En Kol Chadásh Táchat Hashámesh

ilalang embun

Salah satu pernyataan  dari Jacques Derrida dalam of grammatology (1967) adalah kutipan  “there is no outside-text” (il n’y a pas de hors-texte)” yang muncul ketika menyinggung soal Rosseau. Oleh beberapa orang, termasuk  Foucault, disalahtranslasikan menjadi “there is nothing outside of the text” dan diartikan menjadi tak ada yang lain kecuali dari kata-kata itu sendiri.

Tapi untuk membahas ini perlu banyak halaman dan kicauan yang belum tentu enak dibaca, maka saya alihkan saja dengan kalimat lain yang hampir mirip namun maknanya berbeda jauh.

There is nothing truly novel in existence. Every new idea has some sort of precedent or echo from the past.

Pernyataan ini sejalan dengan pepatah latin: Nihil Sub Sole Novum. Atau dalam bahasa ibrani menjadi אין כל חדש תחת השמש (en kol chadásh táchat hashámesh), yang termuat dalam Perjanjian Lama, Ecclesiastess 1: 9. There is nothing new under the sun. 

Tak ada hal baru selama kita hidup di dunia, dengan sinar mentari yang melingkupinya. Semua adalah pengulangan. Bahkan cerita yang ditulis sastrawan, novelis, cerpenis, dan pengarang stensilan. Semua adalah rumusan ide yang berkelindan dari masa lampau hingga kini dan tertuang dalam teks.

Termasuk hasrat anak manusia. Soal teori bahagia, misalnya.

Dalam ajarannya yang tertuang dalam Aranavibhanga Sutta (Majjhima Nikaya 139. 9), Buddha membagi bahagia menjadi dua bagian: bahagia indrawi, ketika kenikmatan diperoleh ketika kita mendapatkan sesuatu, terlibat dalam hal-hal, dan Dhamma, Kenikmatan pelepasan, lenyap dan pupusnya hal-hal.

Dalam realitas, banyak cara menuju bahagia. Sebagian dari kita melakukannya dengan berbelanja. Sebagian lagi dengan berwisata. Sebagian lainnya dengan bercinta. Juga sebagian melakukan samadhi.

Samadhi adalah jalannya; tiada samadhi adalah jalan yang salah (Anguttara Nikaya 6:64).

Pengertian Samadhi diambil dari ajaran Buddha yang ditulis dengan rendah hati dan tenang oleh Ajahn Brahm dalam bukunya “Bukan Siapa-Siapa”. Dalam tulisannya, Ajahn mengingatkan bahwa salah satu yang mencegah kita memperoleh kebahagiaan adalah karena kita menginginkan kebahagiaan. Berhasrat ingin bahagia. Hasrat yang dengan mudah akan membawa banyak kefrustasian.

Untuk menjadi tenteram, bukan dengan menginginkannya, namun dengan melepas segala keinginan. Termasuk keinginan untuk bahagia.

Sebagian lain, ingin bahagia, dengan cara mendekatkan diri pada Tuhan.

Pada tahap tertentu, seseorang yang melakukan “laku” akan mengalami jhana, baik para mistikus Hindu, Kristiani, Muslim maupun Buddha. Atau setidaknya mengalami pengalaman spiritual mendalam. Saking hebatnya, sebagian dari mereka menganggapnya penyatuan dengan Tuhan. Manunggaling kawula gusti.  Batin sepenuhnya manunggal, perasaan kebahagiaan dan kekuatan, ketiadaan sang “aku”- sungguh luar biasa dahsyat. Membiarkan segalanya tenang sampai pada titik pupus dan lenyap.

Heri est historia, crastinum mysterium. Yesterday is a history, tomorrow is mystery. Yang sudah terjadi biarlah berlalu, yang akan datang serba belum pasti. Ketenaran, jabatan, harta, kesehatan, kepandaian, semua yang bersifat tidak abadi dan hebat itu lenyap, apakah kita akan terpuruk tanpa harapan? Sic transit gloria mundi. Begitulah keluhuran duniawi lewat begitu saja. Bagi sebagian lain, inilah perlunya iman. Misteri hidup dijalani dengan iman, adanya keniscayaan dan rasa percaya, bahwa yang terbaik akan menimpa kita.  Begitu sederhana tapi palung.

Dalaaaaaaaaaam.

Sang Buddha pernah mengingatkan: “Kesabaran adalah tapa yang tertinggi” (Dhammapada, 184). Sabar yang dimaksud adalah bukan berarti sabar menanggung rasa sakit, namun sabar dalam artian laku sederhana mengamati tanpa terlibat dengan cara apapun. Kesabaran sejati ketika segala sesuatu lenyap dan menjadi hening. Saat ego pupus.

Ketika untuk menjadi seseorang, kita harus melakukan sesuatu.  Namun saat berhenti melakukan sesuatu, ketika keadaan sabar penuh, kita akan lenyap. Menjadi seseorang yang tak terdefinisikan masa lalu dan terpenjara harapan dan rencana masa depan.

Apakah hal ini sesuai dengan keadaan dunia modern? Ketika untuk duduk diam pun ada ongkos yang harus dibayar?

Tantangan hidup saat ini jauh lebih mengerikan. Semuanya soal pilihan. Meringkuk di dalam goa, atau berteduh di bawah pohon rindang, dan menenangkan pikiran di puncak gunung. Atau kita maju ke medan perang, hidup bermasyarakat dengan segala tantangan dan tentengan.

Ini yang disebut oleh Mohamad Sobary dengan Kesalihan Sosial. Tidak hanya menghadap Tuhan, namun berjuang dalam hingar-bingar kehidupan. Berupaya menjalani hidup dan mewarnainya dengan iman. Mencari makan dengan benar dengan cara mencari rejeki dengan benar dan lalu mengeluarkan rejeki itu juga di jalan yang benar. Dengan hasrat yang terus dijaga, dirawat dan tumbuh dengan sewajarnya.

Bahagia di tengah keramaian pasar. Bahagia yang tak menyendiri, namun berupaya meraihnya bersama-sama orang lain, tanpa kecuali. Membumikan nilai-nilai kebenaran dan menterjemahkan bahasa langit agar bisa nyaman dikenakan seperti sandal jepit.

Toh inilah hidup. Terkadang hal yang indah dalam hidup adalah ketika tindakan terbaik yang kita terima bisa berasal dari orang luar yang tak ingin dibalas. Juga kebalikannya, ketika rasa sakit yang kita derita berasal dari seseorang dalam hidup dan begitu memperhatikan kita.

Akhir kata, semoga kita memperoleh bahagia lahir maupun batin. Bahagia kehidupan di dunia maupun setelahnya. Hidup bahagia secukupnya. Karena manusia, punya hak untuk bahagia. Tentu saja, bahagia dengan caranya masing-masing.

Salam bahagia di Sabtu yang hangat,

Roy

 

Posted in: @linimasa

9 thoughts on “En Kol Chadásh Táchat Hashámesh Leave a comment

Leave a Reply