Kukayuh Bukit Menanjak dan Kutemukan Hamparan Luas Hijau Rumput Ilalang Dengan Matahari Bersinar Cerah dan Jalan Setapak di Antaranya

“If you see the teeth of the lion, do not think that the lion is smiling at you.”

Kalimat ini disampaikan penyair Al Mutanabbi Al Kindi. Penyair yang dikenal egomaniak. Bombastis. Pada akhirnya ia mati terbunuh. “I am the one whose literature can be seen (even) by the blind.  And whose words are heard (even) by the deaf. The steed, the night and the desert all know me. As do the sword, the spear, the paper and the pen.”

Saat itu satire belum begitu diterima masyarakat. Apalagi Arab. Sepertinya saat ini pun kecanggihan intelektual agak tersendat  zaman internet, yaitu ketika satire tak lagi dipahami. Era nerdifikasi. Lenyapnya sarkasme karena pikiran-pikiran yang terlalu mekanistik menerima hinaan secara literal.

Padahal seni menghina adalah seni yang begitu menggugah selera dan menimbulkan daya tarik ketika kemampuan seseorang dalam menghina tanpa menyinggung;  Sedangkan naif adalah kebalikannya. 

Mari kita buktikan. Apakah Anda naif atau tidak.

Tiga kecanduan paling berbahaya adalah kecanduan heroin, karbohidrat, dan gaji bulanan.

Hal tersebut kita peroleh dari orang yang berpandangan luas, Karl Marx. Dia menyadari bahwa budak bisa lebih mudah dikendalikan kalau dia diyakinkan bahwa dirinya adalah pegawai. Namun, tentu saja berbeda antara budak zaman Romawi dan Osmani dengan pegawai zaman sekarang. Sebab, budak tidak perlu menjilat tuannya.

” Mas, mas, sekarang bukan zamannya lagi menjilat mas. Anda keliru”.

Apa dong?

“Sekarang jamannya nyebokin bosnya”.

Oke. Lanjuuuut.

Jika Anda tak menganggap dan mengangguk setuju bahwa pekerjaan adalah perbudakan sistemik, artinya Anda buta.  Atau punya pekerjaan.

Tapi hal itu tak perlu diambil pusing. Toh, saat ini adalah zaman modern, dimana kita ciptakan generasi muda tanpa kepahlawanan, umur tanpa kebijaksanaan, cinta tanpa pengorbanan, dan kehidupan tanpa kemuliaan.  Ini zamannya kecanggihan teknologi. Bedanya teknologi dan perbudakan itu kan hanya pada bahwa budak sadar mereka tidak merdeka.

Jika pun Anda menolak soal ini tak apa. Anda perlu mengingatkan diri Anda akan sesuatu yang jelas: daya tarik berada pada yang tak dikatakan, tak ditulis, dan tak ditampilkan. Perlu keahlian untuk mengendalikan kesunyian.

IMG_8777

Cara berpikir orang era modern itu sejatinya konyol. Namun, sayangnya mereka tak menyadarinya. Atau memang konyol sejak lahir dan tumbuh terus saat dibesarkan.  Peristiwa biasa adalah ketika seseorang datang ke hotel dan meminta barang bawaannya dibantu seorang portir. Menjadi aneh ketika menemui orang tersebut di sore hari sedang asyik angkat beban di gym.

Sama halnya dengan pegawai kantoran yang mengeluhkan susahnya mencari slot parkir mobilnya. Mereka harus datang pagi, untuk saling berebut. Selanjutnya setelah mobilnya aman dan nyaman, mereka akan sibuk dan bergegas olahraga pagi: berlari, main basket atau ngegym.

Orang dari kelas super keren akan selesaikan dengan satu gigitan: Berangkat kerja gunakan sepeda lipat. Olahraga sejak keluar rumah dan menertawakan yang berebut parkiran sembari menaruh sepedanya di kolong meja. Setelah itu bisa bebas duduk leyeh-leyeh, sembari menunggu jam kerja. Bagi sebagian orang, termasuk saya, ukuran sukses salah satunya adalah berapa banyak waktu yang Anda buang.

Semakin banyak orang pandai tapi sebetulnya mereka adalah akademisi yang beruntung bekerja di berbagai institusi. Mereka pandai, namun jauh dari kata jenius. Apalagi super keren.

Imajinasi orang jenius jauh melebihi kecerdasannya.  Tapi kecerdasan akademisi jauh melebihi imajinasinya. Hanya sedikit mengingatkan bahwa empat orang modern paling berpengaruh Darwin, Marx, Freud, dan Einstein adalah cendekiawan tapi bukan akademisi. Memang sulit membuat karya yang murni ketika berada dalam institusi.

Celakanya, orang pandai bisa kelihatan atau nyata-nyata menjadi sangat bodoh. Apalah artinya kepandaian jika tak memiliki keberanian. Orang bodoh memiliki sesuatu yang tak dimiliki orang pandai: Kenekatan.

IMG_8389

Kantor lama saya, sudah saya anggap bubar sejak kedatangan pemimpin baru. Institusi saya bubar. Benar-benar bubar. Karena yang ada adalah sosok pemimpinnya. Institusi yang berubah dengan nilai-nilai yang dianut pemimpin. Institusi lama saya gagal tetap menjadi institusi, ketika menyerah pada keinginan satu dua sosok pemimpinnya. Padahal saya tahu benar pemimpinnya tidak lebih pintar dari bawahannya. Sayang sekali, lama sekolah tinggi-tinggi tak menjadikan banyak orang pandai untuk memiliki sikap berani. Pemimpin macam apa yang peduli pada bagaimana petugas pameran harus mengenakan pakaian. Atau memutuskan tari-tarian apa yang cocok  selama lima menit disajikan, menjelang dirinya akan naik ke atas podium dan mengawali pidato. Saya sedang tidak bicara Agus Martowardoyo lho ini.

Cinta tanpa pengorbanan itu seperti pencurian.

Cinta pada sebuah institusi dengan diam saja atas segala kekonyolan adalah pencuri. Mengharap gaji bulanan tanpa memiliki sikap berani. Untuk mengatakan tidak pada hal-hal yang seharusnya memang wajib dikatakan tidak. Menaruh hormat lah pada orang-orang yang berbuat sesuatu bukan karena kebutuhan, namun karena memang harus melakukan itu karena kewajiban. 

Ketakutan terbesar manusia zaman klasik adalah kematian tak terhormat; ketakutan terbesar manusia modern hanyalah kematian. Dan ketakutan paling konyol orang yang takut mati adalah dimutasi.

Jalan semakin menanjak. Kukayuh lebih hebat. Kuatkan semangat. Persiapkan dengkul lebih kokoh, Paha lebih kencang dan harapan lebih tinggi. Bahwa di atas bukit ada hamparan luas ilalang hijau dan menguning. Di bawah sinar matahari kukayuh sepeda. Jalan setapak yang jarang dilalui orang. Yang terjadi biarlah terjadi. Karena yang tak kita ketahui adalah daya tarik hidup ini.

Akhir kata:

sebagian besar orang perlu melebihi pendahulunya; Saya ingin melebihi orang-orang yang hidup sesudah saya;

Salam hangat di hari Sabtu.

Roy.

 

 

 

Iklan

9 thoughts on “Kukayuh Bukit Menanjak dan Kutemukan Hamparan Luas Hijau Rumput Ilalang Dengan Matahari Bersinar Cerah dan Jalan Setapak di Antaranya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s