Ambisi

Seorang teman pernah berujar ke pasangannya, “Kamu itu orang yang gak punya ambisi dalam hidup! Bahaya! Mau jadi apa kalo gak punya ambisi?” Pertanyaan itu, yang kemudian mereka taruh di media sosial dengan tambahan icon senyuman, membuat saya tersenyum kecut. Dalam hati saya membatin, “Waduh. Lha apa kabar saya yang memang gak punya ambisi dari dulu?”

Waktu remaja, salah satu film yang pernah saya tonton adalah film Sabrina versi daur ulang buatan tahun 1995. Secara keseluruhan, film Sabrina versi warna memang tidak seistimewa versi aslinya yang hitam putih tahun 1954, namun ada satu adegan yang menempel di ingatan sampai sekarang.

Alkisah Sabrina (Julia Ormond) baru saja pulang dari berlayar bersama Linus Larrabee (Harrison Ford). Saat sampai di rumah, dia mendapati ayahnya, Mr. Fairchild (John Wood) membaca majalah. Mr. Fairchild sendiri adalah supir keluarga di rumah Linus. Mr. Fairchild dan Sabrina sendiri tinggal di sebuah rumah kecil, semacam cottage, di kompleks rumah milik keluarga Larrabee yang luas. Rumah ini diisi oleh banyak jurnal dan buku, yang seakan mengelilingi Mr. Fairchild.

Setelah berbasa-basi menanyakan bagaimana perjalanan Sabrina, Mr. Fairchild kembali diam dan tenggelam dalam bacaannya. Sabrina melihat ayahnya sambil tersenyum.
Lalu dia berkata,

“I love so many things about you, Dad. But you know what I love best of all? You became a chauffeur because you wanted to have time to read. All my life, I’ve pictured you… sitting in the front seat of a long succession of cars… waiting for the Larrabees and reading.”

Mr. Fairchild mendongak sesaat, tersenyum seolah membenarkan perkataan Sabrina barusan. Menjelang akhir film nantinya, Mr. Fairchild memberikan uang yang cukup banyak agar Sabrina bisa pergi dan tinggal di Paris. Sabrina kaget melihat uang itu. Ayahnya menjelaskan, bahwa uang itu adalah hasil tabungan dia bertahun-tahun. Tak sekedar menabung, karena selama menyupiri keluarga Larrabee bertahun-tahun, dia selalu mendengar dari kursi supir tentang saham, pasar modal, dan obrolan bisnis lainnya yang dilontarkan lewat telepon oleh keluarga Larrabee di belakang kursinya. Hasil pendengaran itulah yang kemudian dia tabung dan investasikan, sambil terus membaca buku, koran dan majalah di sela-sela menunggu majikannya.

Sabrina (Courtesy of Snakkle.com)
Sabrina (Courtesy of Snakkle.com)

Dan semua musik yang kita dengar, film yang kita tonton dan buku yang kita baca waktu kita berusia anak-anak sampai remaja akan mempunyai pengaruh yang lebih kuat dibandingkan dengan apa yang kita konsumsi di umur 20-an dan seterusnya. Maklum, saat itu otak kita masih dalam fase berkembang dan menyerap lebih kuat terhadap segala yang kita rasakan. Itulah yang lantas jadi patokan saya dalam menjalani hidup, yaitu punya waktu cukup.

Seiring berjalannya waktu, ternyata waktu bukan urusan sepele. Uang bisa terus menerus dicari, tapi waktu yang hilang tidak akan pernah kembali.

Punya waktu cukup untuk membaca buku dan menonton film tidak bisa hitung secara kuantitas. Apalagi kalau kita sering terjebak dalam kemacetan tak berujung. Waktu adalah alat ukur yang tak ternilai. Kalaupun dipaksa dinilai dengan uang, maka jumlah uang seberapapun tak akan pernah bisa menggantikan.

Buku yang baik, film yang bisa dinikmati, musik yang bisa didengar, serta pasangan hidup atau keluarga yang bisa bikin kita bahagia, adalah investasi waktu.
Dan waktu juga yang menentukan, apakah investasi kita terhadap semuanya ini adalah investasi yang sukses, atau malah “bodong”. Tidak ada yang tahu.

Thus, my ambition is time.

Saya sering membeli buku dan blu-ray, serta menonton film di bioskop. Punya uang yang pas untuk membeli dua hal itu, tentunya setelah kebutuhan rumah dan makanan terlengkap, sudah lebih dari cukup. Masih sehat dan punya waktu untuk mengkonsumsi semua, that is a blessing. Tentu saja akan banyak tambahan keinginan setelah ini, seperti pengen punya pasangan yang mengerti kegemaran kita, pengen upgrade koleksi film, pengen beli rak buku baru, dan lain-lain. But let’s go back to the basic: is there enough time?

Selamat Tahun Baru (lagi). Selamat menata hidup kembali.

Iklan

10 thoughts on “Ambisi

  1. Seperti juga rasa,
    Hal yg merupakan buah dr pikiran tidak mudah untuk dideskripsikan

    Orang hanya ingin dengar apa yg mereka ingin dengar,
    Bicara yg mereka ingin katakan,
    Memandang yg kebanyakan terlihat,
    Menelan apa yg diasumsikan enak.

    Nikmatilah sewajarnya porsi,
    Asal tidak merugikan sesama,

    Selamat merevisi resolusi 😉

    Nikmati se

    Suka

  2. Ambisi lebih sering diartiin sebagai “drive” seseorang untuk ngejar kesuksesan. Tapi yang saya rasa selama ini, definisi sukses itu sangat terbatas, penilaian sukses hanya dilihat dari aspek finansial dan profesional–posisi di kantor sebagai apa, seberapa besar rumah kita, punya mobil engga, biasa makan siang kemana, yadda, yadda. Akhirnya, kita yang gak punya ambisi ngejar itu dicapnya gak punya ambisi sama sekali. Padahal pengertian sukses itu luas, begitu juga dengan ambisi.

    Saya belum pernah nonton film Sabrina yang disebutin Kang Nauval tapi saya bisa relate ke Mr. Fairchild. Saya don’t mind kerjain sesuatu yang simple, don’t mind punya kerjaan yang gak “cool,” asalkan saya punya waktu untuk ngelakuin yang saya suka, ya kaya misal baca atau nonton film.

    Yang paling penting, menurut saya, kita tau aja apa yang kita value dalam hidup, abis dari situ baru deh netepin ambisi.

    “Uang bisa terus menerus dicari, tapi waktu yang hilang tidak akan pernah kembali.” Ini bakal saya inget terus. Thanks for sharing. Happy New Year! 🙂

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s