Mari Bermuka Tembok

Tidak untuk memperingati kelahiran siapa pun, bukan pula untuk merayakan sebuah pencapaian spiritual apa pun. Demikianlah Tahun Baru Imlek, momen tahun baru dalam penanggalan bulan ala Tionghoa, yang masih kerap dijuluki “hari rayanya orang Cina” di Indonesia. Hari raya yang bukan gara-gara agama.

Namun bukan cuma penanda hari pertama di bulan pertama, Sin Cia (新正) menjadi semacam hasil kodifikasi budaya, yang prosesnya terus bergulir sejak lebih dari 5 ribu tahun lalu.

Mau dilihat dari sudut pandang yang mana? Budaya peradaban agraris? Historis dan politis? Religius? Mitologis? Feodalisme Tiongkok kuno? Sosialisme Republik Rakyat Tiongkok? Kapitalisme bisnis “Made in China”? Atau dilihat sebagai oasis di tengah represi Orde Baru? Sembarang aja.

Berfungsi ganda, Tahun Baru Imlek juga merupakan perayaan menyambut datangnya musim semi, waktunya para petani untuk kembali berladang. Memberikan pemaknaan yang literal untuk kata “baru”. Perayaan ini mulai dikenal pada masa Dinasti Xia (2070-1600 SM), rezim semi-mitologis penyusun dasar kebudayaan Tionghoa. Setelah Dinasti Xia runtuh, skema penanggalan Imlek selalu berubah sesuai kemauan penguasa.

Menjadi penanda zaman dan simbol kekuasaan, permulaan tahun Imlek diambil sesuai waktu berdirinya suatu dinasti. Di masa Dinasti Han (206 SM-220 M), penanggalan Imlek disusun ulang dan distandarisasi menggunakan tahun kelahiran Kongzi (孔子) atau Khonghucu (孔夫子) sebagai permulaan. Ini sebabnya para penganut Khonghucu menggunakan istilah Kongzili (孔子曆) yang secara harfiah berarti “Penanggalan Kongzi”.

Dengan demikian, siapa saja, selama memiliki darah Tionghoa dan masih mengakuinya, berhak untuk merayakan Tahun Baru Imlek. Tanpa sekat agama. Plus dengan catatan tambahan: kalau mau merayakan. Pasalnya, tak sedikit yang kadung salah paham, menganggap Sin Cia sama seperti hari raya-hari raya pada umumnya. Harus ada sembahyang khusus, mesti begini ndak boleh begitu, dan seterusnya. Padahal, bagi yang masih menganut kepercayaan tradisional Tionghoa, atau Khonghucu, atau Buddhisme Mahayana, dan sejenisnya, tentu akan mewarnai Sin Cia dengan sembahyang tertentu. Namun bagi orang Tionghoa yang Muslim maupun Kristen, terlebih dari gereja yang menajiskan hio dan sajen altar leluhur, Tahun Baru Imlek ya dirayakan dengan berkumpulnya seluruh anggota keluarga lintas generasi, serta menyambung silaturahmi. Sebuah identitas budaya. Wahana untuk saling menguatkan kala rezim Soeharto. Ketika harus bikin surat izin tidak masuk sekolah, biar bisa Imlekan.

Terima kasih kami untukmu, Gus Dur.

Terlepas dari semua latar belakang tersebut, kini Tahun Baru Imlek hanya menjadi hari raya. Cenderung lebih berasa rutinitas seremonial saja. Tanggal merah, waktunya liburan bagi yang tidak merayakan, dan saatnya untuk kembali berkumpul dalam suasana perayaan. Hiruk-pikuk terjadi di dalam griya-griya orang Tionghoa. Seisi rumah bersih-bersih, seluruh anggota keluarga bersiap-siap, semua hanyut dalam kerepotan tahunan.

Para remaja dan pemuda Tionghoa yang sekolah, kuliah, atau kerja di luar kota maupun luar negeri, harus siap-siap mudik. Wajib, ketimbang disumpahi durhaka oleh orangtua. Mereka yang ngekos di pusat kota pun mesti pulang ke daerah penyangga.

Enaknya, suasana menjadi ramai. Ada keakraban dan kehangatan. Canda tawa, senda gurau, bermain dengan keponakan-keponakan lucu, temu kangen dengan teman-teman, mendengar cerita tempo dulu yang inspirasional atau meninabobokan, nonton dan ngakak bareng nonton filmnya Stephen Chow, makanan dan minuman lezat berlimpah, serta mendapat angpao (紅包).

Enggak enaknya, siap-siap untuk mengerahkan kemampuan tebal kuping dan muka, serta tidak gampang tersinggung. Menghadapi pertanyaan “mana pacarmu?” dari Shushu1) (叔叔) yang bila dijawab “belum” akan langsung disambut dengan tawaran untuk dikenalkan dengan anaknya si ini dan itu, pertanyaan “kapan kawin?” dari A-yi2) (阿姨), pertanyaan “sekarang kerja apa?” dari Yipo3) (姨婆), mendengar mereka saling adu keren berlibur ke Eropa atau Kanada, terpaksa menyimak A-Khiu4) (阿舅) menceritakan tentang anaknya yang tidak bisa pulang karena masih kuliah di Melbourne, atau melihat para sepupu laki-laki yang mempromosikan hasil modifikasi mobil masing-masing. Bila diambil sisi positifnya, ya barangkali mereka memang perhatian dan peduli, bukan kepo. Bisa juga mereka sedang berbagi informasi, supaya kita mencoba berlibur ke Eropa atau Kanada, kapan-kapan. Termasuk menunjukkan bahwa kemajuan teknologi sudah sedemikian canggih, mulai urusan gawai digital sampai mobil dua kursi yang tanpa bak belakang tentunya. Masih lebih baik sih, dibanding pamer pacar masing-masing, yang bikin pangling kalau enggak pakai gincu-bedak.

Sayangnya, semenjak Tahun Baru Imlek terang-terangan menjadi hari libur nasional, justru urusan enggak enak seperti di atas yang lebih mencuat. Bukan antara orangtua-anak-saudara kandung, melainkan dengan para famili yang cuma ketemu setahun sekali. Gara-gara ini, makin banyak orang Tionghoa yang memilih menghabiskan libur Tahun Baru Imleknya ke luar kota atau luar negeri bersama keluarga inti. Juga banyak muda mudi Tionghoa yang langsung cabut setelah memberi sungkem Tahun Baru Imlek serta permohonan maaf kepada orangtua. Apakah salah? Technically, no. Cuma ya sayang aja, momen yang harusnya sukacita gembira ria, eh malah bikin dongkol.

Kalau sudah begini, akan lebih baik bila kita–para cokin–bersikap lebih bijak. Jika pernah dibuat sangat risi dan terganggu dengan celetukan dan pertanyaan orang, jangan sampai celetukan dan pertanyaan itu terlontarkan ulang dari mulut kita sendiri. Biarkan Tahun Baru Imlek tetap menjadi momen yang menyenangkan dan menggembirakan, meskipun dalam keadaan yang pas-pasan.

Anyway, selamat menyambut Tahun Baru Imlek.

恭喜發財

新年快樂

Boleh comot punya jiran, lucu sih.

[]

1) Adik laki-laki ayah

2) Adik perempuan ibu

3) Adik perempuan nenek dari ibu

4) Adik laki-laki ibu

Iklan

5 thoughts on “Mari Bermuka Tembok

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s