He For She: Kisahku Bersama Emma Watson

Banyak sekali aktor, aktris, atau penyanyi yang menjadi bintang yang terkenal dan mendadak kaya raya karena film atau lagu yang dibawakannya. Tapi sedikit sekali yang mulus menjalaninya atau menanjak karirnya hingga mereka remaja atau ketika sudah dewasa. Banyak yang bermasalah.

Kita ambil contoh dua saja ya. Drew Barrymore mendadak menjadi seleb yang terkenal karena membintangi film E.T. di usianya yang masih belia. Lalu apa yang terjadi? Dia menjadi pecandu heroin di usia yang masih sangat muda untuk menjadi junkie. Bertahun-tahun. Namun dia berhasil melewati fase tersebut dan sekarang telah berada di jalan yang benar seperti sedia kala.

Contoh lainnya Macaulay Culkin. Semua orang tahu film Home Alone. Betapa lucunya dia di film tersebut sehingga TV lokal sering kali memutar film tersebut di masa liburan Natal atau Lebaran. Saya tidak pernah menghitung. Tapi mungkin sama seringnya dengan pemutaran film Warkop atau Titanic (yang belum pernah tamat saya tonton). Apa yang terjadi dengan dia sekarang? Pecandu heroin yang entah sekarang sudah sembuh atau belum. Konon beberapa kali relapse. Bintangnya semakin meredup. Nyaris padam.

Tapi ada yang berhasil melewati fase tersebut dengan “biasa saja”. Namanya Emma Charlotte Duerre Watson. Melejit karena bermain di delapan film Harry Potter selama 10 tahun–sebagai Hermione Grange. Film tersebut berhasil secara komersial dan Emma meraih beberapa penghargaan dan tentunya ketenaran yang tidak akan pernah lekang oleh jaman. Hampur tidak ada gosip miring atau bermasalah dengan narkoba ataupun asmara.

Selain melanjutkan karirnya sebagai aktris, dia juga adalah model dan bintang iklan dari beberapa produk kecantikan terkemuka. Emma juga adalah seorang instruktur yoga yang bersertifikat. Selain itu dia sudah mengantongi Sarjana Sastra Inggris dari Universitas Oxford. Tapi rupanya dia tidak berhenti di situ. Tahun lalu, di bulan Juli, dia ditunjuk sebagai UN Women Good Will Ambassador, Duta PBB untuk pemberdayaan perempuan.


Tanggal 8 Maret, dua hari lalu adalah Hari Perempuan Internasional. Tanggal itu diambil dari demonstrasi yang dilakukan oleh para perempuan di London tahun 1914 dan dilanjutkan di Uni Soviet pada tahun 1917 yang intinya meminta perempuan untuk mendapatkan hak yang sama untuk memilih dan bekerja. Kesetaraan gender.

Pada September Sepetember 2014, melakukan Emma Watson diundang menjadi pembicara di PBB sebagai UN Women’s Good Will Ambassador. Untuk yang malas streaming karena koneksi internet di Indonesia yang gurem bisa di baca di sini isi pidatonya. Terlihat grogi memang. Tapi di situ justru letak ketulusannya. Dia baru berusia 24 tahun.

Di kesempatan itu juga dia meluncurkan kampanye HeForShe, sebuah situs untuk mendorong kesetaraan gender (saya kurang sreg dengan kata seksisme atau feminisme). Gerakan ini lebih mendorong kepada agar pria lebih aktif dalam mewujudkan kesetaraan gender di seluruh dunia. Kampanye ini banyak mendapat respons yang positif dari para pesohor di Amerika Utara dan Eropa. Sinyal yang bagus sepertinya. Karena belum ada satupun negara di dunia ini yang sudah mencapai kesetaraan gender.

Kalau bukan kita, lalu siapa? Kalau tidak sekarang, lalu kapan?

Iklan

3 thoughts on “He For She: Kisahku Bersama Emma Watson

  1. aku umur 24, baru menuntut kesamaan hak antara pria dan wanita,
    untuk tidak dikatakan bujang lapuk kalo blom nikah di umur segitu. haha.
    telat bgt komennya. abis baru baca artikel ini..

    btw, ada beberapa typo dan penggunaan kata yg agak kurang pas, tapi itu justru menunjukkan ketulusan dan keseriusan penulis *imho. hehe.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s