Separuh

Minggu ini, Linimasa genap berusia 6 bulan. Tepatnya hari Selasa kemarin, tanggal 24 Februari 2015. Tergantung dari perspektif, bisa saja Anda bilang “baru 6 bulan”, atau “sudah 6 bulan”.

“Baru 6 bulan” karena biasanya yang namanya ulang tahun diukur dari genapnya hitungan satu tahun yang ditandai dengan tanggal dan bulan yang sama tapi tahun yang berbeda, sedangkan ucapan “sudah 6 bulan” bisa jadi diucapkan karena, well, di jaman sekarang, apapun dalam bentuk digital yang bisa bertahan lebih dari 3 bulan bisa dibilang cukup bagus. Selain persaingan yang semakin hari semakin kompetitif, mempertahankan perhatian pembaca juga bukan sesuatu yang gampang.

Sudah lebih dari 180 hari kami hadir setiap hari menemani Anda … hampir setiap hari, ding. Akhirnya kami sempat absen selama dua Jumat yang lalu. Farah Dompas, yang sudah kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi setelah cukup lama nggak ada yang memangku, mengalami jet-lag dan transisi adaptasi ke kehidupan baru yang membuat dia sempat jatuh sakit. Dari menggigil kedinginan di bawah nol derajat sehari-hari, laltu tiba-tiba harus lembur setiap hari dan membajak sawah di akhir pekan, membuat beliau ambruk.
Tapi jangan khawatir. Setelah masa istirahatnya dihabiskan dengan menonton film-film di Netflix, rasanya Farah sudah cukup segar lagi untuk kembali menulis secara rutin.

Dan rutinitas menjadi sesuatu yang sempat terhenti di Linimasa akhir-akhir ini, ketika popularitas cerita Ustadz Wadud karya Gandrasta melejit. Berhubung Fa berhalangan, maka cerita-cerita tersebut digilir secara berurutan, menggeser jadwal Glenn dan Roy. Ditambah dengan Dragono yang beberapa kali mengisi kekosongan Fa, maka saya sendiri sempat bingung, dan harus menanyakan ke grup kami, “Hari ini giliran siapa ya yang piket?”

Tapi saya pribadi melihat kejadian di atas sebagai jeda yang memang kami perlukan. Sesekali bolehlah rutinitas sedikit diacak. Toh di antara kami tidak ada yang benar-benar OCD memandang tulisan harus rapi setiap hari sesuai absen, seperti susunan buku dalam rak. Paling tidak, itu menurut saya, lho. Tidak dijamin juga kalau 6 penulis lain ternyata malah bertolak belakang dari apa yang saya perkirakan.

Maklum saja, kami tidak pernah bertemu beramai-ramai di dunia nyata.

Saya belum pernah ketemu langsung dengan Roy Sayur, Agun Wiriadisasra dan Farah Dompas. Ketemu Dragono Halim terakhir beberapa bulan lalu waktu ada kerjaan di Samarinda. Itu pertemuan kami ketiga, kalau tidak salah. Sudah lupa kapan terakihr ketemu Glenn Marsalim dan Gandrasta Bangko, meskipun kenal mereka sudah lama sekali, dan pernah ada masanya kami cukup sering bersua.

Linimasa diinisiasi Roy hanya bermodalkan perkenalan di dunia maya. Lantas obrolan kami bertujuh pun, berikut keputusan-keputusan mengenai pembagian hari, jadwal tulisan, serta rencana-rencana ke depan, cukup kami perbincangkan di grup WhatsApp. Kalau ramai, pernah terlewat sekitar 600-an pesan. Kalau sepi, bisa berhari-hari tak ada kicauan sama sekali. Apa yang kami perbincangkan? Apalagi kalau bulan tentang harta, wanita, tahta dan Anda. Namanya juga ngerumpi, yang diobrolin ya anything under the sun dong.

Kadang saya penasaran juga, kalau sudah ketemu di dunia nyata, apa bisa kami ngobrol seseru kalau ngobrol di dunia maya? Apa jangan-jangan malah jaim, karena malu-malu kucing? Padahal kucing di Lapangan Banteng dan Sarinah gak ada yang malu, karena kalau malu gak akan laku.
Tapi rasa penasaran itu tidak pernah sampai membuat saya memikirkan terlalu lama, karena rutinitas sehari-hari sudah menyibukkan kami. Apalagi dalam enam bulan terakhir, banyak perubahan yang sudah terjadi dari diri kami.

Gandrasta masih mengisi rumah sambil membagi waktu untuk bisa terus bercinta. Agun mengasuh keponakan sambil terus menjadi pengamat aktif musik dan film. Farah memonitor pergerakan media bagi beberapa korporasi. Glenn berkelana menjadi aktifis dan memberikan penyuluhan kepada berbagai lembaga masyarakat, sambil terus memasak. Dragono punya rencana besar dalam karir dan pendidikan yang sudah dia rintis, dan masih menjadi wartawan. Roy jatuh cinta dengan sepeda barunya yang dia naiki setiap hari, sebagai modal supaya kalau pensiun nanti tidak sering sakit. Saya sendiri, yang kebetulan the true underachiever di grup ini, kebetulan sedang menikmati kembali menghabiskan hari membaca buku-buku teori film seperti waktu kuliah lagi.

Baru semalam saya menonton episode terakhir serial “Parks and Recreation” yang akhirnya berhenti tayang setelah 7 seasons atau musim penayangan. Menonton series finale serial ini rasanya sama seperti menonton episode akhir dari serial-serial komedi Amerika lainnya yang sudah kita ikuti sekian lama. Ada bagian yang hilang, karena kita sudah menginvestasikan waktu kita untuk tumbuh bersama karakter-karakter yang sudah terlanjur kita cintai. Meskipun tidak setiap episode serial “Friends” atau “How I Met Your Mother?” kita sukai, atau bahkan ada satu atau dua musim penayangan serial itu yang bahkan tidak kita sukai, namun menghabiskan waktu bersama mereka sekian lama mau tidak mau membuat mereka secara tidak sadar sudah menjadi bagian dari hidup kita. Kita familiar dengan ciri khas karakter-karakter buatan itu. Kita tahu bagaimana cara Joey merayu, dan kita tahu apa ucapan khas Barney Stinson.

Friends
Friends

Terlalu awal dan mungkin muluk-muluk rasanya membandingkan Linimasa dengan scenario di atas. Tapi tidak berlebihan kalau kami ingin kehadiran kami bisa selalu mengisi waktu sarapan, makan siang dan ngopi sore Anda dengan manis. Anggap saja kami sedang berada di dekat Anda lewat tulisan, lalu kita sama-sama menghabiskan waktu bercanda dan bercerita.

Dan ketika sampai di ujung satu tulisan, akan selalu ada arsip tulisan lain yang menjadi teman Anda.

Enam bulan lagi Linimasa genap berusia setahun. Entah perayaan apa yang akan kami gelar. Kami hanya menunggu tren apa yang akan terjadi saat itu.

Yang jelas, kami hanya ingin menghabiskan waktu dalam cerita bersama Anda semua.

We love you all.

Iklan

10 thoughts on “Separuh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s