#Prinsipmu adalah Harimaumu

Sampai sekarang, Anas mungkin belum terbukti korupsi. Tapi semua menantikan apakah Anas digantung di Monas seperti yang pernah diucapkannya. “Kalau Anas terbukti korupsi, gantung Anas di Monas” ujarnya secara tenang dan meyakinkan. Di media sosial pun ribut membahas soal janji Anas ini. Tapi mungkin kita lupa, Anas tidak sendiri.

Sering kita mengucap atau mendengar ungkapan yang menjadi standar diri untuk kemudian dipatahkan di kemudian hari. Biasanya disertai dengan tagar #prinsip atau #sumpah.
“Pokoknya, gue gak bisa sama cicak (bukan lawan buaya, tapi cina cakep-red.) mau secakep apapun!”
“Gak akan gue makan di restoran itu lagi! Sumprit gak enak banget. Njis!”
“Amit-amit jangan sampe gue pake atau jadian sama yang pake Crocs!”

Ada yang menyebutnya karma, ada pula peribahasa “menjilat ludah sendiri” ketika #prinsip itu dipatahkan oleh yang mengucapkannya sendiri. Dan sesungguhnya hampir semua manusia pernah melakukannya. Dunia berubah, manusia apalagi. Manusiawi saja.

Lalu apa yang membedakan #prinsip yang satu dengan #prinsip yang lain. Sederhananya, yang satu mengucapkannya dengan lantang, yang satunya lagi menyimpannya dalam hati. Ada yang secara masif dan meyakinkan mengumbarnya di media sosial, ada pula yang membicarakannya di ruang dan lingkungan tertutup.

Bill Bernbach pernah berujar “prinsipmu adalah prinsipmu sampai uang yang mematahkannya”. Sebegitu murah kah #prinsip dipatahkan?

Dulu, ada yang anti sama yang namanya buzzer. Semua buzzer di media sosial pernah kena nyinyirannya. Klien diserang, agency dipertanyakan. Seperti hendak menabuh genderang perang. Seluruh jadag raya harus tau aja pokoknya.

Sampai suatu saat, dia tergiur dengan tawaran uang yang tidak sedikit. Maka jadilah dia buzzer. Aktif pula. Uang pun masuk ke koceknya. Dia pun berhenti nyinyir.

Pernah di suatu masa, seorang celebtweet di media sosial menghina sendal karet bermerk Crokz mati-matian. Baginya, sendal itu adalah kejahatan fashion terbesar abad ini. Dan dia bersumpah, tak akan pernah bisa jatuh cinta pada orang yang mengenakan sendal Crokz.

Sampai suatu hari dia mendapat tawaran pekerjaan dengan posisi dan gaji yang tak terelakkan. Tawaran itu segera diterima tanpa basa-basi. Dengan prestasinya yang gemilang, dia pun dipindah bagian: marketing Crokz!

Tak hanya berkewajiban memasarkan sendal itu, dia pun diwajibkan untuk mengenakannya saat sedang berkunjung ke setiap toko. Dan saat harus mempromosikannya di media sosial, para pengintilnya pun mengernyitkan dahi.

Dulu, seorang teman sangat anti dengan hipster. Semua acara hipster tak luput dari umpatannya. “Aku ndak mau masuk ah, jijik aku!” Katanya ketika diajak masuk sebuah toko yang dicap sebagai tokonya hipster. Tak berhenti di situ, selera para hipster pun dipertanyakan. Gaya berdandan hipster dicemooh. Makanan hipster dilecehkan.

Sampai suatu saat, pekerjaannya sebagai race organizer menyelenggarakan fun run. Acara yang tentunya, dipenuhi oleh para hipster, terbilang sukses berat! Untung milyaran pun diraupnya. Tentunya, fun run berikutnya dan berikutnya akan terus diselenggarakannya. Bahkan, dia telah menjadi idola para hipster ibukota.

Tapi dia aman. Karena ketidak sukaannya pada kaum hipster hanya lantang disampaikan di meja cafe di depan teman-teman dekatnya. Mentok hanya sampai celotehan di Path. Dan bukan tidak mungkin sampai sekarang pun dia masih membenci kaum yang menurutnya tidak masuk akal dan sulit dipahami. Keras kepala. Maklumlah, namanya juga orang tua.

Dulu, seorang teman tak pernah mau jatuh cinta. “Orang jatuh cinta itu lemah! Aku ndak mau lemah!” Sampai seorang berondong asal Surabaya melemahkan hatinya. Dan sudah 1,5 tahun ini, teman ini pasrah dalam kelemahannya.

Bedanya, karena #prinsip tadi hanya diutarakan ke teman-teman terdekat, selamat lah dia dari bully-an media sosial. Apalagi setelah disogok traktiran makan siang, semua temannya pun tutup mulut. Demi kelangsungan hubungan percintaannya.

Seandainya Bilk Bernbach masih hidup, dia akan merevisi sabdanya “#prinsip adalah #prinsip sampai uang dan cinta yang mematahkannya.”

Manusia tanpa #prinsip atau pendapat pun ibarat tubuh tanpa tulang punggung. Melambai ke mana angin membawa. Tapi mengutarakannya secara lantang bahkan dengan kekerasan, tak beda dengan FPI. Ekstrim dan lebih sering menyakitkan telinga dan hati orang.

Manusia berubah, dunia berubah. Tidak ada yang bisa tahu jembatan mana yang harus kita seberangi di kemudian hari. Menyakiti orang ibarat membakar jembatan. Semakon banyak jembatan yang dibakar, bukan hanya memperlama perjalanan sampai ke tujuan, tapi bisa jadi tak pernah sampai tujuan. Bukankah selamanya kita membutuhkan orang lain? Baik saat berhasil atau pun gagal.

Iklan

6 thoughts on “#Prinsipmu adalah Harimaumu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s