“Aku Mah Apa Atuh…”

Kemampuan melakukan perbandingan. Sebuah anugerah yang kadangkala berbuah musibah. Entahlah.

Dengan kemampuan tersebut, kita, manusia bisa mendapat wawasan mengenai apa yang baik dan patut dikejar, dan apa yang kurang baik dan boleh ditinggalkan. Prinsip itu pun berlaku pada hampir semua hal kehidupan, terlebih dalam menentukan prioritas dan arah hidup, ihwal yang sewajarnya bikin kita limbung tidak karuan.

Akan lebih baik, bila hasil dari sebuah perbandingan disikapi secara bijaksana. Namun tak sedikit dari kita yang lebih suka menenggelamkan diri dalam perbandingan, tanpa mau menindaklanjutinya. Gampang terbuai pujian, mudah pula dijatuhkan kritik dan hinaan. Dikalahkan perubahan tanpa persiapan apa-apa.

Sumber: th08.deviantart

Bila kualitas diri kita mengungguli yang lain, akan muncul rasa bangga. Saking besarnya kebanggaan tersebut, sampai-sampai kita lupa bahwa kualitas tadi perlu dijaga atau sekalian ditingkatkan, agar tidak meredup dan hilang. Sebaliknya, bila perbandingan yang valid menunjukkan bahwa kita punya segudang kekurangan dan pantas disisihkan dari persaingan, banyak yang lebih memilih untuk meratapi keadaan. Perlu sejumlah waktu untuk menyadari bahwa ada yang bisa diperbaiki, atau ingat bahwa masih ada kesempatan untuk memulai dari awal lagi.

Terdengar gampang ya. Jangan khawatir, saya juga masih sering berlaku seperti itu. Ada malam-malam, ketika rasanya sedang dicemooh diri sendiri atas apa yang telah diperbuat selama ini. Seakan ditampar suara dari dalam kepala yang bertanya: “kamu sudah ngapain aja selama ini?” Dijawab dengan keheningan, yang mencekam lahir batin. Dan dengan kemampuan melakukan perbandingan, pertanyaan imajiner tadi makin terdengar menyakitkan gara-gara baca track record-nya orang. Yang jauh lebih muda, dan jauh lebih nyata karyanya.


Jadi critanya TEDxJakarta ketambahan tim baru kan ya. Yang lain udah dimintain foto buat kartunama, baru ngeh ada satu orang yang belom kirim. Yaudah gue google aja. Dan ternyata ybs super keren gini… Baca page wikipedianya, prestasinya seabreg-abreg… Penghargaan Pemimpin Muda Indonesia dr presiden, duta junior UNESCO, founder Indonesian Future Leader founder, peserta G-20 summit, global changemakers, Duta Muda ASEAN, dan itu semua dicapai sebelum dia lulus dan jadi mahasiswa berprestasi se-UI & nasional. Dia juga lulusan pasca sarjana Columbia University (yep, one of the ivy league college), nominator Kick Andy Heroes, dan pernah interview di Tea Time with Desy Anwar (acara yang sama yang menginterview Dalai Lama). Come on how cool is that? Padahal baru kenal hari ini, orangnya super baik dan ramah. Memang yang berisi itu gak usah banyak mulut.

Ohya lupa. Umurnya baru 23 taun.

~ disitat dari posting-an Path seorang teman tahun lalu, yang kiprah hidupnya tak kalah sophisticated pula.


Setelah baca ini, langsung memaki dalam hati: “SEMPAK!” Bukan. Bukan sempak-nya yang bersangkutan ini.

Usianya beberapa tahun lebih muda, namun pencapaiannya bikin berpikir ribuan kali sebelum berani berkoar-koar membanggakan–apa yang dikira sudah pantas dianggap–sebuah pencapaian. Semuanya bakal menguap begitu saja, jadi kesombongan yang sia-sia.

Kalau sudah begini, lagi-lagi lantaran kemampuan melakukan perbandingan, kita bisa mendapatkan wawasan yang mengantarkan pada pertanyaan: “mau ngapain sekarang?” Apakah kita ingin berusaha punya kiprah juga, atau tetap menjalani hidup dengan legowo? Mengkalibrasi batasan “baik” dalam hidup. Bersahabat dengan perubahan.

Walaupun kelanjutannya, tetap sah-sah saja untuk menggunakan alibi bahwa kiprah seseorang dalam hidup merupakan paduan beberapa faktor yang saling mendukung, termasuk keberuntungan momentum. Toh, bahkan sampai ada asumsi yang mengatakan bahwa Pangeran Siddhattha (Sanskrit: Siddhartha) enggak bakal bisa mencapai enlightenment menjadi seorang Buddha kalau lahirnya di benua Afrika, itu pun setelah ia salah bertapa selama enam tahun. Atau pada contoh lain, dosa umat manusia tidak akan ditebus Sang Messiah bila Dia tak disiksa dan disalib, itu pun setelah Yudas mengkhianatinya. Atau silakan cari analogi lainnya. Suka-suka Anda.

Bagaimanapun juga, penyesalan selalu datang belakangan. Cuma waktu yang sanggup menguak selubungnya. Saat keyakinan, optimisme, dan nilai-nilai yang kita anggap harus diperjuangkan ternyata tak ubahnya sekantung kentut. Sudah hampa, bau pula.

Baik buruknya sebuah pengalaman, tetap merupakan sumber pelajaran.

…dan mungkin, ada baiknya berhenti membanding-bandingkan orang lain dengan diri sendiri.

Untitled-1

“Lebih baik, meskipun masih kurang.”

[]

Iklan

2 thoughts on ““Aku Mah Apa Atuh…”

  1. Gon, kalo kata Oom Ted,”Comparison is the thief of joy.” Teman juga nasihatin, “Kalaupun harus membandingkan, lebih baik membandingkan diri sendiri yang sekarang dengan yang dulu.” Beberapa hal yang menyelamatkan ketika berada pada malam-malam krisis eksistensi.

    Disukai oleh 2 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s