Cina Tak Berbendera

Belum lagi jam sekolah usai, Vincent yang masih 5 SD dijemput oleh Ibunya pulang. Teman-teman sekelasnya tampak kebingungan. Demikian pula Vincent. Hanya Ibu dan Guru yang memberikan kesan tau sama tau. Vincent pun meninggalkan kelas. Ketika berjalan di lorong sekolah Katolik itu, Vincent menemukan dirinya bukan satu-satunya. Ada banyak teman-temannya yang juga dijemput oleh ayah atau ibu mereka.

Sesampainya di rumah, Vincent segera berganti baju yang sudah disiapkan. Sehelai kemeja merah dan celana jeans. Ibu Vincent menyisir dan merapihkan Vincent yang tampak siap pergi ke pesta. Sebelum meninggalkan rumah, Ibunya memakaikan jaket berwarna hitam. Bagian kerah merah yang masih menonjol, dilipat masuk ke dalam agar tak terlihat sama sekali. Vincent diam dan menurut saja.

Di dalam bis menuju ke kawasan Jakarta Utara, Vincent menahan panas cuaca. Ingin rasanya dia melepas jaketnya. Tapi tatapan Ibu yang penuh arti selalu berhasil mengurungkan niatnya. Sebotol air mineral di tangannya lumayan menjadi penyejuk setiap saat. Mereka berdua diam sepanjang perjalanan. Tangan mereka bergandengan.

Sesampainya di perumahan tujuan, mereka berdua pun turun dari bis. Jalanan tampak sepi seperti kuburan. Hanya tampak beberapa orang berkerumun di depan rumah. Para pria merokok sambil berbincang seru. Beberapa tampak lebih berani memperlihatkan pakaian merah yang dikenakannya.

Di sebuah rumah sederhana di kompleks itu, Vincent dan Ibunya pun masuk tanpa perlu mengetuk terlebih dahulu. Begitu sampai di dalam, barulah jaket hitam di tubuh Vincent dilepas. Kemeja merah yang dikenakannya basah sebasah-basahnya. Sementara Ibu segera menuju ke kamar mandi untuk berganti baju berwarna merah pula.

Rumah full AC itu mengeringkan basah kemeja Vincent dengan segera. Vincent duduk di sofa kulit sambil terus menatap ke seluruh tamu yang ada di ruangan itu. Semua mengenakan pakaian bernuansa merah. Ada yang sambil makan, berbincang seru, dan di pojokan rumah sekumpulan remaja berbincang dengan serunya. Sesekali terdengar “ssssh….” ketika suara mulai mengencang. Kompak, suara pun mereda kembali.

Seketika Ibu yang sudah berdandan cantik menarik tangan Vincent dan menuntunnya untuk berdoa di halaman belakang rumah itu. Tiga batang hio dinyalakan, digerakkan ke atas dan ke bawah, membungkuk, tegak lagi, mengibas hio lagi sebelum akhirnya ditancapkan di mangkuk kuningan di atas meja altar. Di atas meja itu tampak beberapa foto orang tua. Ada yang masih hitam putih dan ada yang sudah berwarna. Asap hio sedikit masuk ke dalam rumah.

Setelah ritual berdoa selesai, Ibu dan Vincent berdiri di depan kakek nenek dan buyut yang masih hidup dan duduk di kursi masing-masing. Mereka bergantian mengepalkan tangan dan membungkuk di hadapan mereka. Belum lagi bisa berdiri tegak lagi, biasanya para kakek dan nenek akan menarik pundak Vincent dan Ibunya untuk memeluk dan mencium dengan mesra. Beberapa kali kening Vincent dikecup cukup lama. Terdengar doa dan pesan disampaikan oleh para tetua.

Hidup jujur, lurus, jangan berbohong, rajin belajar dan bekerja, dan harapan untuk mengenang mereka tersirat menjadi doa wajib setiap ritual sungkeman ini. Vincent yang terdiam sementara Ibu tampak lebih luwes berkomunikasi dan bersosialisasi. Setelahnya, tak lupa amplop berwarna merah dimasukkan ke dalam kantong kemeja Vincent.

Belum selesai. Masih ada oom, tante dan saudara lain yang lebih tua yang juga harus diucapkan selamat. Bedanya, tak perlu sungkeman. Bahkan beberapa oom dan tante funky segera memeluk saja sambil berkata “Kiong hi…kiong hi…”. Ada yang ikut memasukkan amplop merah ke kantong kemeja Vincent, ada pula yang tidak.

Setelah selesai, Vincent mengeluarkan seluruh amplop merah yang dikantunginya dan dititipkan ke Ibunya yang membawa tas.  Acara makan-makan dimulai. Beragam jenis chinese food dan makanan tradisional Indonesia membaur di atas meja. Lontong Cap Gomeh di samping Bakmi Goreng. Kuah Bakso di sebelah Ayam Bali. Babi panggang bercengkerama dengan Sate Madura. Nasi putih dan nasi kuning bersebelahan. Buah Pir Shanghai ditata padu dengan Apel Manalagi. Dan manisan Longan Lychee berseling dengan Es Cendol.

Vincent duduk di samping Ibunya yang bercerita satu persatu siapa anggota keluarga di rumah itu. Tak semua langsung bisa diingatnya. Vincent mencoba memperhatikan wajah mereka dengan seksama. Apalagi, semua perempuan yang hadir selain mengenakan pakaian berwarna merah, juga seperti mengenakan seragam: kebaya. Kebaya bersulam kembang-kembang di bagian kerah sampai ke bawah. Dan kain batik beragam motif berseliweran ke sana ke mari. Motif buketan, burung, kupu-kupu, rumah-rumahan berseling dengan kain batik sogan cokelat dari Solo, dari Lasem, Cirebon dan tentu saja Pekalongan. Sementara para tamu pria, mengenakan kemeja biasa atau batik lengan panjang.

Perut kenyang, puas tertawa, berlanjut dengan nyanyi bersama. Donna Donna-nya Joan Baez berganti dengan Widuri-nya Broeri Pesolima. Bridge Over Troubled Water-nya Simon Garfunkel disambung dengan Lisoi dari Sumatera Utara. Lagu-lagu dari ABBA selalu berhasil membuat hadirin bergoyang disambut dengan alunan Hutauruk Sisters. Di tengah kemeriahan nyanyi bersama itu, sudah semacam tradisi untuk para anak bernyanyi satu persatu. Tak ketinggalan Vincent.

Vincent berdiri dan berjalan mendekati piano. Oom yang sore itu bertindak sebagai pianis seolah berbisik menanyakan lagu apa yang hendak Vincent bawakan. Setelah mengangguk setuju, Vincent berdiri tegak dengan tangan di belakang. Mengalun lirih dari mulut Vincent

Tanah air ku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidakkan hilang dari kalbu
Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai

Walaupun banyak negeri kujalani
yang mahsyur permai di kata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Disanalah ku rasa senang
Tanah ku tak kulupakan
Engkau kubanggakan

Tanah air ku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidakkan hilang dari kalbu
Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai

Perayaan Imlek di antara tahun 1985 – 1999 di Indonesia, dalam ingatan.

 

Iklan

8 thoughts on “Cina Tak Berbendera

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s