Ingin Ini Ingin Itu Banyak Sekali…

Terserah kamu mau punya teori seperti apa, atau mau idealis yang bagaimana. Tunggu aja nanti kalau sudah kawin.

Terdengar seperti ancaman, kalimat di atas sebenarnya menyampaikan pengingat, markah, isyarat supaya jangan kaget dengan perubahan yang bakal terjadi ketika sudah tak lagi hidup sendiri. Ujaran ini dilontarkan seorang kawan sebaya, sudah masuk kategori “Machmud Abas”, dan langsung diamini “Machmud-Machmud” lainnya. Diskusi informal tersebut ditutup dengan kalimat: “ya udah, kita doain kamu cepat kawin. Biar nanti bisa ngerasain sendiri.

*pencet tombol Rewind*

Mau bagaimanapun, selalu ada jurang yang memisahkan antara Das Sein dan Das Sollen dalam setiap hal; yang sedang terjadi dan yang diharapkan terjadi. Termasuk dalam kehidupan pernikahan. Dimulai saat pasangan pengantin baru dipuja kanan kiri. “Kamu beruntung loh dapat suami/istri dia,” diikuti dengan sederet kualitas-kualitas positif. Mulai dari rupawan, pintar cari uang, jujur, pintar, baik hati, pintar masak, sampai seksi ga ketulungan. Bikin senang. Namun lambat laun, menghasilkan rahasia-rahasia rumah tangga yang memang semestinya disembunyikan.

Sebelum menikah, sejumlah bayangan dimunculkan. Ada cowok-cowok yang berniat ingin jadi kepala rumah tangga idaman… semua orang. Tetap mampu mempertahankan kekerenan lewat penampilan, rajin nge-gym, atau berolahraga bersama teman-temannya. Ingin jadi hot young daddy yang tak segan jalan bareng anaknya saja. Ingin jadi sumber nafkah yang berkelimpahan bagi istri dan anak-anak, baik sebagai pekerja maupun pemilik usaha.

Ingin bisa mengantar jemput anak dari sekolah. Ingin bisa menyaksikan semua pertunjukan seni yang digelar di sekolah. Ingin punya cukup waktu untuk jadi partner diskusi yang menarik bagi sang buah hati. Ingin menjadi saksi bengalnya si putra yang jago sepak bola, atau populernya si putri di sekolah. Ingin memiliki fisik yang cukup kuat, untuk tetap sanggup menghadiri wisuda sang anak di luar negeri, menyeleksi calon menantu, mengantarkannya ke altar pemberkatan pernikahan atau mendampingi kala dia duduk berhadap-hadapan dengan penghulu. Ingin mendampingi, memberikannya nasihat dan petunjuk saat merintis usahanya sendiri, atau kala terlibat pertengkaran rumah tangga. Ingin tetap sigap untuk mendampingi anak/menantu saat menantikan proses persalinan di rumah sakit. Bahkan jika umur memungkinkan, ingin terus bisa berbagi cerita dengan cucu.

Di sisi lain, para cewek juga pengin jadi istri sekaligus mama terbaik. Bisa mempertahankan kecantikan yang telah membuatnya disunting seorang pria. Lalu, sebagian dari mereka berharap bisa menikah dan punya anak di bawah umur 30 tahun, bila memungkinkan. Bukan lantaran berpandangan tradisional atau konvensional, tapi mempertimbangkan selisih usia. Akan terasa menyenangkan, katanya, bila suatu saat bisa ke mal belanja diskonan bareng si anak gadis, atau ngafe-ngafe lutju bareng. Sambil menunggu momen tersebut, sang mama pun berusaha sekuat tenaga untuk membuat anak-anaknya tampil kece maksimal.

Kalau dibawa bernala-nala, memang ada baiknya begitu. Usia tidak punya bau. Mumpung masih muda dan bertenaga, mendampingi anak dan mengajarinya banyak hal sejak awal. Ben ndang mentas, kalau kata orang Jawa. Bakal senang rasanya, ketika di usia lepas SMA, sang buah hati sudah berkenalan dengan ihwal wirausaha, atau punya keahlian yang bisa di-freelance-kan. Sudah paham susah sekaligus menyenangkannya cari duit dengan gaya kekinian. Menyapihkan diri, berani lepas dari dekapan orangtua, yang dibiarkan tetap menikmati kesibukan bisnis dan usaha selama ini. Belum lagi kalau sang mama adalah wanita karier, yang bukan hanya mandiri, namun juga cerdas, punya kapasitas, dan berkarisma.

Semua gambar boleh comot Google.

 

Seru ya.

Kenyataannya, kita semua tetap takluk dengan misteri masa depan. Tidak ada yang mustahil, termasuk kemustahilan itu sendiri. 😀 Impian pun ada untuk dicapai, meskipun seperti yang kita ketahui, hasil akhirnya cuma dua. Apabila tercapai, maka pantaslah kita untuk terus memanjatkan rasa syukur. Apabila meleset, berarti kenyataan tak sesuai rencana. Harusnya sih ndakpapa. Hanya saja, mereka-mereka yang belum menikah biasanya punya tingkat optimisme yang tinggi. Sampai akhirnya mesti dibuat waspada dengan jawaban berikut ini:

Terserah kamu mau punya teori seperti apa, atau mau idealis yang bagaimana. Tunggu aja nanti kalau sudah kawin. Biar nanti bisa ngerasain sendiri.” Setingkat lebih tinggi ketimbang pertanyaan “kapan kawin?” dan sejenisnya.

Teruntuk semua orangtua, muda maupun tua, You Rock! Keren dengan kekerenannya masing-masing. Banyak pula yang enviable, patut bikin iri. Uwuwuwuwu

Teruntuk Anda yang punya sikap dan pilihan berbeda soal pernikahan, termasuk yang masih menanti kesiapan, You’re awesome too! Nothing can bring You down!

[]

Iklan

16 thoughts on “Ingin Ini Ingin Itu Banyak Sekali…

  1. Reblogged this on d'mischievous bitch and commented:

    “Teruntuk semua orangtua, muda maupun tua, You Rock! Keren dengan kekerenannya masing-masing. Banyak pula yang enviable, patut bikin iri. Uwuwuwuwu…

    Teruntuk Anda yang punya sikap dan pilihan berbeda soal pernikahan, termasuk yang masih menanti kesiapan, You’re awesome too! Nothing can bring You down!”

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s