dan ketahuan sedang tidak memerhatikan pertanyaannya dia akan berujar:

Tuh kan! ayah pegang hape mulu sih! cebel!”

anak kedua

Begitulah.

Entah turun dari siapa perangai kedua anak perempuan saya. Untungnya mereka tak ada yang cemburu ketika akhir-akhir ini saya lebih dekat dengan adik mereka. Anak lelaki saya baru saja lahir dua bulanan lalu.

Namanya: Bromproy.

anak bungsu
anak bungsu

Saya hanya berharap ketiga anak saya menjadi anak yang sehat lahir batin. Generasi  unggul masa depan yang memiliki kehidupan lebih menyenangkan dari generasi pendahulunya.  Menjadi Kwak Kwik Kwek yang berbahagia.

Demikian dan oleh karena sekarang malam minggu, besok masih libur. Waktunya leyeh-leyeh. HHe. HHe. HHe.

Saya bingkiskan sebuah lagu dari Iron and Wine, berjudul Postcard, dan bonus filem pendeknya: Dreamers and Makers are my favorite people”. Tonton deh. Dijamin ndak mengecewakan.

 

Salam hangat dekap mesra.

Roy

 

 

 

Posted in: @linimasa

9 thoughts on “Tentang Kwak Kwik dan Kwek Leave a comment

Leave a Reply