Jujurlah Seperti Anak Kecil

Beberapa tahun lalu, sesaat setelah keluarga kami pindah ke rumah baru, seseorang meninggalakan pesan di inbox telepon yang mengatakan ia menemukan kotak berisi kartu kredit dan surat-surat berharga kami di pinggir jalan. Karena kami merasa ndak ada yang hilang, tiba-tiba terbayang: bahaya! Jangan-jangan tukang tipu?

Meskipun orang baik sama langkanya dengan Dinosaurus, kami sekeluarga tetap menghubungi nomor yang ditinggalkan orang tadi. Pria itu ndak dirumah, tapi ibunya mendeskripsikan kotak yang dimaksud. Ini bikin kecurigaan kami berbuah lega hati. Isinya antara lain: tumpukan puisi kacangan, kartu kredit bekas yang harusnya dimusnahkan, dan prakarya dari sekolah anakku, Sekar.

Ibu pria yang menelepon kami menolak pemberian terimakasih yang kami tawarkan, ia hanya meminta kami juga melakukan hal yang sama kalau mengalami kejadian serupa. Kami memutuskan untuk mengikuti sarannya kalau menemukan kotak berisi puisi—tentu setelah mencoba semua kartu kreditnya lebih dulu…

Kami ndak tahu kenapa kotak itu bisa tergeletak di sana. Kayaknya ndak ada badai sih. Tapi sangat mencerahkan. Di dunia yang kejam abad ini, masih ada “kejujuran” dan “kebaikan.”

image

PUISI ITU
Buatanku. Kalimat-kalimatnya menjijikan. Rimanya hancur berantakan. Waktu kami sama-sama membuka kotak yang ditemukan itu, terpaksa ada satu-dua lembar puisi dibacakan. Termasuk Tiur Janda Bahenol. Ah, mungkin nanti akan aku buka di Linimasa minggu depan. Suasana berubah mengerikan. Dibutuhkan kejujuran tingkat tinggi untuk mengakui puisi itu pernah dibuat dengan sadar—bukan dalam keadaan mabuk. Ingin rasanya menyangkal kalau karya itu milik Rendra waktu masih TK. Rasanya seperti tertangkap basah ketimbang menemukan barang yang hilang. Aku tidak bisa sejujur itu—it’s too complicated.

KARTU KREDIT
Yang ini lain lagi ceritanya. Ini adalah kumpulan kartu kredit bekas. Entah bermasalah atau tidak. Semuanya milik Kakakku. Seharusnya dimusnahkan, sesuai regulasi yang berlaku. Lagi-lagi dibutuhkan kejujuran untuk mengakui kalau seorang dari kami cukup gila mengoleksi kartu kredit bekas. Mungkin merasa sebuah pencapaian atau memang berharga seperti kartu basket Michael Jordan? Ndak ada yang tahu. Dengan nada tergesa-gesa, pemiliknya menyambar tumpukan kartu kredit itu. Segera memasukkannya ke kantong plastik, dan teka-teki berlanjut: dimusnahkan atau ndak?

PRAKARYA
Waktu itu Sekar baru berumur 4 tahun. Ia bangga bukan kepayang waktu kami tunjukkan apa yang kami temukan. Kertas-kertas tadi penuh warna. Bukan karya yang bagus kalau melihat kemampuan anak-anak sebayanya. Satu kertas mewarnai bergambar SpongeBob, sayang semua diwarnai hitam oleh pembuatnya. “Itu punya kakak!”—dengan lantang. Kejujuran spontan yang tiba-tiba keluar. Satu-satunya barang yang ndak disangkal kepemilikannya.

JUJURLAH SEPERTI ANAK KECIL
Atau Ibu baik hati tadi. Dua orang ini jiwanya patut dicontoh. Saat kita diberi pilihan untuk memberi tahu pemilik barang yang hilang, dibutuhkan kejujuran. Ketika kita diberi pilihan untuk mengakui SpongeBob hitam, dibutuhkan kejujuran. Untuk urusan yang sesederhana puisi dan kartu kredit saja, kejujuran susah sekali diucapkan.

Ironisnya, sebagian besar kita ndak lagi punya keberanian seperti itu. Menjadi seorang yang jujur berbuntut banyak dilemma. Katanya untuk menutupi keburukan. Supaya ndak menyinggung perasaan orang lain. Agar ndak terdengar kasar. Melindungi keluarga dan lain sebagainya menuntut kita untuk ndak jujur. Kita berada dalam dunia penyangkalan yang kronis.

Bentuk ketidak jujuran itu banyak. Ia menjelma jadi rupa-rupa perilaku yang secara sadar kita terima sebagai norma. Walaupun kejujuran itu ndak perlu sevulgar John McEnroe (The Hall of Fame tennis player built his career not just on stellar play, but also on random acts of rudeness), ia tetap terasa kehadirannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Siapa yang menulis puisi sampah ini?”
“Yang jelas bukan aku!”
— Bentuk kebohongan.

“Bagaimana penjualan bulan ini?” 
“Tidak masalah, bulan depan kita akan tingkatkan lagi.” 
— Bentuk pengalihan.

“Apakah semua setuju?”
“Saya kurang setuju.”
— Bentuk kesopanan.

“Siapa yang bertanggung jawab atas kerusakan ini?”
“Kami semua Pak!”
— Bentuk berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.

“Kenapa bisa sampai begini kejadiannya?”
“Kemarin saya lihat, dia yang pulang terakhir”
— Bentuk lempar batu sembunyi tangan.

“Aku ndak gemuk, cuma bertulang besar.”
— Bentuk penyangkalan.

“Bagaimana penampilanku?”
“Aduh, kamu tampak lebih langsing.”
— Bentuk basa-basi.

“Siapa Presiden Indonesia?”
“Gus Dur!”
— Bukan ndak jujur, cuma prinsip aja.

Sekarang, kalau ketidak jujuran itu berarti basa-basi, kesopanan, pengalihan, dan penyangkalan yang terjadi setiap hari, bisakah kita kembali seperti anak kecil?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s